Cara Cantik Memutuskan Pasangan

Sobat Bronis, jengah gak sih, udah enak-enak ngejalanin hubungan romantis sepersekian tahun dan ujung-ujungnya ketemu jalan buntu yang akhirnya terpaksa harus selesai. Apalagi kalau alasannya bukan dari satu pihak, tapi justru datang dari pihak lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan drama percintaan kita. Bukan karena perselingkuhan ataupun sejenisnya, namun lebih karena prinsip dan ideologi yang berbeda.  

Syukur-syukur kalau kedua belah pihak bisa saling memahami dan mau saling mengerti, bahwa ada sisa hubungan yang harus diselesaikan dengan baik-baik. Namun apa jadinya kalau ternyata, hanya satu dari kita yang sudah siap dengan status baru sebagai seorang lajang yang terlahir kembali. Sementara calon mantan kita belum tentu siap dengan konsekuensi diputuskan.    

Mengakhiri hubungan asmara bukanlah perkara gampang, karena banyak sekali alasan yang menjadi dasar mengapa kita ingin memutuskannya. Apalagi kita sebagai bagian dari komunitas LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender) yang masih banyak ditempeli stigma-stigma terkait dalam urusan relasi seksual ataupun relasi romantis. Memang sih, kondisi ini juga rentan sama rata dialami oleh sobat lain non-LGBT. Namun ada kalanya kita akan sedikit ngebahas untuk ranah LGBT terlebih dahulu.  

Bagaimana kita bersikap dalam mengakhiri hubungan berpacaran:  
1. Menyiapkan jawaban atas seribu pertanyaan
Dengan memilih putus, sobat Bronis seharusnya sudah disetting untuk siap menjawab segala pertanyaan tentang segala penyebabnya kenapa bisa putus. Karena tanpa alasan yang jelas, hal itu akan mengakibatkan tanda tanya besar yang bukannya menyelesaikan masalah justru semakin menambah masalah. Jadi sobat Bronis juga harus siap menerima perubahan yang akan terjadi di masa depan. Persiapkan pula rasa kecanggungan yang mungkin akan terjadi setelah hubungan berakhir.  

2. Stay Cool
Mutusin pasangan saat sedang emosi meninggi itu layaknya ngajak perang, alhasil bakal semakin runyam. Walaupun hal tersebut merupakan salah satu penyebab mengapa sobat bronis ingin memutuskannya, namun jangan lakukan dalam kondisi sedang marah. Siapa sih yang ingin diputusin dengan diteriakin keras-keras? Ada suara gak mau ngalah. Sama-sama emosi. Ada baiknya tunggu tenang dulu. Kalau sudah tenang baru deh diungkapkan secara tenang namun penuh ketegasan. Diyakini hal tersebut lebih baik ketimbang sambil marah-marah. Malah dampaknya akan menimbulkan dendam, dan lebih parahnya lagi akan menciptakan hal-hal yang tidak diinginkan.  

3. Jangan Drama di Depan Umum
Memutuskan pasangan di tempat umum hanya akan membuat pemandangan yang tidak enak dilihat di tengah keramaian. Bawalah dia ke tempat yang sifatnya pribadi, hanya ada sobat Bronis dan dia berdua saja karena publik tidak perlu mengetahui apa yang terjadi. Keadaan ini akan berbeda jika sobat bronis ingin memutuskan pasangan yang cenderung melakukan kekerasan atau little bit Psycho. Justru untuk kasus yang satu ini, sobat Bronis harus memposisikan tempat kejadian di area padat orang. Hal ini untuk menghindari tindakan-tindakan yang fatal dan demi keselamatan sobat Bronis. Yang jelas, sobat Bronis tahu kapan waktu yang tepat buat memainkan drama-nya.  

4. Fokus pada inti permasalahan
Bodoh saja ketika kita ingin memutuskan hubungan dengan pasangan kita, namun kita sendiri mengulik-ngulik indahnya kenangan masa lalu yang dilalui bersama. Jadi hindari topik itu dan tetap fokus pada inti permasalahan dan tujuan. Jangan membicarakan hal-hal yang seakan-akan bahwa yang sudah rusah masih bisa diperbaiki. Sobat Bronis ingin memutuskan relasi karena merasa bahwa hubungannya sudah tidak sehat. Apabila hubungan sudah tidak sehat lagi, maka tidak perlu berpikir panjang. Karena memang jalan yang terbaik adalah harus mengakhiri dan membuat langkah baru. Yang lebih sehat tentu saja. Bicarakan kegagalan. Bicarakan ketidak-cocokan, obrolkan ketidak-sepahaman.  

5. Bersikap Sopan
Dengan bersikap sopan, hal ini akan menambah nilai plus sobat Bronis. Karena dengan cara ini, pasangan setidaknya akan mengikuti sikap kita, itu pun kalau dia mau bersikap lebih dewasa atau bijaksana. Tetap tenang dan berkepala dingin, ini yang harus tetap dijaga, karena tidak menutup kemungkinan si dia akan muncul perasaan dongkol atau kesal yang bisa muncul tiba-tiba hingga teriak-teriak untuk meluapkan emosinya, ingatlah bahwa sobat Bronis telah bersikap sopan dan dewasa kepadanya. Kalau saja pasangan kita semakin tidak stabil dalam bersikap, toh kita semakin punya alasan yang jelas untuk memutuskannya.  

6. Pikir Ulang sekali lagi – Yakinkan diri
Tentu saja sebelum melakukan beberapa poin diatas, terlebih dahulu utamakan lagi poin yang satu ini. Yakin kan diri. Kumpulkan segala sebab atau alasan kuat kenapa sobat Bronis memutuskan untuk memilih mengakhiri hubungan. Jangan sampai, mendadak tiba-tiba timbul penyesalan lantaran dari kita-nya yang ternyata larut dalam drama dan emosi tingkat tinggi. Sehingga bias, seolah-olah pihak yang dipersalahkan adalah si dia, padahal kenyataannya justru kita sendiri lah yang menjadi biang kerok dari semua ini. Jadi pikir matang-matang sebelum mengambil keputusan. Tidak ada ceritanya penyesalan selalu datang tepat waktu, penyesalan selalu datang terlambat.    

7. Putuskan Secara Langsung
Maksudnya, jangan pernah sekali-kali mutusin seseorang hanya sekedar lewat telepon apalagi SMS/Whatsapp/BBM. Jangan mentang-mentang dunia sekarang lagi demen-demennya era digital-online, mutusin anak orang pun secara online. Alemong, bikin sakit hati yang ada. Kita sendiri juga gak mau kali, diputusin pasangan hanya bermodal SMS. “Yang, kita putus” dan malapetaka perang Bharatayudha pun berkecambuk. Jadi sobat Bronis, jangan menjadi sadis dan egois. Ambil sikap, temui langsung dan utarakan maksud. Bagaimanapun juga bertatap muka langsung akan berakhir lebih baik (seharusnya) dan dia akan menghargai keputusan sobat bronis.

Well, sobat Bronis, selamat mengambil keputusan dan terus berproses!


Oleh: Yuni Mashito
Tuesday, March 3, 2015
Tag : ,

Sedikit Tentang Cinta

Sobat Bronis, pasti sedikitnya pernah kan merasakan apa itu namanya jatuh cinta? Perasaan menyayangi seseorang dengan kadar sayang lebih intens dari pada rasa sayang ke sahabat atau orang terdekat lainnya. Banyak yang mengamini, kalau proses berpacaran adalah menjadi salah satu indikator bahwa masa depan bakal lebih cerah. Akan dengan jelas terlihat bayangan bahwa bentuk kehidupan ke depan kita mau menjadi seperti apa. Sebagian dari sobat Bronis mengatakan bahwa hidup berkesendirian tidak lah mengapa, namun alangkah indahnya kalau hidup di dunia yang katanya sekali ini, dihabiskan bersama-sama dengan orang terkasih. Siapa yang tidak menginginkan itu? Pasti sebagian dari sobat bronis mendambakan hal tersebut bukan?  

Well, terkadang hidup tidak seindah suara Sam Smith. Pasti ada saja hambatan dan juga kegagalan dalam menuju puncak proses kehidupan. Relasi yang sudah terjalin sekian tahun, bisa saja selesai dengan satu sebab yang tidak termaafkan dan ditolerir. Di satu sisi, sobat Bronis susah mengambil keputusan, haruskah berakhir, ataukah kembali untuk memaafkan dan dengan konseksuensi besar, akan ada pengulangan-pengulangan kesalahan yang bisa saja terjadi lagi.  

Tentu saja hal tersebut tidak hanya diterapkan pada kehidupan heteroseksual. Di kalangan homoseksual pun, sistem relasi juga tidak ada bedanya. Yang membedakan hanyalah orientasi seksual semata. Bahkan kalau merunut pada ranah seksualitas, ada banyak keragaman yang sobat Bronis perlu untuk dipahami. Bahwa kisah cinta yang seharusnya terjadi di muka bumi ini, bukan monopoli gender biner dan orientasi heteroseksual semata.    

Perlu kita sadari, jauh sebelum istilah agama dan keyakinan itu muncul, cinta sudah terlebih dahulu ada dengan melengkapi fungsi dari sebuah relasi. Terbentuknya koloni purba yang pada akhirnya berkembang biak dan berevolusi menjadi kita yang sekarang, itu pun atas jasa cinta. Keyakinan atau pun agama dimunculkan karena pada awal fungsinya untuk mendamaikan dan menjadi pegangan bahwa ada kuasa yang lebih besar dari semua tragedi yang akan terjadi di dunia ini nantinya. Terlepas akhir-akhir ini ada beberapa agama yang digeserkan fungsinya menjadi menyeramkan. Bukan lagi memberikan jaminan perdamaian.  

Sobat Bronis, mari kita renungkan sejenak. Cinta bukan lah seperangkat media kejahatan. Cinta adalah satu bukti nyata bahwa ada sebuah media yang bisa dengan begitu gamblang namun sekaligus pelik untuk menggambarkan rasa suka kita antar sesama. Saking susahnya kita mengungkapkan, terkadang menjadi bumerang. Yang pada akhirnya cinta mengalami mutasi rekayasa rasa, sehingga timbul pula penolakan atas nama cinta. Karena tidak semuanya cinta itu tentang memberi dan menerima. Sesekali cinta menjadi tragis karena hanya membagi rasa, tak harap kembali berbagi. Hanya bisa mengagumi dan tak harap ada timbal balik. Karena cinta tidak bisa dipaksakan. Walau sering ada yang bilang, cinta muncul karena dibiasakan. Dan begitulah... selalu saja ada jalan untuk menemukan cinta. Kita tidak akan pernah tahu dimana rasa itu datang. Sobat Bronis juga tidak akan bisa menduga kapan cinta itu pergi.    

Sekali lagi, cinta itu milik siapa saja. Cinta bisa datang tiba-tiba muncul dari balik kerudung. Bahkan dari cara jalan seorang lelaki pendiam. Atau malah dari senyuman renyah seorang aktivis waria.     Jadi, bebaskan lah cinta. Jangan ada belenggu. Cinta tak ada yang terlarang. Cinta itu membebaskan, melebihi kadar kesetiaan itu sendiri. Temukanlah cinta dengan cara yang indah. Jangan takut jatuh cinta. Meskipun terlahir berbeda.  

Selamat berjuang atas nama cinta.


Oleh: Yuni Mashito
Sunday, March 1, 2015
Tag : ,

6 Cara Lo Bisa Tertular HIV #GueBerani

Kita telah mengetahui bahwa penularan HIV hanya dapat melalu cairan darah, cairan kelamin, dan air susu ibu. Namun, selain itu ada beberapa hal juga yang dapat mempermudah kita untuk tertular HIV, yaitu asumsi. Orang awam kadang membuat pandangan bahwa orang dengan HIV memiliki ciri-ciri tertentu seperti tubuh kurus, penyakitan, dan sebagainya yang padahal orang dengan HIV tidak memiliki ciri-ciri khusus. Yang lebih parah adalah kesadaran orang muda mengenai status HIV-nya, sebagian dari orang muda dengan HIV+ tidak peduli dengan statusnya dan tidak peduli dengan kondisi kesehatannya dikemudian hari. Brondongmanis akan membahas asumsi-asumsi yang membuat kita mudah tertular HIV:  

Lo Pikir Doi Setia? 
“Ngapain pake kondom? Gak enak tau, aku kan cuma main sama kamu doang.”
Ketika kamu menjalin hubungan monogamy, satu pasangan. Jangan pernah berasumsi bahwa dia adalah orang yang setia. Karena kebanyakan orang yang terkena HIV+ menyatakan bahwa mereka awalnya berpikir bahwa pasangan mereka hanya melakukan hubungan seks dengan mereka dan tidak dengan orang lain. Faktanya justru pasangan yang dianggap “setia”lah yang menularkan HIV. Bukan melarang Sobat untuk curigaan dengan pasangan sobat. Lebih baik ketika melakukan hubungan seks sebaiknya menggunakan kondom. Pilihan melepas kondom untuk alasan ini menjadi salah jika bertujuan kepada pro-rekreasi atau having fun.

Doi Gak Tau Kalo Dia HIV+
Beberapa pasangan memilih untuk tidak menggunakan kondom dalam berhubungan seks adalah sebagai bentuk dari kepercayaan kepada pasangan. Juga beberapa pasangan berasumsi bahwa jika menggunakan kodom kurang nikmat dan sebagainya. Anggapan itu salah karena kamu bahkan tidak tahu apa status HIVmu dan pasanganmu. Meskipun kamu rutin melakukan VCT, bukan berarti kamu terhindar dari HIV. Ingat, bahwa lebih dari sebagian orang muda dengan HIV+ tidak mengetahui statusnya dan kurang peduli dengan infeksi akibat HIV+. Oh atau lebih parahnya, malahan kamu yang ternyata HIV+.

Narkoba dan Alkohol Merusak 
Pertimbanganmu selain penggunaan jarum suntik bergantian pada Pengguna Narkoba Suntik yang dapat menjadi media penularan HIV. Narkoba dan alkohol juga dapat mempengaruhi pertimbanganmu untuk melakukan seks atau tidak, bahkan pertimbangan untuk menggunakan kondom atau tidak. Kadang setelah sadar kamu baru menyadari apakah kamu melakukan hubungan seks dengan menggunakan kondom atau tidak, bahkan bisa saja tidak sadar dengan siapa saja kamu berhubungan seksual.

Lo Gak Nanya, Dia Gak Cerita
“Lo positif? Kok gak cerita? Gue kena dong?”
Biasanya, kamu akan berasumsi bahwa orang dengan HIV+ akan membuka statusnya ketika berhubungan seksual dengamu. Namun itu hanyalah asumsimu, dia tidak akan membuka statusnya sejauh itu aman. Namun, orang-orang gagal untuk membuka statusnya, terlebih lagi jika alasannya adalah seks. Jika dia tidak meminta, dia tidak akan memberi tahu. Kamu akan merasa aman jika ia berkata bahwa dia adalah HIV-. Jangan tertipu! Jangan mau melepas kondom hanya karena kamu percaya bahwa dia HIV-, selain kejujuran yang diragukan ancaman IMS juga masih sangat tinggi.

Lo Top? Lo Aman   
Kalo "ngeluarin" kan berarti gak bisa nularin HIV, yang bisa ketularan hanya bottomnya saja. Salah! Faktanya, penularan HIV juga bisa terjadi dari bottom ke top, Menurut studi terakhir, sekitar 1 dari 5 laki-laki yang terinfeksi adalah Top. Dalam hubungan seks anal rawan terjadi pendarahan karena paksaan/perlukaan karena paksaan penis yang masuk, darah yang keluar dapat mudah masuk melalui proses hubungan seks melalui lubang penis si Top.  

Kamu Berfikir, Ini Tidak Akan Terjadi Padamu
Hal yang sama yang pernah saya rasakan, saya pernah berfikir bahwa itu tidak akan terjadi pada saya. Mulanya, ah tidak mungkin tertular jika hanya sekali tidak menggunakan kondom, tapi faktanya saya tertular karena hanya sekali tidak menggunakan kondom. Sekarang menurut saya, semua orang adalah populasi kunci, orang yang rentan terinfeksi HIV.    

Maka dari itu, lakukan test, lakukan pencegahan dengan pasanganmu dan temanmu, dan pedulilah dengan resiko yang kamu hadapi. Kesehatan seksualmu bergantung pada apa yang kamu lakukan.

Sumber: http://www.advocate.com/health/hiv-aids/2015/02/19/6-ways-you-can-get-hiv?page=full


Oleh: Achmad Mujoko
Friday, February 27, 2015

Ketimpangan dalam Relasi

Sobat Bronis, siapa yang tidak ingin memiliki hubungan yang langgeng? Semua orang pasti menginginkannya, terlepas dari orientasi seksual dan identitas gender mereka. Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam menjalin sebuah relasi. Karena tanpa disadari, relasi kita pasti kana membawa banyak dampak pada hidup kita. Siapa yang tidak ingin bahagia bersama orang yang dicintainya? Sayangnya, cinta saja tidak cukup untuk membuat sebuah hubungan bertahan seperti yang kita harapkan.

Apakah sobat Bronis pernah menemukan pertanyaan ini:
- Apa yang kita cari dari sebuah hubungan?
- Apakah kita bahagia?
- Apakah hubungan ini layak untuk diperjuangkan?

Jawabannya pun bisa datang dari berbagai perspektif. Misalnya, karakter kita dan pasangan, kondisi sosial, ekonomi, psikologis, dll. Dari aspek-aspek tersebut, kita dapat melihat apakah terjadi ketimpangan dalam relasi yang sedang kita jalani.

Salah satu bentuk yang paling mudah dilihat dari relasi yang timpang adalah adanya seseorang yang bergantung pada orang lainnya. Misalnya, si A belum bekerja dan ia dihidupi oleh pasangannya. Contoh lainnya, keluarga si B tidak menerima kondisinya sebagai seorang homoseksual. Maka, ia menjadi sangat tergantung dengan pasangannya. Kondisi seperti ini telah banyak ditemui dalam berbagai jenis relasi, baik homoseksual maupun heteroseksual.

Sobat Bronis, kondisi relasi yang timpang ini adalah kondisi yang rawan kekerasan. Baik kekerasan fisik, psikis, seksual, maupun ekonomi. Karena akan muncul pihak yang menunjukkan relasi kuasa. Saat ini terjadi, hubungan kita menjadi tidak sehat.

Untuk itulah perlu ada komitmen dan kesepakatan yang harus dibangun saat memulai sebuah hubungan. Kesepakatan ini akan memberikan kita batas-batas yang jelas. Misalnya, sejauh apa kita dapat terlibat dalam kehidupan pasangan kita? Jika terjadi ketimpangan, apakah yang harus dilakukan agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan? Karena kita tetaplah individu yang membutuhkan ruang untuk dirinya sendiri, begitu pula pasangan kita. Hak tersebut adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia.

Hubungan yang sehat adalah hubungan yang dapat membuat kita menjadi orang yang lebih baik. Karena apa yang kita lalui bersamanya, akan kita lalui dengan kebahagiaan.


Oleh: Abhipraya Ardiansyah
Thursday, February 26, 2015

Pacaran Brondong vs Gadun

Sobat Bronis, pasti kita sering dengar kan istilah “Cinta Tidak Mengenal Usia”. Karena terkadang cinta datang tiba-tiba pada siapa saja tanpa mengenal usia pada siapa orang yang kita cintai. Contohnya saja dalam relasi cinta sesama jenis bahwa pacaran yang berbeda usia sudahlah sering ditemukan. Selain urusan rasa aman dan nyaman, pacaran berbeda usia yang terlampau jauh juga sangat bermanfaat untuk saling melengkapi diri mereka. Ada pula contoh yang tak jarang jika kita temukan bagi seseorang yang berkulit putih, namun mereka lebih mengagumi orang yang memiliki kulit hitam eksotis. Kita yang berusia muda tak jarang mengagumi orang yang usianya jauh lebih dewasa dari kita, begitupun sebaliknya. Ya, Tuhan itu adil sekali sehingga membuat semua perbedaan menjadi sesuatu yang unik untuk dijalani.  

Apakah ada diantara sobat Bronis yang mengalami hal ini? Nah supaya kita dengan sang pacar tetap kompak dan harmonis, berikut tips untuk menjaga kisah cinta kalian yang berbeda usia cukup jauh, dan ini juga yang biasanya yang penulis lakukan ketika mengalami hal demikian.  

Jangan gengsi atau malu  
Dianggap pacaran sama om-om atau Gadun, atau cuma Brondong simpanan, jangan membuat kamu sakit hati. Abaikan semua komentar miring yang menerpa hubungan kita. Anggap saja mereka iri karena kita mendapatkan pasangan yang lebih mapan. Cuek ajalah! Yang penting kita happy menjalaninya.  

Beda selera saling mengerti
Punya pacar dengan jarak usia yang lumayan jauh juga biasanya berpengaruh pada selera dan hobi yang berbeda. Untuk itu, diperlukan saling pengertian diantara dua pihak. Misalnya, pacar kita yang lebih tua dan gemar nongkrong di Coffee Shop. Jangan sungkan atau malas untuk menemaninya minum Coffee atau hanya sekedar nongkrong dan mendengarkan musik klasik meskipun kita gak terlalu suka dengan hal itu.  

Seimbangkan penampilan
Meskipun terpaut usia yang jauh, usahakan agar penampilan kita dan sang pacar tidak terlalu jomplang. Seimbangkanlah selera penampilan kita dengan si dia tapi jangan terlalu dibuat-buat juga. misalnya kalau si dia pakai pakaian rapi, usahakan kita tidak berpakaian terlalu cuek, atau sama-sama menggunakan kaos dan celana jeans. Hal tersebut membantu kerja sama dalam kisah cinta kalian lebih melekat.  

Kesetaraan
Nah, ini adalah hal yang paling penting. Meskipun dalam urusan usia kalian berbeda cukup jauh, namun dalam memainkan peran asmara kalian haruslah seimbang, saling menghargai, memiliki posisi yang sama dalam mengambil keputusan, dan lainnya. Misalnya, dalam menentukan tujuan percintaan atau mungkin dalam kesepakatan penggunaan kondom disaat ML. Jadi, tidak ada yang mendominasi didalam hubungan asmara kalian. Semuanya diperjuangkan dengan bersama-sama dan juga setara.  

Semoga hubungan kita dengan sang kekasih tetap langgeng ya, Sobat Bronis!  

Sumber: www.crazygays.wordpress.com


Oleh : Sepi Maulana Ardiansyah (@Daviwae)
Tuesday, February 24, 2015

Melawan Internalized Homophobia

Teman-teman, berikut ini saya lampirkan kutipan pernyataan dari seorang teman saya yang adalah seorang heteroseksual saat kami sedang mengobrol suatu hari di bulan Oktober tahun lalu. Kutipan ini benar-benar keluar dari mulut teman saya tersebut.

"Iya, orang gay itu memang semuanya kayak begitu, Gi, mereka doyan ngeseks sana sini... Dan banyak diantara mereka yang selain menjadikan itu gaya hidup mereka, juga menjadikan itu alat untuk bisa mendaki kelas sosial, supaya karier mereka jadi lebih baik atau diterima di kelompok high society... Mau tahu yang lebih parah lagi nggak, gi? Kebanyakan orang gay yang sudah berpasangan itu pasti punya selingkuhan. Selingkuhan itu mereka sebut sebagai ‘kucing’. Nah dulu gue punya temen ya, Gi, parah banget deh si temen gue itu, Dia sampe bangkrut hanya demi menyenangkan si kucingnya itu, belanjain ini itu, tapi ujung-ujungnya pasti seks. Gila ya memang mereka [orang gay] tersebut...”

Emosi saat membaca kutipan pernyataan teman saya tersebut? Wajar sekali kalau emosi saat membacanya. Kutipannya itu tidak didasarkan data. Lagipula, sifat “doyan ngeseks” (meminjam istilah yang dilontarkan oleh teman saya) tidak hanya dimiliki oleh kaum homoseksual; orang hetero juga doyan seks. Lebih jauh lagi, sifat tidak setia atau promiscuous tidak hanya dimiliki orang homoseksual; orang hetero juga banyak yang seperti itu! Sungguh tidak adil apabila semua sifat negatif yang diungkapkan di atas ditempelkan kepada kaum homoseksual semata.

Kutipan yang saya tampilkan di atas merupakan sebuah contoh manifestasi dari sikap homophobia: sikap tidak suka terhadap kelompok homoseksual yang ditandai oleh stereotip (paradigma berpikir yang menggeneralisasikan sekumpulan label dan atribut kepada sekelompok manusia tertentu; misalnya semua gay pasti hedon dan promiscuous), prasangka (emosi negatif seperti benci, jijik dan takut) dan perilaku diskriminatif (tidak mau berteman dengan orang gay, menghindari gay, melakukan kekerasan terhadap orang gay).

Sikap homophobia ini muncul akibat dominasi kelompok heteroseksual terhadap segala aspek-aspek kehidupan sehingga orientasi apapun yang bukan heteroseksual secara otomatis akan dianggap menyimpang, berdosa dan sakit. Sehingga atribut-atribut yang dimaklumi pada kelompok heteroseksual (orang heteroseksual kalau berselingkuh atau memiliki banyak pasangan seks kasual) akan dihakimi habis-habisan apabila dilakukan kaum homoseksual dan dianggap sebagai “bukti” dari betapa “menyimpang”, “sakit” dan “berdosa”nya kaum homoseksual.

Sikap homophobia ini manifestasinya bermacam-macam: hinaan verbal yang secara langsung dilontarkan oleh seorang teman; lelucon di televisi, radio atau film; penganiayaan secara fisik atau isolasi sosial.

Menariknya, homophobia ini juga bisa mengubah persepsi seorang individu gay terhadap dirinya sendiri. Akibat terpapar sikap homofobik lingkungan sekitarnya selama bertahun-tahun, seorang individu bisa menginternalisasi prasangka yang ditunjukan oleh masyarakat dan BENAR-BENAR PERCAYA bahwa dirinya telah salah dilahirkan, cacat, dan berdosa, serta lebih jauh lagi: bahwa karena dirinya cacat dan berdosa, maka ia PANTAS untuk menerima kekerasan dari lingkungan sekitarnya.  Internalisasi dari prasangka lingkungan sekitar inilah yang disebut sebagai internalized homophobia.

Tentu saja, internalized homophobia memiliki dampak yang sangat merusak bagi kehidupan seorang individu. Semua manusia pasti ingin melihat dirinya sendiri dengan positif. Tidak ada manusia yang ingin dihina-hina dan dianggap rendah. Menurut psikolog Alan Downs, dampak negatif homophobia bermacam-macam: awalnya ini akan menyebabkan rasa depresi  dan kecewa yang berkepanjangan yang kemudian akan memicu berbagai tindakan-tindakan destruktif yang menjadi kompensasi dari rasa depresi tersebut, seperti konsumsi obat-obatan terlarang, perilaku seks berisiko, tindakan agresif, tindakan masokis atau menyakiti diri sendiri, dan bunuh diri.

Lantas bagaimanakah caranya agar kita tidak menginternalisasikan prasangka dari lingkungan sekitar kita? Berikut ada beberapa tips:
1. Pelajari fakta-fakta (yang tidak bias)
Apa iya homoseksualitas itu penyimpangan? Berikut saya kutip pendapat Margaret Agusta dalam sebuah artikelnya di website magdalene.co:

“Semua naskah akademis dalam bidang seksualitas manusia, sosiologi, psikologi dan kedokteran mengindikasikan bahwa kurang lebih 15 persen dari populasi global manusia adalah homoseksual, dengan 10 persen adalah gay dan 5 persen adalah lesbian. Saya juga mempelajari dalam studi-studi biologi bahwa homoseksualitas dapat ditemukan dalam berbagai spesies hewan, yang sepertinya berhubungan dengan upaya melestarikan spesies dengan cara merawat anak-anak yang kehilangan orangtua kandung mereka.”

Setelah membaca kutipan di atas, masihkah kamu percaya dengan anggapan bahwa homoseksualitas adalah “pilihan gaya hidup” yang “menyimpang” sebagaimana dikatakan oleh banyak orang?

2. Ingatlah bahwa harga dirimu tidak ditentukan oleh orientasi seksualmu.
Karena orientasi seksual hanyalah sebagian kecil dari siapa kamu. Tidak lebih penting daripada hidung kamu mancung atau pesek atau kulit kamu terang atau gelap. Yang penting adalah kontribusi kamu untuk orang lain dengan apapun yang kamu lakukan.    

3. Tingkatkan self-esteem atau harga dirimu.
Ini terkait dengan poin kedua di atas. Untuk mengingatkan diri kamu bahwa meskipun kamu dihina oleh lingkungan sekitarmu karena kamu gay, kamu juga punya kelebihan-kelebihan, yang terlepas diakui atau tidaknya oleh orang lain, juga sangat berharga. Oleh karena itu tuliskanlah kelebihan-kelebihan kamu dengan detail di secarik kertas.

Misalnya: Saya mandiri. Di usia 23 tahun saya sudah bisa mencari nafkah sendiri dan tidak perlu  merepotkan siapapun.  

Saya hebat. Dengan pekerjaan saya sebagai... (isi sendiri), saya bisa berkontribusi pada kehidupan orang-orang di sekitar saya dengan cara... (isi sendiri). Lebih dari itu, saya juga menjadi andalan atasan saya. Kalau tidak ada saya di kantor, maka pekerjaan saya akan menjadi... (isi sendiri).  

Saya memiliki belas kasih dan kepedulian. Di kampus saya, saya terlibat menjadi sukarelawan untuk membantu orang lain melakukan... (isi sendiri).  

Setelah diisi, bacalah tulisan itu setiap hari. Ini bukanlah narsisme: memuji kelebihan sendiri adalah sesuatu yang menyehatkan jiwa dan dapat membangun kembali harga diri dan rasa percaya diri.  

4. Terlibatlah dalam kegiatan-kegiatan yang benar-benar kamu sukai, dimana kamu bisa mencurahkan segenap perhatian dan energi kamu ke dalamnya.
Memiliki passion terhadap bidang tertentu akan membantu kita untuk semangat hidup karena passion itulah yang akan menjadi makna dan sumber vitalitas hidup kita. Saat kamu menenggelamkan diri dalam hal-hal yang kamu cintai (misalnya, senang berolahraga, berkesenian, atau menulis), kamu akan merasa benar-benar hidup. Lebih jauh lagi, memiliki passion atau hobi akan membantu kamu menemukan teman-teman yang memiliki minat yang sama.

5. Temukan teman-teman yang ramah terhadap LGBT.
Masih ada kok orang-orang yang ramah terhadap LGBT. Kamu bisa menemukan mereka di forum-forum sosial media atau seminar-seminar bertema gender atau LGBT. Berteman dengan orang-orang yang ramah LGBT dan menghargai kamu terlepas dari orientasi seksualmu akan sangat membantu membangunkan rasa percaya diri kamu lagi sebagai seorang individu.

Semangat ya!

Sumber: Neither, Nor and Nowhere: Raising a gay child in a heterosexual paradigm (http://magdalene.co/news-78-neither-nor-and-nowhere-in-between-raising-a-gay-child-in-a-heterosexual-paradigm.html)


Oleh: Sebastian Partogi

Sunday, February 22, 2015

Berantem Sama Pacar?

Sebuah hubungan kadang tak lepas dari sebuah masalah. Memang setiap pasangan memiliki cara yang berbeda dalam menyelesaikan sebuah masalah yang timbul. Namun, kalau cara berpikir kita dewasa (meskipun usia kita terbilang masih sangat muda) pasti enggak akan membiarkan masalah itu berlarut-larut dan jadi merembet ke masalah yang kadang tak ada kaitannya. Bagi mereka yang masih kekanak-kanakan (bukan berdasarkan usia,) selalu membumbui pertengkaran dengan drama yang berlebihan. Maka, tak jarang masalah pun menjadi tambah pelik.  

Dibutuhkan dua sikap dewasa jika kita dan pasangan mendapatkan masalah besar. Namun, tentu dong kita enggak mau kan masalah tersebut menyebabkan akhirnya kita dan pasangan berpisah karena saking emosinya? Nah, di bawah ini ada sikap yang seharusnya dilakukan saat bertengkar dengan pasangan. Berdasarkan pengalaman penulis ini adalah langkah-langkah yang harus dilakukan ketika mengalami pertengkaran dengan sang kekasih hati.  

Kenali Reaksi Sendiri  
Hal pertama yang harus kita sadari betul ketika bertengkar adalah mengetahui bagaimana reaksi kita saat marah yang bisa membuat kita sedikit tenang. Apakah kita selama ini selalu membanting pintu, memecahkan barang, memaki-maki, menangis, masturbasi, mengaji, clubbing atau mungkin kita butuh waktu untuk sendiri.  

Tidak Membentak atau Memaki  
Kadang perasaan kecewa yang muncul membuat kita menjadi kasar dan sulit menahan emosi. Jika selama ini kita sering membentak atau bahkan memaki pasangan saat dia ketahuan melakukan salah, maka ada baiknya kita hilangkan kebiasaan tersebut. Karena bagaimana pun sebuah bentakan dan makian tak akan pernah bisa menyelesaikan masalah. Justru semakin mengobarkan api dalam masalah kalian. Bahkan tak jarang jika kita membiarkan emosi mengontrol pikiran, kita jadi lebih mudah untuk mengungkit masalah dulu dan inilah yang sangat salah bila dilakukan. Karena sebuah masalah yang sudah lampau tak perlu dibahas kembali. Toh kalian dulu sudah menganggap itu tak pernah ada kan? Jangan hanya karena si dia melakukan salah besar, kita merasa pantas membentak dan memakinya.  

Tak Harus Diselesaikan Saat Itu Juga  
Sering kali kebanyakan pasangan, ingin masalah bisa diselesaikan saat itu juga. Padahal, itu adalah cara yang salah. Kita dan pasangan tetap membutuhkan waktu sejenak untuk berpikir agar emosi tak menjadi besar. Daripada mengeluarkan makian atau menyakiti pasangan, lebih baik kita meminta waktu untuk menenangkan diri sehingga kita berdua bisa sama-sama introspeksi dan melihat masalah dari dua sisi yang berbeda. Nah, inilah kenapa sebuah masalah tak harus diselesaikan saat itu juga. Biarkan kita dan pasangan istirahat (atau tidur) sejenak untuk bisa menyelesaikan masalah. Pasalnya, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa saat tidur orang cenderung mengalami perubahan memori dan memiliki ide baru. Jadi, bisa saja kita dan pasangan menemukan solusi yang terbaik dalam masalah yang ada.  


Oleh : Sepi Maulana Ardiansyah (@Daviwae)

Friday, February 20, 2015

- Copyright © BrondongManis -