Masturbasi Budaya masa lalu

Hai sobat bronis, setiap agama atau kepercayaan pastinya memiliki pandangan berbeda dalam hal seksualitas. Namun ada satu tradisi menarik yang dilakukan beberapa kelompok paganis kuno di Timur Tengah. Menurut ulasan yang dimuat di ranker.com, mereka terbiasa melakukan ritual masturbasi massal untuk meminta berkah kesuburan dari Tuhan.

Untuk melakukan prosesi tersebut, dipilih seorang pemimpin yang dianggap paling sukses, subur dan produktif di antara mereka.

Pemilihan itu sendiri dilakukan secara demokratis dan merupakan hasil kesepakatan penduduk lainnya. Uniknya, acara ini berlangsung seperti sebuah kompetisi, di mana para pelaku berusaha mencapai klimaks secepat mungkin, atau setidaknya bersamaan dengan pemimpin upacara. Jika ada yang melakukannya lebih cepat dari pemimpin, mungkin orang tersebut akan punya kesempatan menjadi pemimpin pada upacara selanjutnya.

Kelompok paganis percaya bahwa upacara ini adalah satu-satunya media yang dianggap efektif untuk menarik perhatian Tuhan. Dengan demikian, Yang Maha Kuasa akan menurunkan kesuburan, tak hanya bagi manusia (untuk memperoleh keturunan), namun juga pada hewan dan tumbuhan. Intinya, upacara ini diadakan sebagai bentuk doa meminta kemakmuran.

Umumnya, upacara semacam ini dilakukan saat penduduk yang menganut keyakinan tersebut memulai ritual melalui masa tanam. Cairan yang jatuh ke bumi (sebut saja hujan), dianggap sebagai persembahan dari Dewa, dan menjadi berkat yang akan membawa kesuburan di bumi. Tradisi ini terus berlanjut secara turun temurun, dan mungkin bisa jadi masih berlangsung hingga saat ini. Mungkin dengan pemahaman yang sudah mulai berubah berdasarkan perkembangan jaman. Tanpa mengubah nilai kearifan lokal suatu budaya.

Intinya, konsep seksualitas dalam hal ini, masturbasi, pernah menjadi bagian dari cara dalam berkeyakinan, mendekatkan diri dengan sang penciptanya. Dengan memandang bahwa Masturbasi adalah aktivitas sakral tempo dulu yang digunakan sebagai media intim “bertemu” Tuhan, maka timbul spekulasi-spekulasi terkait varian aktivitas seksual lain yang bisa jadi menjadi balak pertemuan hamba dengan Tuhannya. Yang akhirnya menimbulkan pertanyaan, “Kapan terakhir kali sobat bronis “berjumpa” dengan Tuhan?”

Oleh: Rangga Julianz

Friday, September 19, 2014

YIFoS Ciptakan Rumah Nyaman untuk Anak Muda

Youth Interfaith Forum on Sexuality (YIFoS), adalah organisasi anak muda yang fokus untuk membangun perdamaian dalam keberagaman identitas termasuk identitas iman dan identitas seksual. Sejak tahun 2012, YIFoS mengembangkan platform pendidikan alternatif untuk membangun gerakan anak muda antar identitas melalui Young Queer Faith and Sexuality Camp. Semenjak itu, kegiatan ini berlangsung setiap tahunnya dan sampai saat ini memiliki kurang lebih 74 alumni anak muda yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Kemah ini bertujuan untuk membangun sikap saling memahami dan membangun dialog dikalangan anak muda di Indonesia terhadap identitas yang berbeda, khususnya iman dan seksualitas, sebagai bagian dari keberagaman.

Di tahun 2014 ini, Young Queer Faith and Sexuality Camp kembali hadir dan mengusung Lingkar Cinta, Ragam Ekspresi sebagai tema. Pemahaman tentang seksualitas dan iman tidak dapat dilepaskan dari kesadaran pemuda bahwa rasa aman dan damai adalah hak setiap warga negara Indonesia. Namun sebagai rumah, Indonesia belum bisa menjadi ruang aman bagi setiap individu untuk mengekspresikan keragaman iman dan seksualitas. Melalui Young Queer Faith and Sexuality Camp, anak muda didorong mengambil bagian dalam lingkar cinta perdamaian terlepas apapun identitas yang melekat dalam dirinya untuk saling mendukung dan menghargai serta bersama-sama menolak setiap bentuk kekerasan yang ada atas nama keragaman identitas.

“Kemah ini bertujuan untuk membangun sikap saling memahami dan membangun dialog dikalangan anak muda di Indonesia terhadap identitas yang berbeda, khususnya iman dan seksualitas, sebagai bagian dari keberagaman” 

Kemah ketiga ini sukses dilaksanakan di Kaliurang, Yogyakarta dari tanggal 29 Agustus - 05 September 2014 lalu. Sebanyak 29 anak muda usia 18 - 28 tahun dari Pulau Jawa, Pulau Sulawesi, Pulau Sumatra dan Nusa Tenggara Timur mengambil peran serta sebagai peserta kemah setelah lolos dari 124 pelamar di seleksi administratif dan 104 anak muda di seleksi e-course. Seluruh peserta datang dari ragam latar belakang dan ragam identitas iman maupun seksual.

Kegiatan yang berlangsung selama 8 hari 7 malam ini menyajikan pembahasan tentang Otoritas Tubuh, Relasi Kuasa, Sejarah Seksualitas dan SOGIEB (Sexual Orientation, Gender Identity, Esxpression and Body), Perspektif Iman terkait Seksualitas Non-Normatif, Hak Asasi Manusia serta pengembangan kapasitas dalam hal yang menarik. Seluruh materi yang dirancang oleh anak muda ini disuguhkan dalam metoda diskusi yang menyenangkan, permainan dan outing; field trip ke Jemaah Ahmadiyyah dan PLU Satu Hati; perencanaan rencana aksi dalam koridor Riset Aksi, Advokasi dan Media Kreatif; serta pementasan sketsa dan malam budaya.


Oleh Tien Afecto

Monday, September 15, 2014

Bukan Propaganda LGBT

Keberadaan Lebian, Gay, Biseksual dan Transgender atau yang lebih dikenal dengan istilah LGBT di Indonesia memang masih menimbulkan beberapa spekulasi berbeda dari berbagai kalangan masyarakat. Ada yang menyetujuinya, ada pula yang menentang keras keberadaan mereka. Dan ada pula yang acuh dan berusaha tidak peduli terhadap adanya fenomena yang salah satunya melibatkan aktivitas pergantian jenis kelamin dan tentu saja kisah cinta sesama jenis ini.

Fakta yang dihasilkan oleh sebuah lembaga survey terkemuka di Indonesia menyatakan, prosentase peningkatan populasi laki-laki menyukai laki-laki di Indonesia sangat drastis pada tahun 2007 dan 2011, yaitu mencapai angka 600%. Hal ini memang sangat mengagetkan publik. Namun jika dipelajari lebih lanjut, faktor peningkatan angka tersebut sebenarnya bukan mutlak disebabkan oleh munculnya kawan-kawan homoseksual secara seketika ke publik, melainkan lebih kepada faktor keberanian diri yang mulai muncul bagi kawan-kawan gay atau lesbian untuk membuka secara perlahan identitas diri mereka ke mata publik.

Karena nyatanya, 75% dari 600% peningkatan angka tersebut merupakan pribadi-pribadi yang sejatinya sudah cukup lama, atau bahkan sangat lama mengindikasikan diri mereka sebagai bagian dari LGBT, dan baru kemudian muncul keberanian membuka diri setelah melihat beberapa kebijakan-kebijakan internasional yang menitikberatkan pada keberadaan komunitas minoritas.
Ya, sebagai contoh, saat mereka melihat kebijakan Negara-Negara barat yang memperbolehkan pernikahan sesama jenis,  lalu sering munculnya pergerakan anti kekerasan terhadap komunitas minoritas Gay dan Lesbian, dan beberapa kebijakan-kebijakan lain  yang mengajak mereka lebih terbuka dan berusaha menjalani kehidupan mereka dengan ke-apa-ada-annya mereka.

Bahkan salah satu serial televisi musikal Amerika yang cukup populer di banyak Negara yaitu Glee, ikut membantu membuka mata teman-teman LGBT untuk lebih membuka diri mereka dan menjalani kehidupan yang mampu membuat mereka nyaman di atas pro-kontra yang mungkin akan terjadi di lingkungan masyarakat.

Pada awalnya mereka hanya bisa menjalani hubungan “gelap” bersama pasangannya, dengan menjaga hubungan mereka agar terlihat layaknya hubungan adik-kakak atau hubungan persahabatan di mata lingkungan sekitar mereka.

Untuk beberapa dari mereka masa-masa tersebut sudah berlalu dan mulai membuka diri kepada keluarga serta lingkungan mereka atas hubungan yang masih banyak pertentangan dari beberapa pihak. Namun masih banyak yang merasa takut kehancuran akan tiba, saat mereka membuka diri tentang orientasi seksual mereka yang berbeda.

Tak perlu merasa dipojokkan dengan kejadian-kejadian yang mungkin sudah pernah dilihat, karena harus diingat juga, keterbukaan tersebut akan memakan waktu yang tidak pasti untuk pada akhirnya masyarakat menerima kenyataan bahwa keberagaman atas seksualitas tersebut ada di sekitar mereka.
Pertanyaannya sekarang, siapkah sobat bronis tetap menjalani hidup di atas gunjingan masyarakat sampai pada akhirnya masa penerimaan yang tulus dari masyarakat itu datang?

Oleh: Gerry Fathullah

Saturday, September 13, 2014

Grindr, The gay lifestyle

Barangkali sobat bronis pasti sudah tahu apa itu Grindr ? Betul banget, Grindr adalah sebuah aplikasi sosial media mobile berbasis GPS (Global Positioning System) yang khusus diciptakan untuk gay yang dapat diunduh melalui smartphone.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai Grindr, sebenarnya bagaimana sih cara kerja Grindr ? Cara kerja Grindr adalah dengan mendeteksi perangkat terdekat lain pengguna Grindr dengan menggunakan perangkat GPS, dengan demikian pengguna Grindr bisa tahu siapa saja Gay yang berada disekitar pengguna.

Banyak loh kegunaan dari Grindr untuk Gay, tergantung tujuan dan bagaimana menggunakan Grindr itu sendiri. Berbeda tujuan akan berbeda pula hasil yang didapatkan, dan akan berbeda juga foto yang digunakan dalam akun Grindr pengguna tersebut, ada yang menggunakan foto topless, foto serius, foto memamerkan lekukan perut sixpacks-nya dan sebagainya.

Kali ini Brondongmanis.com akan membahas mengenai Grindr berdasarkan tujuan penggunaannya.

1.    Life, Salah satu manfaat dari Grindr adalah sebagai media sosial para gay. Salah satu tujuan seseorang mengunduh dan memanfaatkan aplikasi Grindr adalah untuk mencari ikatan sosial seperti teman dan sahabat. Tujuan ini baik dan banyak memiliki manfaat, sobat bronis bisa mencari sahabat terdekat di sekitar rumah sobat bronis mungkin, atau bahkan teman gay di tempat sobat bronis bekerja. Biasanya pengguna Grindr tipe ini menggunakan foto yang menunjukkan wajahnya, dan biasanya tidak topless ataupun naked. Dan satu lagi, biasanya tipe-tipe pengguna dengan tujuan mencari teman ini memiliki kecenderungan mudah bergaul dan terbuka (Tidak Discreet).

2.    Sex,  adalah salah satu tujuan yang paling banyak diincar pengguna Grindr. Kenapa ? Karena dengan Grindr, pengguna dapat dengan mudah menemukan sex partner di sekitar pengguna. Untuk sobat bronis yang memiliki tujuan ini, harap berhati-hati, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang bakal terjadi, mungkin sobat bronis perlu melakukan tindakan pencegahan seperti tidak membawa barang berharga saat ketemuan, selalu membawa kondom dan perangkat seks lainnya dan lain sebagainya.

Dan yang perlu diperhatikan adalah, kadang pengguna Grindr dengan tujuan ini tidak sedikit yang menggunakan foto yang bukan miliknya. Asalkan ada pengguna lain yang tertarik dan mengajak ketemuan, meskipun wajah tidak sesuai dengan foto, namun jika sudah kepalang horny, pasti mau tidak mau mereka akan melakukan hubungan seks seperti tujuan awalnya.

3.    Money, Biasanya, pengguna Grindr yang bertujuan mencari uang adalah pengguna yang menawarkan jasa pijat dan pengguna yang biasa dikenal sebagai “Escort.” Biasanya pengguna Grindr yang bertujuan mencari uang akan menampilkan foto dengan pose yang seksi, tentunya dengan foto asli. Tujuannya dengan menawarkan jasanya, seperti pijat dan kebutuhan pelayanan seks untuk mendapatkan uang semata, meskipun tidak menutup kemungkinan lainnya. Dan pengguna ini biasanya akan menawarkan harga tertentu sebelum ketemuan. Perlu diketahui juga, lebih tepatnya diwaspadai, bahwa siapapun, dalam keadaan apapun, apabila ada kesempatan dan peluang untuk mendapatkan materi dengan mudah, hal beresiko apapun bisa terjadi. Tindak kejahatan sangat rentan untuk hal yang satu ini. Mungkin awalnya berniat untuk transaksi seksual, tapi ujung-ujungnya bisa mengalami kerugian materi karena penipuan atau berujung maut karena ada hal-hal yang tidak disangka-sangka.

Terkadang, kita harus waspada terhadap hal-hal yeng kelihatan biasa saja. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.

4.    Love   Grindr berpadu dengan Love ? Bisa ? Tentunya bisa, mari kita lihat pengakuan sobat kita, sebut saja namanya mr. W:  
“Aku udah jadian sekitar 8 bulan sama dia, ketemuannya sih di mall, tapi kenalannya di Grindr. Awalnya aku cuma tertarik buat having sex, tapi, eh malah keterusan jadi cinta … ”
-Mr.W

Terbukti bukan, bahwa Grindr juga bisa menjadi wadah untuk mencari cinta. Kalau sobat bronis ingin mencari cinta di Grindr, perhatikan foto dan description sobat bronis, usahakan menggunakan foto asli yang menarik dan menggunakan description apa adanya sehingga ketika ketemuan sobat bronis bisa lebih nyaman.

Selamat ber-Grindr-an, tetap berhati-hati, gunakan akal sehat. Demi kebaikan bersama. ^_^

Oleh: Kemas Mujoko

Thursday, September 11, 2014

Mengerti Cinta, memahami Rasa

Sobat bronis, baik kelompok heteroseksual maupun homoseksual pasti memiliki perasaan yang disebut dengan cinta. Yah, semacam perasaan spesial ke orang lain yang tumbuh secara tanpa sadar di dalam hati kita. Tiap individu memiliki definisi yang berbeda dalam mengartikan cinta.

Love is never wrong, cinta itu nggak pernah salah. Kepada siapa ia mencintai, dan siapa pula yang mencintainya. Baik sahabat Heteroseksual maupun sahabat LGBT juga pasti pernah merasakan apa yang disebut cinta.

Adakalanya di luar sana banyak yang beranggapan bahwa cinta yang dimiliki oleh kawan-kawan LGBT hanya sebatas “nafsu”. Penulis sendiri pernah mendengar dari seorang temannya yang gay, bahwa cinta dalam dunia per-LGBT-an itu tidak seindah cinta di kalangan heteroseksual.

Dan ditambahkan lagi, cinta dalam dunia LGBT terkadang lebih menyakitkan daripada cinta antara laki-laki dan perempuan. Dan alasanya, kawan-kawan LGBT tidak pernah serius dalam hal percintaan.

Nah, sobat bronis, apakah kalian setuju dengan pernyataan diatas ? Secara pribadi, penulis kurang menyetujui pernyataan tersebut diatas. Sebab baginya itu bukanlah kesalahan dari rasa cinta kawan-kawan LGBT, melainkan kesalahan yang ada dalam pribadi dan karakter kawan-kawan LGBT itu sendiri.

Kita semua yakin, bahwa tidak semua LGBT hanya menomorsatukan nafsu dalam hubungan percintaan tetapi lebih menomorsatukan mempertahankan hubungan atas dasar cinta yang tulus tanpa”embel-embel” apapun. Memang, dalam dunia LGBT, kisah cinta yang tumbuh dan berjalan agak sedikit “berbeda” dengan kelompok heteroseksual.

Meskipun LGBT mengacu pada hubungan sesama jenis kelamin, secara tidak langsung pola patriarki bisa kita temukan dalam pembagian peran gender. Misalnya dalam kehidupan gay, ada yang disebut dengan TOP dan BOTTOM (ditilik dari preferensi seksual hubungan gay) atau dalam perspektif Lesbian, ada yang disebut dengan Butche (maskulin ) atau Femme (feminim ). Untuk preferensi seksual  TOP ( bagi Gay ) dan Butch ( untuk Lesbian ) sering kali berada diposisi yang dominan sehingga bisa mengontrol dan mengambil suatu keputusan. Sehingga, ketidakadilan pembagian posisi dan peran dalam berpacaran bisa membuat  hubungan hanya bisa seumur jagung.

Berikut ada beberapa poin yang sekiranya bisa membantu agar hubungan sobat bronis dan pasangan bisa berjalan awet.

1.    Yakin, Meskipun hubungan ini merupakan hubungan sesama jenis, kamu harus meyakinkan pasanganmu bahwa hubungan yang kalian jalani sekarang ini Tidak Main-main alias serius.
2.    Jujur, merupakan hal penting yang harus ada di setiap hubungan. Jangan pernah sesekali berbohong dengan pasanganmu. Karena sekali berbohong, dia akan berbohong untuk yang kedua kalinya untuk menutupi kebohongan pertama.
3.    Pertahankan Komunikasi, Jalinlah komunikasi dua arah dengan pasanganmu. Evaluasi kualitas kalian saat bertemu.
4.    Maaf, Jangan pernah malu untuk mengucapkan kata maaf apabila kita punya salah. Jangan segan meminta maaf apabila kita merasa telah melukai perasaannya.
5.    Tanpa Kekerasan, Seseorang yang memiliki rasa sayang kepada pasangannya, pasti ia tidak akan berani untuk melukai pasangannya. Rasa ingin menyakiti itu tidak akan ada apabila rasa Sayang dan Cinta itu lebih besar.
6.    Komitmen, Keduanya saling meyakinkan diri bahwa, kalian telah memiliki janji untuk saling menyayangi.

Nah, sobat bronis , apabila pasangan kalian benar-benar sayang dan memiliki keinginan untuk mempertahankan hubungan yang selama ini terjalin, maka bisa dipastikan dia telah melakukan 6 hal di atas. Tetapi, apabila salah satu hal tersebut belum dilakukan, maka tanyakan kembali kepada diri kalian apakah ia memang pantas untuk dicintai.

Cinta bisa datang ke siapa saja. So, LGBT sebagai bagian dari kelompok minoritas dalam masyarakat tidak layak mendapatkan stigma dan diskriminasi, apalagi dalam hal percintaan. Karena LGBT juga manusia yang aktif secara sosial dan tidak ada bedanya dengan manusia lainnya yang bisa merasakan jatuh cinta dan berpacaran seperti remaja pada umumnya.

Oleh : Ishariyadi シナガ"

Tuesday, September 9, 2014
Tag : ,

Homoseksual dan Homofobia

Yang pertama, mereka tidak memilih untuk menjadi gay, karena gay bukanlah pilihan. Kalau memang benar gay adalah pilihan, cobalah kalian yang merasa heteroseksual menjadi gay untuk 1 hari dan hari berikutnya kamu memilih menjadi heteroseksual lagi, gak bisa kan?

Kalau ada yang bilang, “Cowok A kemarin sama cewek B, tapi hari ini dia sama cowok C” dan kemudian ada yang berkata "Cowok A itu berubah jadi gay." Atau kalau sebaliknya, hari ini cowok A sama cowo C dan besoknya berubah lagi sama cewek D dan bisa jadi ada yang bilang "Itu buktinya gay bisa sembuh", itu bukanlah identifikasi gay.

Cowok A disini bisa jadi adalah seorang biseksual, sesorang yang secara naluri dan perasaan memiliki orientasi seksual terhadap sesama jenis ataupun lawan jenisnya.

Yang kedua, gay bukanlah sebuah penyakit, APA (American Psychological Association)  pada tahun 1970-an sudah mengeluarkan Homoseksual dari daftar penyakit. WHO (World Health Organization) melakukan hal yang sama pada 17 Mei 1990 dan diikuti oleh Kementerian Kesehatan RI pada tahun yang sama. Homoseksual dikeluarkan, tetapi Pedophillia, Exhibitionist dan lain-lain masih termasuk dalam daftar gangguan kejiwaan. Kenapa? Karena Homoseksual adalah orientasi seksual sama halnya seperti Heteroseksual. Sedangkan Pedophillia, Exhibitionist dan semacamnya, bukanlah bagian dari jenis orientasi seksual.

Organisasi kesehatan berpengaruh di dunia seperti APA dan WHO sudah mengeluarkan Homoseksual dari daftar macam penyakit. Kalau ada yang masih bilang bahwa homoseksual adalah sebuah penyakit, maka siapa yang patut disalahkan?

Organisasi besar dengan pengalaman dan ilmu yang tinggi atau orang awam yang enggan untuk mendidik dirinya sendiri?

Berikutnya, menanggapi pertanyaan klise, Populasi gay tidak meningkat karena seseorang memilih berubah dari heteroseksual ke homoseksual (Lihat pernyataan pertama) tetapi karena sesorang yang memang sudah merasakan ke-gay-annya sejak lama, melakukan tahapan yang disebut "Coming out from the closet" atau simpelnya dalam bahasa Indonesia "Melela".

Coming out ini adalah proses dimana seseorang yang gay, mencoba untuk jujur dan terbuka akan ke-gay-annya kepada orang lain. Entah itu teman, sahabat, teman satu kost, teman kerja, atau yang lebih serius lagi, orangtua mereka.

Ketika mereka yang gay maskulin Coming out, orang lain akan berkata "kok bisa sih, bukannya semua yang gay itu feminim? Dan cowok yang feminim pasti gay?" Ini semua salah besar, Gay tidak semuanya feminim, justru gay maskulin bisa dibilang setara jumlahnya dengan gay feminim, hanya saja karena penampilan mereka yang maskulin, mereka bisa berbaur dan beradaptasi dengan cowok hetero yang lain.

Kalau ada diantara kalian masih ada yang beralasan bahwa homoseksual melawan alam, maka sebenarnya hal itu bisa disalahkan, di alam juga ditemukan perilaku homoseksual, tetapi homophobia (orang yang memiliki kebencian terhadap gay/lesbian) hanya ditemukan di satu makhluk, yaitu manusia "Homo sapiens".

Kalau masih ada diantara kalian mengelak bahwa penulis sudah menyamakan manusia dengan binatang yang tidak berakal, maka setidaknya penulis juga bisa mengelak bahwa bukankah kita selalu menyamakan segala sesuatunya seperti binatang? Pesawat dari burung, helikopter dari capung, kapal selam dari ikan paus dan filosofi-filosofi lainnya, serta bukan tanpa sisi ilmiah, gay memiliki faktor dari gen, hormon, dan urutan kelahiran.

Sumber: http://www.kaskus.co.id/thread/537905bb8907e7d6298b467e/jumlah-populasi-gay-no-offence/

Oleh:  Gerry Fathullah

Sunday, September 7, 2014

Cari Pacar di Klinik - a new experience in a premium HIV test



WARNING : its a real story, sharing experience is a tool to educate :)

Sudah hampir 4 bulan dari test yang terakhir nih, dan Jumat kemarin pas banget buat kembali melakukan pengecekan rutin. As a young Gay who is sexually active, it’s a must for us to do a sexual health test routinely, 3 bulan sekali lah paling tidak. Ini adalah kali ke 7 gue melakukan test, bukan karena adanya keluhan tetapi memang rutin harus dilakukan. Dokter gue bilang kalau mostly Sexual Transmitted Infection termasuk HIV itu gak ada tanda atau gejalanya diawal, jadi cara terbaik untuk mengetahuinya adalah dengan melakukan test berkala secara rutin.

Gue memutuskan untuk melakukan test di Klinik yang belum pernah gue kunjungi sebelumnya. Klinik ini berlokasi di bilangan Panglima Polim Jakarta selatan dekat dengan Dharmawangsa Square, Klinik Yayasan Angsa Merah namanya. Gue direkomendasikan teman karena klinik ini terkenal dengan layanan premium nya yang ramah dan sangat terjangkau. Temen gue juga bilang, kalau mau test disini lebih baik kita melakukan appointment terlebih dahulu melalui telefon supaya gak perlu ngantri dan gak perlu takut berpapasan sama temen yang mungkin kita kenal. Well, he is true, Confidentiality is really matter in HIV test, isn’t it ?.
Akhirnya di Jumat pagi gue menghubungi Klinik Yayasan Angsa Merah untuk melakukan appointment. Di ujung telefon tersambung dengan seorang mas-mas yang ramah sumringah gembirah. Jadi keinget tele customer service nya Halo BCA deh yang selalu charming melalui telefon. Appointment pukul 12 siang pun dijadwalkan sesuai dengan kesediaan waktu gue makan siang.

Singkat cerita sampailah di Klinik dengan design interior minimalis with a bit touch of industrial look, design interior rumah impian gue banget. Seorang perempuan yang juga kembali ramah menyambutku. I thought she is a front desk officer, but she is not, she is nurse !. Agak pangling awalnya karena si suster ini tidak mengenakan seragam dan topi putih seperti suster-suster pada umunya. She is dressing in a casual trendy look. Kece deh ! . Tanpa harus menunggu, suster langsung mengarahkan untuk masuk dan duduk di ruang konsultasi. Ia menyodorkan selembar form sederhana untuk diisi and then she asked me, “What do you want to drink ?” What a service ! bisa minta kopi, teh, panas, dingin. Its like a first class experience, isn’t it ?.  Pernah gak lo bro di rumah sakit, klinik, atau layanan kesehatan ditawarin dibikinin teh atau kopi ?

5 menit berselang, sang dokter masuk ke ruang konsultasi. Surprisingly, she is dressing in a casual look as well tanpa jubah putih kedokteran itu lho. Directly i got the point ! Klinik ini tidak ingin memberikan jarak antara pasien dengan tenaga medis hanya karena pakaian yang mereka kenakan.

Kita banyak ngobrol santai selama konsultasi. I confess that im Gay since the beginning of consultation, karena tidak ingin konsultasi atau diagnosanya menjadi bias nantinya. Tidak ada yang berubah dari sikap si dokter, gue cukup terkaget karena justru ternyata ia tahu betul kebutuhan seorang Gay. Setelah ngobrol mengenai alasan-alasan mengapa gue mau melakukan test, gue nyeletuk ke obrolan yang lebih personal dan bilang “Dok, Saya jomblo. Carikan pacar doong”. Dan kita tertawa bersama, namun si Dokter menanggapinya dengan cukup serius. Sejenak ia memikirkan mengenai teman-temannya yang Gay dan juga jomblo, and she promises to introduce me with one of her Gay friend. Yeaay ! akan kutagih janjimu dok :)

Proses pengambilan sample darah dan cairan pun dilakukan, lalu gue diminta untuk menunggu hasil lab sekitar 20 menit. Sambil menunggu ada free wifi lho, jadi bisa menunggu dan tetap eksis atau tetap update kerja. Hasil lab pun datang setelah 15 menit dan pembukaan hasil test pun dilakukan sesuai dengan prosedur yang memastikan kenyamanan pasien.

Setelah semua selesai, proses pembayaran dilakukan. Guess what ? I just need to pay around Rp 50.000 for all of those services and premium attitudes. Im lucky because during the whole September they have promo for Consultation + HIV test + Sifilis test for only Rp 50.000, dimana biasanya bernilai seharga kirasan Rp 300.000. Klinik Yayasan Angsa Merah ternyata sering sekali melakukan promosi-promosi bulanan untuk bisa mendorong akses premium yang terjangkau bagi semua orang. 

Ok. Kesimpulannya adalah, layanan premium dan terjangkau ini sangat bersahabat dan cocok bagi kamu. They will not judge you at all !. Its fast, confidential, and comfortable. Gue jelas akan kembali ke klinik ini untuk melakukan test berikutnya (dan menagih janji sang Dokter :) )


berikut adalah info mengenai Klinik Yayasan Angsa Merah :
Jalan Panglima Polim Raya 6
Blok A, Kebayoran Baru - Jakarta Selatan
021 - 7247676  / 0812 - 90564940



oleh : Setia Perdana
Saturday, September 6, 2014

- Copyright © BrondongManis -