Nude F(r)ight part 1: Ekonomi Ketelanjangan ala Stuart Ringholt

Stuart Ringholt adalah seniman Australia kelahiran Perth yang membuat berbagai macam karya, dari objek, drawing, sampai performens dan situasi. Seniman yang hidup dan bekerja di Melbourne ini dikenal, tidak hanya dari seri objeknya yang sangat menarik tetapi juga dengan karya situasinya yang berjudul Preceded By A Tour Of The Show By Artist Stuart Ringholt (The Artist Will Be Naked. Those Who Wish To Join The Tour Must Also Be Naked. Adults Only). Karya yang sempat berkeliling Australia ini mengajak parap pengunjung pameran untuk mengikuti tur dengan telanjang. Cukup menarik bukan, dan tentunya semua tiket untuk acara tersebut terjual habis.  

Menurut Ringholt, karya yang berbentuk situasi ini mengajak dan menantang pengunjung untuk berhadapan langsung dengan – selain karya seni- tubuh mereka sendiri. Secara sisi kreatif dan kesenian, Ringholt percaya bahwa warna baju memiliki getaran frekuensi tersendiri yang mengganggu pengamatan seseorang terhadap karya seni, sehingga ketika menikmatinya tanpa sehelai benang, pengalaman tersebut akan lebih maksimal. Namun terlebih dari itu, saya tertarik dari alasan dasarnya dimana Ringholt ingin membuat pengunjung untuk lebih nyaman terhadap tubuh mereka.  

Sayangnya, saya tidak sempat untuk mengikuti tur unik ini, tetapi Ringholt tetap membuat saya melihat lebih jauh ke dalam konteks ketelanjangan. Ternyata, dan cukup mudah untuk disadari, manusia memang takut untuk tampil telanjang. Apalagi di Indonesia saat ini, padahal kultur di Asia Tenggara pada dasarnya hampir tidak menutupi tubuh manusia. Jadi sebenarnya, apa yang membuat karya situasi Ringholt menjadi relevan dan menarik?  

Mendapat jawaban tersebut sangat mudah. Klik google.com terus cari Why are we so scared of nudity. Ada ratusan jawaban yang dapat membuat kita berasa tidak nyaman karena semua itu dapat dikatakan benar. Jawaban nomor satu biasanya mempersalahkan agama, tetapi for the sake of unwinnable argument, saya tidak akan membahas hal tersebut. Selebihnya, saya akan melihat ke sisi ekonomi dan relevansinya ke seksual minoritas di Indonesia.  

Monica Tan, salah satu wanita yang sempat megikuti tur Ringholt mengatakan bahwa ketakutan awam terhadap ketelanjangan berinti dari respons kita terhadap kritik tubuh. Sering kali saya mendengar ocehan teman-teman- walaupun sekadar hanya lelucon (tetapi juga poblematik), yang mengejek bentuk laki-laki lain ketika sedang eksis di mall. Biasanya dimulai dari bentuk tubuh lalu dikomentari pilihan bajunya. Apapun yang orang itu pakai, biasanya jika tubuhnya (padahal tertutupi) sudah tidak sesuai bentuk ‘ideal’, maka ejekkan pun tak terelakkan. Banyak artikel di Bronis yang sudah mengkritik persepsi kita terhadap bentuk tubuh saat ini dan untuk melanjutkannya. Seberapa banyak dari kita laki-laki yang berbentuk seperti Chris Evans (si Captain dan si Pornstar). Ironisnya, kita mempunyai standar yang jauh kelebihan ketika membandingkan bentuk tubuh yang kedewaan. Muscle menjadi definisi makbul kalangan awam gay sedangkan bear atau chubby menjadi factor Ewww.  

Tidak jauh dari konteks ekonomi dan kembali lagi ke seni, pasar menjadi salah satu halangan dimana kita berasa tidak nyaman dengan tubuh sendiri. Di dalam sebuah ekonomi, ada demand dan supply dan di ekonomi ketelanjangan, ada demand dimana kita harus tampil memukau yang sebenarnya sangat diskriminatif. Ketika demand tersebut harus dipenuhi, supply akan fasilitas yang dapat memberikan kita ketelanjangan idaman tersebut bermunculan. Demand dan supply menjadi sebuah simbol ular Ouroboros yang selamanya akan membuat kita takut terhadap ketelanjangan diri sendiri.  

Kegelisahan terhadap tubuh telanjangpun menjadi halangan ekonomi lainnya seperti perlombaan atas mendominasi Songkran, membership gym, protein shakes, kelas yoga dan pilates, proses pembesaran penis, operasi kecantikan dan lain-lainnya. Jika dilihat lebih lagi, memang secara sarkastik karya Ringholt yang merupakan karya seni rupa mengajak kita untuk memikirkan kembali konteks ekonomi terlibat ketelanjangan. Ironisnya, ketika kita tidak telanjangpun kita menjadi korban konsumeris kritik tubuh.    

Keberhasilan atas budity economic survival pun nyata dalam kegiatan sehari-hari. Gym selfie, dick pics, nude photography, dan populernya nude nights di gay sauna menjadi beberapa contoh sederhana. Don’t get me wrong, merayakan keberhasilan memang baik dan for the sake of anything nude, please post lebih banyak lagi foto telanjang. Namun jangan buat gambaran tersebut menjadi homogenus, tetapi buatlah lebih menarik yang dapat dimulai dengan keterbukaan kita dengan ketelanjangan. Jika kritik yang memang kita takuti, Tan menulis, “who is in any place to judge”. Easy to say karena sayangnya, semua orang ternyata menghakimi.  

“Exhibitionists at an exhibition” ejek seorang komentator terhadap Tan ketika dia berbagi pengalaman mengikuti tur Ringholt di BBC. Tapi menurut saya, mungkin kita perlu belajar dari para exhibitionist atau naturist, dimana keterbukaan (pun intended) mereka terhadap tubuh memang lebih sehat. Dari segi norma dan etika Indonesia, memang sulit untuk kita mempresentasikan karya Ringholt yang dapat dijadikan sebagai titik awal kritik kita terhadap ekonomi ketelanjangan. Kita sebagai anggota minoritas seksual yang sering dicap sebagai gila seks mungkin dapat menjadi ajang keterbukaan pola piker masyarakat atas variasi bentuk tubuh, asalkan kita sendiri dapat terlepas dari jerat ekonomi keterlanjangan.    

PS: Di artikel pendek ini penulis belum mengulas faktor ketakutan terhadap ketelanjangan lainnya seperti erotika dan kerterkaitan tubuh telanjang dengan nafsu birahi dan seks. Ini akan dilanjutkan ke bagian 2 yang melihat karya milik Spencer Tunick yang jauh lebih ekstrim.    

Sumber:  
Nudity is the ultimate test of self-acceptance. Why are we so afraid of it?, Monica Tan, The Guardian, 2015  http://www.theguardian.com/commentisfree/2015/apr/08/nudity-is-the-ultimate-test-of-self-acceptance-why-are-we-so-afraid-of-it  
Stuart Ringholt, Museum of Contemporary Art, 2014  https://www.mca.com.au/collection/artist/stuart-ringholt/  
Preceded By A Tour Of The Show By Artist Stuart Ringholt 6-8PM (The Artist Will Be Naked. Those Who Wish To Join The Tour Must Also Be Naked), Stuart Ringholt Museum of Contemporary Art, 2012  http://mca.com.au/events/naturist-tours-stuart-ringholt/    
Naked Tour by Stuart Ringholt, Museum of Contemporary Art Sydney, Michael Young, 2012  http://artasiapacific.com/Blog/NakedTourByStuartRingholtMCASydney


Oleh: Kelvin Atmadibrata
Tuesday, May 19, 2015

Memaknai IDAHOT

Sobat Bronis tahu apa itu IDAHOT? IDAHOT (International Day Against Homophobia and Transphobia) adalah peringatan internasional dalam rangka melawan diskriminasi pada LGBT. Kasus diskriminasi dan kekerasan pada LGBT hingga saat ini masih terjadi dimana-mana. Peringatan yang menjadi hari rayanya LGBT di seluruh dunia ini jatuh setiap tanggal 17 Mei. Mengapa IDAHOT diperingati?

Pada 17 Mei 1990, WHO secara resmi mengeluarkan homoseksual dari gangguan kejiwaan. Ini menandakan bahwa keberagaman identitas seksual juga merupakan salah satu bentuk keberagaman yang ada pada manusia. Adanya IDAHOT ini juga merupakan salah satu momentum yang ditunggu dalam perjuangan pergerakan LGBT di berbagai negara. Memang, butuh 21 tahun sejak peristiwa Stonwell di Amerika Serikat sampai homoseksual secara resmi dianggap bukan kelainan. Namun, masih banyak terjadi diskriminasi terhadap LGBT di berbagai negara. Untuk itulah IDAHOT diperingati sampai saat ini.

Bagaimana dengan Indonesia? IDAHOT di Indonesia diperingati sejak tahun 2008. Jauh setelah pergerakan waria dimulai sejak berdirinya HIWAD (Himpunan Wadam Jakarta) pada tahun 1969. Memang, keberadaan LGBT belum diakui oleh hukum di Indonesia. Bahkan masih dikriminalisasi di berbagai tempat. IDAHOT merupakan salah satu cara bagi LGBT untuk berjuang menuju kesetaraan. Walau kita harus siap terhadap segala risiko yang ada karena muncul di ruang publik dengan membawa bendera pelangi. Setidaknya, pada hari IDAHOT LGBT menunjukkan eksistensinya dan berusaha meretas stigma yang ada dalam masyarakat.

Homophobia dan transphobia bukanlah hal yang harus dilawan dengan kebencian. Namun, harus dilawan dengan cinta kasih. LGBT tidak ada bedanya dengan heteroseksual dan cisgender. Jika ada yang mengatakan bahwa menjadi homoseksual adalah pilihan, apakah mereka pernah memilih untuk menjadi seorang heteroseksual? Jika seorang transgender ingin mengekspresikan dirinya, apakah hal serupa tidak terjadi pada cisgender yang juga ingin menjadi dirinya sendiri? Maka, homophobia dan transphobia hanyalah bentuk ketidakadilan yang didasari oleh ketakutan dan kebencian.

Memaknai IDAHOT berarti menghapuskan kebencian dengan menyebarkan cinta kasih. Bahwa stigma yang muncul terhadap LGBT tidaklah sepenuhnya benar, dan keberagaman identitas seksual bukanlah sesuatu yang harus ditakuti dan dibenci. Karena pada dasarnya, kita tetap manusia yang harus saling menghargai perbedaan yang ada. Selamat memperingati IDAHOT 2015, Sobat Bronis! Spread love, not hate!


Oleh: Abhipraya Ardiansyah
Sunday, May 17, 2015

Love and Improvement

Sobat Bronis pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah “the power of love”. Dalam persepektif tersebut, seolah-olah cinta mempunyai kekuatan yang dahsyat yang mampu membuat orang yang tertancap panah si Cupid mampu melakukan segalanya. Mulai dari hal-hal kecil hingga hal-hal yang tak terduga.

Beberapa roman yang berbicara tentang cinta pun seolah menjadi patokan. Bahwa cinta dapat kita ke berbagai arah, yaitu kebahagiaan, pengorbanan, hidup yang baru, hingga mengakhiri kehidupan. Misalnya, tentu Sobat Bronis mengenal kisah Romeo dan Juliet yang harus mengorbankan hidupnya karena cinta yang tidak direstui oleh keluarga mereka. Di sini kita tidak akan berbicara tentang hal-hal gila yang dapat terjadi karena cinta. Terdapat sisi lain dari cinta yang dapat kita gunakan sebagai pembelajaran.

Jatuh cinta dapat memberikan dampak positif bagi kita. Salah satunya adalah self-improvement.
Mengapa? Karena saat kita jatuh cinta, poros dunia kita berubah menjadi tertuju pada dia yang kita cintai. Si dia pun menjadi yang sempurna di mata kita. Maka, dalam alam bawah sadar kita otomatis akan muncul keinginan untuk “memantaskan diri”. Apalagi jika kita tidak tahu apa yang membuat kita jatuh cinta pada si dia.

Kita tahu bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Keinginan untuk memantaskan diri pun ada karena kita ingin menjadi “lebih baik”, bukan untuk menjadi “manusia sempurna”.  Bentuk self-improvement ini aspeknya sangat luas. Ada yang lebih giat dalam bekerja, berkarya, memulai pola hidup sehat, merubah penampilan, hingga mendekatkan diri pada Tuhan. Jika ditarik benang merahnya, cinta dapat memberikan kita motivasi untuk melakukan hal-hal positif. Memang terlihat egois terhadap diri sendiri. Inilah salah satu kegilaan yang dapat dilakukan orang yang sedang jatuh cinta. Segala usaha yang dilakukan tidak terasa berat, karena ada kupu-kupu yang menari di dalam perut.

Sobat Bronis, sebagian orang mungkin menganggap apa yang dilakukan orang yang sedang jatuh cinta sebagai pengorbanan. Pengorbanan untuk menjadi orang yang pantas dan mampu merebut perhatian si dia. Namun, apakah disebut pengorbanan jika kita selalu bahagia dibuatnya? Seperti senyuman malu-malu dan debar jantung saat bertatapan mata dengannya.


Oleh: Abhipraya Ardiansyah
Friday, May 15, 2015

The Sound of Masturbation: Pornoaksi Tak Terlihat ala Vito Acconci

Dalam sebuah riset online ketika ingin menyiapkan karya baru, saya sempat mengunjungi sebuah website yang mengumpulkan audio-audio seks. Disana, saya menemui dan mendengarkan beberapa audio file yang direkam oleh orang lain ketika mereka bermasturbasi. Tidak ada aksi yang terlihat namun terdokumentasi melalui desahan dan ucapan erotis fantasi si persona dibalik suara. Ini membuat saya mengingat kembali kepada karya seorang seniman yang cukup saya kagumi.        
 
Selama sembilan hari dan delapan jam setiap harinya diantara 15 sampai 29 Januari 1972, seniman Amerika, Vito Acconci memamerkan sebuah karya yang menjadi titik pangkal karir berkesinian beliau. Berjudul Seedbed, Acconci membuat sebuah platform kayu di Galeri Sonnabend di New York yang menutupi seluruh ruangan pamer. Tingginya cukup untuk sang seniman bertiduran dibawah lantai buatan sehingga para pengunjung tidak dapat melihat apa-apa, kecuali ruangan kosong melompong.    

Sebagai seorang seniman yang juga membuat karya puisi dan arsitektural, Acconci juga dikenal sebagai seniman performens, dimana beliau menggunakan tubuhnya untuk membuat karya visual kontemporer. Seedbed merupakan salah satu karya notorious beliau yang akan menjadi bahan perbincangan artikel pendek kali ini. Sejajar dengan karya Felix Gonzalez-Torres yang pernah saya bahas disini, karya Seedbed juga tidak seperti karya visual queer lainnya. Seperti yang telah dideskripsikan dengan ringkas diatas, Acconci mempresentasikan sebuah ruangan kosong.  

Namun, yang menarik adalah apa yang dilakukan sang seniman. Masturbasi. Iya, kalian membacanya dengan betul. Beliau melakukan adegan masturbasi selama lebih dari tujuh puluh jam dibawah platform kayu dimana para pengunjung berdiri diatasnya. Kejadian ini didokumentasi, selain dari sarana video, juga dari suara Acconci. Beliau, sambil memainkan penisnya melunturkan ucapan-ucapan erotis. Berbagai macam fantasi seksual berbentuk puisi, kalimat percakapan maupun ocehan asal yang diucapkan oleh Acconci. Kemudian kata-kata ini disalurkan melalui mic ke beberapa speaker sehingga dapat terdengar jelas oleh pengunjung.    

Menurut Acconci, karya Seedbed dibuat agar pengunjung mempertanyakan konsep ruang, terutama perbedaan ruang privat dan publik. Konsep menarik ini sering kali digarap oleh seniman kontemporer dan Acconci membawanya satu langkah kedepan, melalui suara sebagai representasi tubuh. Sebuah adegan yang seharusnya (secara etika, ehem) privat dikembalikan definisinya ke para pengunjung. Para pengunjung sebagai mahluk visual hidup di dunia yang dipenuhi dengan gambar ditantang interpretasi dan pemahaman mereka atas privat dan publik. Apa yang terlihat, dan apa yang tidak. Acconci tentunya tidak memberikan jawaban tetapi sebuah pengalaman yang mungkin dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.          


Dalam kehidupan kita sebagai kaum minoritas seksual di Indonesia pun, dimana persepsi publik akan seks (janganlah kata seks sejenis, seks antara dua gender yang berbedapun dianggap tabu) masih menjadi sebuah perisai dalam berbagai diskusi. Sebuah kegiatan intim menjadi sebuah faktor keprivatan sesuatu dimana ketika dipresentasikan ke publik, maka akan menunjukkan respons negatif. Seks menjadi sesuatu yang tidak pantas dilihat, sehingga tidak sepatutnya diperbincangkan dan banyak riset yang telah menetapkan bahwa rendahnya toleransi publik terhadap seks karena kurangnya diskusi atas subjek tersebut. Sebuah debat ayam-telur yang sangat susah dicari solusinya.    
Ironisnya, masyarakat sering mem-publik-kan seks, contohnya dari pornografi. Jujur saja, saya sangat mendukung pornografi dan seringkali melihatnya sebagai produk kreatif. Tetapi bukankah ketika kita menentang sesuatu akan tetapi mendukungnya pada saat yang bersamaan merupakan sebuah double standard? Standar ganda akan seks inilah yang sering kita dapati di Indonesia, seperti contohnya khasus video pornografi Ariel yang mengakibatkan sang penyanyi dipenjara selama lebih dari tiga tahun.    

Seedbed juga sempat dianggap sebagai karya pornografi. Memang berbeda sekali dengan maksud awal si seniman. Sebuah karya seni dapat dibaca dari berbagai cara. Tidak ada yang salah atau benar tapi bacaan ini memang mungkin tidak dapat dilewatkan. Ketika sesuatu berbau seks dan alat kelamin, memang susah untuk manusia untuk membedakannya secara matang dengan kata yang sudah dicap negaf, pornografi.    

Kembali lagi ke seks yang tak terlihat. Seks telefon (phone sex) misalnya, merupakan sebuah aksi seksual yang termasuk populer. Banyak penggemarnya dan jangan kaget kalau ternyata banyak pula yang lebih memilih mendapatkan kenikmatan seksual dari suara daripada visual. Namun, menurut Undang-undang Pornografi Indonesia, phone sex juga termasuk dalam golongan kriminalitas. Lucunya, kategori-kategori apa saja yang membuktikan bahwa sesuatu itu menggairahkan, apalagi kalau bukan dalam berbentuk visual.    

Phone sex dan juga audio erotika menjadi sebuah contoh dimana privat dan publik menjadi abu-abu. Seks tidak terlihat tetapi terdengar jelas dan berbau erotis. Ketelanjangan hanya dapat dibayangkan dan kenikmatan milik pribadi. Jika demikian, dapatkah kita menyimpulkan mereka sebagai pornografi, atau pornoaksi? Seedbed mengingatkan saya ke atas pertanyaan tersebut, dan apapun jawabannya, saya berharap definisi keprivatan dan kepublikkan atas seks sudah dapat dipertimbangakan.          

Sumber:    
Literotica  https://www.literotica.com/c/audio-sex-stories  
Vito Acconci – Seedbed (1972),
Romaeuropa Wedbfactory, dailymotion, 2009  http://www.dailymotion.com/video/x7ygpc_vito-acconci-seedbed-1972_creation  
Vito Acconci, Museum of Modern Art, The Collection
http://www.moma.org/collection/object.php?object_id=109933  
TateShots: Vito Acconci, Tate, youtube, 2011  https://www.youtube.com/watch?v=j_dqT-XeIjA  
No What It Seems: The Politics of Re-Performing Vito Acconci’s Seedbed, Theresa Smalec, New York University, 2006  http://pmc.iath.virginia.edu/text-only/issue.906/17.1smalec.txt  
Vito Acconci’s ‘Seedbed’: Art and Pornography, Artlark, 2015  http://artlark.org/2015/01/29/vito-acconcis-seedbed-art-and-pornography/


Oleh: Kelvin Atmadibrata
Wednesday, May 13, 2015

Pengumuman 20 Besar Kompetisi Kreatif Dialog Muda 2015

Setelah proses penjurian selama hampir satu bulan, para Juri telah menentukan 20 besar Pemenang Kompetisi Kreatif Dialog Muda 2015.

Banyak sekali karya menarik yang dikirimkan oleh para remaja di Indonesia. Proses penjurian yang panjang ini melibatkan 28 orang juri yang ahli di bidangnya masing-masing. Tentunya dengan berbagai identitas seksual. Penasaran siapa aja 20 besar itu?

Apakah karya kamu termasuk salah satu pemenangnya?

Berikut ini adalah nama-nama pemenang 20 besar kompetisi ide kreatif dialog muda tahun 2015 yang dilaksanakan di Indonesia !

1. Shandy Septian - Ayahku Pahlawanku (Juara 1)
2. Adis Thessa - Ular Jenjang: The Media Game To Increase The Knowledge of Anti-Smoking, Drug Use, HIV and AIDS (Juara 2)
3. Youth Inter Medika - UU Perlindungan Anak (Juara 3)
4. Utomo Priyambodo - Perdebatan Dua Sahabat Sebelum Rapat (Juara Film)
5. Yasmin Jamilah - Cryptic Phrase
6. Sahabat Muda Pelangi - KTP Waria
7. Khawa Kibulla Ma'a - KILLERRR….
8. Caesario Abrisam Julivandi - Transman: Dysphoria
9. Enya Rima Rahman - Te-ro-ris
10. Sofyan Hariri - Pekerja Seks Bukan Kriminal
11. Nike Nadia - Semua Karena Cinta
12. Wildan Amirudin - Maaf Syaitan
13. Mesry Tefa - Saatnya Pendidikan Seks
14. Wawan Kurniawan - Freud Ulang Tahun
15. Sahabat Muda Bekasi - Perempuan Kepala Rumah Tangga
16. Retno Wahyuningtyas - Mata Tanpa Kaca
17. Rima Nurmela - Oh My God!
18. Mutiara Alqomi - Kenapa Kalian Tertawa
19. Nhur Zuhadah - Pelecehan
20. Muhammad Asep Yudhistira - HIV Test

20 pemenang ini akan diundang pada acara Youth Talkshow pada 30 Mei 2015 di Jakarta. Karya mereka akan diikutsertakan dalam kompetisi internasional. Dari topik-topik yang terpilih menjadi pemenang, diketahui bahwa isu seksualitas menjadi isu yang marak disuarakan oleh anak muda. Oleh karena itu, karya-karya yang dihasilkan pun menjadi lebih berkualitas.
SELAMAT BAGI KARYA YANG TERPILIH!!



Kondom Untuk Oral

Oral seks atau mengulum penis pasangan kita menjadi salah satu teknik berhubungan seksual yang bisa membawa kepuasan untuk pasangan kita dan diri kita sendiri. Namun, tahukah sobat Bronis bahwa ternyata oral seks bisa menjadi salah satu penyebab timbulnya beberapa infeksi menular seksual (IMS)? Salah satunya seperti kencing nanah bahkan hingga kanker tenggorokan.  
Nah, untuk menghindari penyebaran infeksi menular seksual yang diakibatkan oleh oral seks, kita bisa mencoba tips-tips aman berikut ini:  

1. Menggunakan Kondom
Ini adalah salah satu tips untuk memiliki oral seks yang aman dengan pasangan kita. Pasangan kita dan bahkan diri kita sendiri harus mengenakan kondom untuk mencegah penularan infeksi menular seksual. Jangan berpikir kalau menggunakan kondom hanya untuk melakukan seks anal dan vaginal saja. Memakai kondom saat oral seks tentu bisa menghindari efek buruk dari resiko IMS yang ditularkan melalui oral seks.  

2. Kondom Aroma
Kondom yang memiliki aroma bisa mengubah oral seks menjadi sesuatu hal yang menyenangkan. Pilihlah rasa favorit kita untuk membuat oral seks terasa aman dan menyenangkan, seperti kondom rasa cokelat, mint, strawberry, dan aroma buah-buahan lainnya.  

3. Melakukan Cek IMS
Ajak pasangan kita untuk melakukan tes IMS (Infeksi Menular Seksual) bersama-sama. Tujuannya untuk memastikan bahwa kita dan pasangan terbebas dari IMS. Kalaupun kita atau pasangan terkena IMS dan diobati dengan baik, maka ini menjadi cara aman supaya oral seks tidak membawa dampak kesehatan yang buruk untuk kita dan pasangan.  

Oral seks memang bisa membawa kepuasan tersendiri saat kita melakukan hubungan seksual dengan pasangan lho, Sobat Bronis. Namun, jangan lupa untuk tetap memperhatikan pula kesehatan kita sendiri dan pasangan dengan menggunakan tips-tips di atas ya.


Oleh: Sepi Maulana Ardiansyah
Saturday, April 25, 2015

Jangan Mau Bunuh Diri!!!

Pernahkah sobat Bronis depresi, lalu memposting foto-foto kesedihan seperti gambar tetesaan air mata yang menganak dari bola mata (entah itu foto diambil dari mana)? Ada yang lebih ekstrim lagi terkadang, mengganti gambar profil pada laman Facebook dengan gambar urat nadi teriris pisau dan darah bercucuran di lantai dengan tubuh lunglai tak berdaya. Ya, kesedihan yang menumpuk membuat stress dan depresi. Terlebih masalah yang dihadapi semakin kusut dan merasa tidak ada orang yang bisa mendengarkan atau merasa diri sendiri orang paling tersedih di dunia. Sosial media menjadi alat untuk mengekspresikan atau setidaknya mewakili perasaan yang terjadi sebenarnya dalam diri kita. Nah, yang perlu disikapi adalah postingan-postingan di sosial media yang berdarah-darah terkadang malah semakin membuat depresi, dan membuat gelap mata untuk melakukan percobaan bunuh diri.  

Bunuh diri memang tidak memandang jenis kelamin, umur, orientasi seksual, dan sebagainya. Tak terkecuali dengan LGBT. Di Amerika Serikat sendiri bunuh diri pada kalangan LGBT merupakan penyebab kematian tertinggi di kalangan remaja. Mengerikan bukan? Lalu bagaimana dengan kasus-kasus bunuh diri di kalangan LGBT di Indonesia? Sayangnya, jawabannya adalah tidak ada data pasti, karena Indonesia masih merupakan negara homophobic. T___T    

Mengapa kasus-kasus bunuh diri di kalangan remaja LGBT cukup tinggi? Banyak benang-benang kusut yang perlu ditarik. Terlalu banyak faktor baik internal maupun eksternal. Namun, setidaknya ada satu hal yang perlu digarisbwahi. Sebagian besar motif bunuh diri karena adanya useless factor pada diri sendiri, merasa bahwa dia terpojokkan dengan masalah yang runyam, tidak berguna selayaknya manusia heteroseksual, dan merasa hidupnya hampa. Lagi-lagi stigma homoseksual lah yang secara langsung menjadi alasan kuat mengapa bunuh diri banyak terjadi di kalangan remaja LGBT.  

Pada tahun 2008, sebuah penelitian di AS yang menyatakan bahwa "faktor risiko yang terkait dengan status minoritas seksual, termasuk diskriminasi, ketidakberadaan, dan penolakan oleh anggota keluarga meninggikan kemungkinan risiko untuk menjadi korban, seperti penyalahgunaan zat, hubungan seks dengan banyak pasangan, atau lari dari rumah. Penelitian tersebut menunjukkan korelasi antara tingkat penolakan oleh orang tua remaja LGBT dan masalah kesehatan negatif".  

Tingginya tingkat penolakan keluarga secara signifikan berhubungan dengan hasil kesehatan yang buruk. Berdasarkan perbandingan rasio, kalangan lesbian, gay, dan biseksual dewasa yang melaporkan tingkat penolakan keluarga yang lebih tinggi selama masa remaja berisiko 8,4 kali lebih besar telah melakukan percobaan bunuh diri, 5,9 kali lebih mungkin untuk depresi, 3,4 kali lebih mungkin untuk menggunakan obat-obatan terlarang, dan 3,4 kali lebih mungkin untuk terlibat dalam hubungan seks tanpa pengaman dibandingkan dengan teman sebaya dari keluarga dengan tingkat penolakan keluarga rendah atau tidak ada sama sekali.  

Semoga saja pengaruh stigma yang kuat terhadap LGBT yang ada di masyarakat, khususnya di Indonesia bisa semakin berkurang dengan cara saling meningkatkan toleransi dan saling sadar bahwa stigma-stigma tersebut justru memperburuk keadaan. Keterlibatan lembaga-lembaga seperti crisis center untuk kalangan remaja LGBT sangat dibutuhkan untuk mendukung dan membantu ketersediaan informasi yang dibutuhkan oleh remaja LGBT sekaligus mencegah terjadinya bunuh diri.    Berbahagialah dengan hidup dan berdamailah dengan diri sendiri, lakukan kegiatan positif, apapun orientasi kalian. Jangan posting yang aneh-aneh lagi ya :)    

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Homoseksualitas                
http://www.theorgasm-project.com/2013/09/07/stop-bunuh-diri-mari-hidup-bahagia/


Oleh: Jude Manzano
Thursday, April 23, 2015

- Copyright © BrondongManis -