Ketahui Bahwa Kamu Hanya Dimanfaatkan


“Mencintai bukanlah hal yang mudah, Namun percayalah, ini menyenangkan” –Jojo.

Dalam hubungan memang kepercayaan sangat dibutuhkan. Namun apabila rasa kepercayaan itu menjadi rasa percaya yang bodoh, sobat Bronis harus mulai berhati-hati. Jangan sampai cinta kita bertepuk sebelah tangan dan justru hanya dimanfaatkan oleh si doi. Lalu rasa percaya yang pintar itu seperti apa sih? Lalu, rasa percaya yang bodoh itu seperti apa juga? Kali ini Brondongmanis akan membahas mengenai kiat-kiat rasa percaya yang pintar, agar sobat Bronis tidak terjebak dalam cinta semu.

1. Kamu melulu yang berjuang
Pernah menyadari nggak kalau selalu kita yang berjuang, sementara pasangan kita jarang banget berjuang untuk kita? Untuk mengetahui status perjuangan bisa diukur loh. Dapat melalui sms/WA, coba kita hitung ada berapa kali kita mengucapkan selamat pagi atau memulai pembicaraan kepada pasangan dalam 1 bulan terakhir. Jika kebanyakan kita yang aktif, maka bisa diketahui bahwa kita melulu yang berjuang. Lalu juga bisa diukur melalui berapa banyak permintaan yang pasangan minta. Jika pasangan banyak meminta tolong kepada kita dan kita jarang sekali meminta tolong sesuatu kepada pasangan, bisa diprediksikan bahwa kita dimanfaatkan.    

“Cinta itu harus seperti hukum 3 Newton, aksi = reaksi. Jika kamu hanya memberi aksi tanpa mendapatkan reaksi atau sebaliknya, maka kamu menentang hukum alam” –Jojo.  

Kadang memang ketika sedang jatuh cinta akal dan logika tidak dapat berjalan secara sehat. Apa contohnya? Ketika kita rela untuk membelikan apapun untuk dia, dan bahkan rela berhutang, rela mengorbankan kebahagiaan diri sendiri untuk membahagiakan si doi. Mulailah menggunakan akal sehat! Jangan sampai perjuangan kita sia-sia jika tidak ada timbal balik.  

2. Dengarkan kata sahabatmu dan logikamu, bukan hatimu
“Logika dan hati memang diciptakan bersamaan, namun tidak bekerja beriringan”-Jojo.

Benar kadang ketika kita sudah terlalu jauh mencintai seseorang, kita lupa diri bahwa kita telah dimanfaatkan. Maka, kita perlu mendengarkan kata orang yang kita percaya dan logika kita, bukan mendengarkan hati.

3. Hitung
Bukannya bermaksud perhitungan, tapi menghitung itu harus dilakukan loh. Agar kita mengetahui seberapa banyak aksi yang sudah kita berikan dan sudah berapa banyak reaksi yang sudah kita terima. Berhitung disini memang dalam bentuk uang, namun juga sesuatu yang bisa diuangkan. Misalnya begini, kita selalu mengantar jemput pacar setiap hari. Jika dihitung sama dengan menghabiskan uang Rp. 100.000, misalnya. Namun ketika diperjalanan, pacar kita memberikan kenyamanan dengan ngobrol, bercerita, dan sebagainya. Hal tersebut sudahlah merupakan bentuk dari timbal balik yang pacar kita berikan. Hal yang berbeda jika kita sudah berkorban untuk menjemput, namun si pacar justru diam saja selama perjalanan. Memangnya kita ini tukang ojek?   Kemudian contoh lain untuk menghitung, cobalah hitung pemberian yang kita berikan. Misalnya boneka, susu, jam, baju atau apapun itu dengan jumlah berapa kali lovers memberikannya. Kalau  kita pernah memberikan barang 5 kali kepada pacar, lalu si doi tidak pernah memberikan apapun, berhati-hatilah. Itu adalah tanda kamu dimanfaatkan. Hal yang perlu diperhatikan agar tidak terlihat seperti perhitungan adalah hanya kamu yang mengetahui perhitungan-perhitungan itu.  

4. Lebih merasa sakit daripada bahagia
Ini yang paling penting. Ketika dalam hubungan percintaan kita justru lebih sering merasakan disakiti daripada merasakan bahagia, kita harus mulai berfikir kembali. Apakah hubungan tersebut adalah hubungan yang membahagiakan atau justru lovers hanya dimanfaatkan?  Yang menjadi masalah adalah ketika kita disakiti namun kita membohongi diri sendiri.  

“Mencintai itu tentang kejujuran, bukan kebohongan. Jika cinta itu bohong, munafik namanya”-Jojo.  Kalau kita jelas-jelas merasa dimanfaatkan tapi karena cinta kepada doi, lovers menanggapnya biasa saja. Itu sudah termasuk munafik loh.

5. Coba di-test
Di-Test!!! bukan ke tempat pelayanan kesehatan, tapi guna mengetahui apakah kita hanya dimanfaatkan atau tidak. Contoh, kita selalu diminta untuk menjemput doi. Cobalah sesekali kita yang meminta jemput. Jika setelah beberapa kali menolak dengan sejuta alasan, maka perlu dipertimbangkan apakah ia benar mencintai atau hanya memanfaatkan.  

Sudah tahukan sedikit tips menghindari “dimanfaatkan”? Yuk kenali hubungan pacaran yang sehat!


Oleh: Achmad Mujoko
Wednesday, December 17, 2014

Waria, They are part of Women movement too

Dia Alexa, seorang perempuan muda yang bekerja untuk mengadvokasi kebutuhan teman-teman sebayanya kala mendapat kekerasan dan perlakuan tidak adil dari perlindungan hukum. Kali pertama bertemu dengannya, kita akan sadar bahwa ia bukan seorang perempuan seperti halnya perempuan lain. Alexa adalah seorang waria, seorang perempuan sosial. Komnas Perempuan Indonesia mengakui bahwa perempuan tidak hanya didefinisikan secara biologis namun juga sosial dari gender yang diperankan.

Seperti kebanyakan sebayanya, Alexa menghadapi diskriminasi institusional, penindasan, dan kekerasan sebagai akibat dari transphobia (ketakutan akan transgender) serta seksisme, karena obsesi struktural jender yang biner. Pun begitu hal nya dengan yang dihadapi oleh banyak perempuan lain dalam mendorong kesetaraan melawan dominasi laki-laki. Bukankah seharusnya kita berada dalam satu perjuangan yang sama ?

Yes, mungkin teori gender dan seksualitas sangatlah kompleks. Namun hidup seseorang jauhlah lebih penting ketimbang teori-teori tersebut. Marilah membuka diri dengan kompleksitas yang melampaui pemahaman kita. Kita harus dapat menghormati bahwa setiap orang adalah sebuah otoritas dari pengalaman mereka sendiri. Perempuan sosial maupun biologis merupakan bagian dari gerakan yang sama untuk melawan seksisme. Dan sangat membutuhkan gerakan inklusif yang mendukung dan memperjuangkan satu sama lain jika kita benar-benar memahami dan ingin mengatasi masalah yang kita hadapi saat ini.

Oleh Setia Perdana
Tuesday, December 16, 2014
Tag :

Mahkota Di Atas Tahta Transgender


“Ini adalah langkah awal, masih banyak yang harus dikerjakan terutama mengadvokasi diri sendiri,” ungkap Rebecca, pemenang Miss Waria Remaja 2014.  

Sobat Bronis, kalian pasti tahu dong dengan ajang Miss atau pemilihan ratu? Nah, kali ini Brondongmanis akan membahas tentang pemilihan Ratu atau Miss. Beberapa hari yang lalu sebuah organisasi yang mengangkat isu Transgender (MTF/Male-to-Female) dengan menggelar acara 'Pemilihan Miss Waria Remaja 2014'.  

Event tahunan ini sempat vacum satu tahun. Namun, pada tahun 2014 Sanggar Waria Remaja (SWARA) kembali menggelar acara pemilihan Miss Waria Remaja. Tepat pada tanggal 5 Desember 2014. di GOR Jakarta Barat untuk Malam Inagurasi.  

Setelah mengikuti Transchool, 20 Waria Remaja dilatih oleh Sanggar Waria untuk karantina dan mengikuti kelas Transchool. Kelas Transchool terbagi menjadi dua kelas yaitu, Kelas Reguler dan kelas mengunjungi lapangan, seperti berkunjung ke Museum Nasional untuk mempelajari Sejarah Seksualitas dan berkunjung berkeliling Jakarta menggunakan Bus Jak City.  

Selama masa karantina para peserta diikutkan dalam berbagai workshop, diantaranya SOGIEB, HAM dasar, Gender, serta pengetahuan tentang bahaya dan pencegahan virus HIV AIDS. Semua pembelajaran itu untuk modal saat malam inagurasi nanti. Setelah mengikuti berbagai rangkaian yang di fasilitasi oleh SWARA, terpilih menjadi 20 finalis yang masuk babak malam puncak pemilihan miss waria. Peserta berasal dari berbagai kota, yaitu Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Bogor, Depok dan Bekasi.    

Walaupun cuaca yang kurang bersahabat pada malam puncak Pemilihan Miss Waria, acara tetap berlangsung. Para undangan dan pendukung dari ke-20 finalis sudah mulai memadati Gedung Olah Raga (GOR) Jakarta Barat pada pukul, 18:00 WIB. Opening acara dimulai dengan tarian khas daerah Bali, yang diikuti dengan parade ke-20 Finalis Miss Waria Remaja. Para Finalis menggunakan gaun malam yang sangat keren dan cantik satu-persatu menunjukan keahlian mereka, sehingga membuat para pendukung dan juri terkesima.    

Dari 20 finalis ini kemudian dipilih menjadi 10 besar. Para finalis 10 besar mendapatkan pertanyaan dari box yang disediakan oleh panitia. Dari seleksi tanya jawab itu tiga besar finalis, yaitu Rebecca, Ajeng, dan Yani. Ketiga besar Miss Waria Remaja, kembali melakukan parade dan berlenggok-lenggok di hadapan juri dengan menggunakan gaun malam yang berbeda. Setelah itu, mereka mendapatkan pertanyaan masing-masing dari satu juri yang memberikan pertanyaan secara langsung pada masing-masing finalis.

Pertanyaan dari juri adalah pertanyaan dimana semua finalis sudah mendapatkan pengetahuannya saat mereka di karantina, yaitu seputaran HAM Dasar, Virus HIV AIDS, serta SOGIEB. Juri kembali dibuat bingung untuk menilai karena jawaban finalis 3 besar yang sangat bagus.  

Setelah Inez dan Agung sebagai MC mengumumkan hasil nilai akhir dari dewan juri, suasana sangat menegangkan. Setelah Yani terpilih sebagai Runner Up 2, Inez kembali mengumumkan untuk Runner Up 1 dan Miss Waria Remaja. Suasana semakin semangat dengan teriakan para pendukung Rebecca dan Ajeng. Namun, keputusan saat itu sudah dipegang oleh MC. Lalu, kedua besar itu berhadapan sambil berpegangan tangan. Dari belakang datang Miss Waria Remaja 2012, Ratna, yang memakaikan mahkota ke atas kepala Rebecca sebagai Miss Waria Remaja. Otomatis, Ajeng mendapati posisi Runner Up 1.

Selamat untuk Miss Rebecca!


Oleh: Lutfi Hendsob
Monday, December 15, 2014

HKSR = Hak nya kita sebagai Remaja

Hai Sobat Bronis, seringkali kita mendengar kalimat Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi atau yang biasa disingkat dengan kata HKSR, yang belakangan ini selalu dikampanyekan oleh para remaja di Indonesia, bukan hanya disuarakan oleh remaja LGBT tentunya HKSR juga disuarakan oleh remaja lainnya, karena kebutuhan remaja akan informasi ini sangat dibutuhkan, dimulai dari pelajar sekolah dan mahasiswa.
   
World Health Organization (WHO) telah mendefinisikan makna sehat sebagai suatu keadaan sejahtera secara fisik, mental dan sosial. Artinya, sehat tidak hanya suatu keadaan terbebas dari penyakit atau kecacatan saja. Artinya seseorang yang sehat tidak mengalami keluhan fisik, tapi juga merasa terbebas dari tekanan psikologis dan bisa berinteraksi dan berperan apa adanya  secara sosial dengan lingkungannya.

Kesehatan seksual juga didefinisikan sebagai keadaan sejahtera secara fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan seksualitas. Kesehatan seksual memerlukan adanya penghargaan terhadap seksualitas seseorang, termasuk dalam hal merasakan kenikmatan seksual dan hubungan seks yang aman tanpa paksaan dan kekerasan.

Jadi bisa dibilang bahwa jika kita sehat secara seksual maka kita bisa memilih pasangan seksual sesuai yang kita inginkan, merasakan kenikmatan seksual, dan terbebas dari risiko kehamilan yang tidak direncanakan dan infeksi menular seksual, dan bebas dari segala paksaan dan kekerasan.
  
Sedangkan kesehatan reproduksi didefinisikan sebagai keadaan sejahtera secara fisik,  mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, fungsi dan prosesnya.

Jadi seseorang merasa sehat reproduksi jika organ reproduksinya mampu berfungsi dengan baik, bisa menentukan apakah mau memiliki anak atau tidak, jumlah anak dan jarak antar anak yang dilahirkan, serta memilih alat kontrasepsi yang diinginkan tanpa adanya paksaan.
 
Dan semuanya juga mencakup Hak seksual yang merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia yang telah diakui oleh hukum nasional dan internasional, serta dokumen dan perjanjian internasional.

Hak asasi ini termasuk hak semua orang untuk bebas dari pemaksaan, diskriminasi dan kekerasan untuk:

• Menerima pelayanan kesehatan yang berkualitas terkait dengan seksualitas, termasuk akses ke pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi
• Mencari dan menyampaikan informasi terkait dengan seksualitas
• Mendapatkan informasi dan pendidikan seksualitas
• Menghormati integritas tubuh
• Memilih pasangan
• Memutuskan untuk aktif seksual atau tidak
• Melakukan hubungan seksual
• Memutuskan untuk menikah atau tidak menikah
• Memutuskan untuk memiliki atau tidak memiliki dan kapan punya anak
• Memiliki kehidupan seksual yang memuaskan, menyenangkan dan aman,  Sebagai catatan bahwa pemenuhan hak asasi manusia seseorang harus memperhatikan dan menghormati hak asasi orang lain (Organisasi Kesehatan Dunia, Oktober 2002).

Meliputi hak asasi manusia tertentu yang telah diakui dalam hukum nasional dan internasional, serta dokumen dan perjanjian nasional dan internasional hak asasi manusia. Hak asasi ini berlandaskan atas pengakuan hak-hak dasar bagi pasangan dan individu untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab terkait jumlah, jarak dan waktu memiliki anak, memiliki akses ke informasi dan pelayanan terkait, dan juga hak untuk mencapai standar kesehatan seksual dan reproduksi optimalnya.

Termasuk hak untuk membuat keputusan terkait reproduksi tanpa adanya diskriminasi dan kekerasan seperti yang disebutkan di Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population Development, Kairo, 5-13 September 1995).

Jadi, apakah sobat Bronis sudah merasa Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksinya terpenuhi ?  Jika belum, mari kita suarakan bersama-sama.   

Oleh @Daviwae

LGBT, Cinta, dan Tuhan

Apa yang ada di kepala orang-orang awam jika mendengar kata Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender ? Di negara heteronormatif yang penduduknya masih banyak yang homophobic ini, LGBT kerap kali diidentikkan dengan seks, penyakit, pendosa, bahkan dilaknat Tuhan. Berbagai stigma tersebut muncul karena ketidaktahuan mereka.

Mereka tidak tahu bahwa seorang lesbian, gay, biseksual, dan transgender juga merupakan manusia yang bebas memilih keyakinannya.  
Kita harus sadar bahwa keberagaman orientasi seksual dan identitas gender juga merupakan kehendak Tuhan. Apapun orientasi seksual mereka, baik homoseksual atau heteroseksual adalah apa yang Tuhan berikan pada mereka.

Begitu pula yang terjadi pada transgender dan interseks. Keberagaman itu adalah salah satu bentuk kebesaran Tuhan, Sang Maha Pecipta. Oleh karena itu, menghujat seseorang hanya karena orientasi seksual atau identitas gendernya sama saja dengan mengingkari ciptaan Tuhan.

Agama mana yang tidak mengajarkan cinta dan kasih sayang ? Tuhan menginginkan umatnya hidup dalam kedamaian. Bukan saling menyakiti karena perbedaan. Bukan pula untuk menindas mereka yang dianggap minoritas. Setiap agama memang memiliki kitab sebagai petunjuk untuk umatnya. Memang, kita tidak bisa mengubah isi kitab suci. Namun, kita dapat mengubah perspektif kita dalam menafsirkan setiap ayatnya.

Misalnya, hukum Islam tentang transgender. Kondisi transgender memang belum ada pada zaman Nabi karena belum adanya teknologi untuk itu. Saat ini, banyak yang mempertanyakan apakah transgender diperbolehkan atau tidak. Berbagai penafsiran ulama pun muncul. Pada dasarnya, sebelum menentukan boleh atau tidaknya kita harus melihat dahulu apakah hal tersebut akan membawa kebaikan bagi yang melakukannya.

Apakah setelah melakukan proses penyesuaian gender orang tersebut akan lebih sehat jiwa dan raganya ? Apakah gender dysphoria menjadi alasan orang tersebut untuk tidak beribadah ? Karena cara beribadah dalam Islam diatur berdasarkan gender. Kondisi ini membuktikan bahwa agama berkembang mengikuti perkembangan kajian keilmuan.

Begitu pula saat kita jatuh cinta. Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta. Apakah dengan laki-laki, perempuan, atau keduanya ? Beberapa agama memang tidak membenarkan manusia mengumbar hawa nafsu yang berujung seks bebas. Maka, sebagai manusia yang beriman pada Tuhan kita harus dapat memisahkan antara cinta dan hawa nafsu.

Karena jatuh cinta juga merupakan kehendak Tuhan yang tidak bisa kita cegah. Mengapa Tuhan mengutuk kaum Nabi Luth ? Karena mereka telah dibuat lupa diri oleh hawa nafsunya. Sayangnya, hal tersebut selalu diidentikkan dengan gay. Padahal, tidak semua gay berlaku seperti kaum Nabi Luth yang melakukan hubungan seks dengan liar ataupun pemaksaan.

Oleh karena itu, menjadi LGBT bukanlah alasan untuk jauh dari Tuhan. Yakinlah bahwa Tuhan memiliki rencana dalam menciptakan kita dalam kondisi yang “unik”. Karena tidak semua orang terlahir dan mampu bertahan hidup dalam kondisi tersebut.

Setiap nafas dan langkah kita setiap harinya merupakan kasih sayang-Nya pada kita. Karena Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan umatNya.   Tuhan tidak pernah benar-benar meninggalkan kita sendirian. Selama kita selalu mendekatkan diri padanya. Begitu pula pada LGBT.

Walau kita telah mendapatkan penolakan dari manapun, kita tetap memiliki Tuhan sebagai tempat bersandar. Tuhan yang menciptakan kita dengan segala keunikan yang kita punyai.

Oleh Abhipraya Ardiansyah
Sunday, December 14, 2014
Tag :

LGBT dan Keimanan

Ketika berbicara mengenai LGBT dan iman kepercayaan, pada umumnya orang akan dengan mudah (dan cepat) mengasosiasikan LGBT dengan dosa. Dan biasanya pula interaksi dari kedua hal hanya satu arah, dimana biasanya jarang bagi kita untuk menggali lebih jauh pandangan LGBT sendiri terhadap iman mereka, karena kebanyakan yang dibahas hanya pandangan iman terhadap LGBT.

Dulu ketika penulis menyusun skripsi, ada kesempatan untuk berinteraksi dengan beberapa senior yang transgender. Hampir dari mereka mengidentifikasi diri sebagai waria. Salah satu aspek yang penulis gali dari mereka adalah komitmen religious, dimana ini merupakan suatu variabel yang secara subjektif dinilai oleh masing-masing individu tentang seberapa jauh mereka memiliki komitmen dalam kehidupan religius mereka. Satu hal yang penulis temui menarik adalah bahwa terlepas dari banyak perilaku negatif yang mereka terima dari kelompok yang mengaku berahklak baik, mereka tetap membutuhkan siraman rohani dari Tuhan mereka.

Sungguh haru ketika mendengar mereka mengatakan bahwa mereka tidak peduli terhadap pandangan orang-orang yang bilang mereka kelompok terkutuk, karena pada dasarnya yang akan menjadi pertimbangan bagi Tuhan terhadap mereka adalah kebaikan dan keburukan yang dilakukan selama hidup.

Hal yang mirip juga penulis temukan di teman-teman yang mengidentifikasi sebagai gay ataupun lesbian. Sungguh tidak adil rasanya karena banyak yang masih mengira ketika seseorang menjadi gay (yang dianggap pendosa besar), berarti orang tersebut memiliki batas toleransi yang rendah untuk berbuat dosa yang lain.

Satu kasus dimana seorang gay yang sedang berkumpul bersama teman-temannya mengatakan dia tidak mengkonsumsi makanan yang dianggap haram, namun temannya mengatakan bahwa karena dirinya gay, makan makanan haram seharusnya tidak lagi menjadi masalah. Sering kita melupakan fakta bahwa LGBT juga manusia yang bisa memiliki iman dan kepercayaan terhadap entitas lain di luar manusia.

Seharusnya kita bisa menyadari bahwa LGBT (yang pada umumnya karena faktor dorongan dalam diri yang hampir tidak mungkin untuk diubah) juga memiliki keinginan untuk berhubungan dengan figur yang lebih besar dari  manusia (pada umumnya Tuhan).

Selayaknya manusia lain yang memiliki orientasi seksual yang ‘straight’, individu LGBT juga memiliki rasa berketuhanan yang sehat. Banyak diantara mereka yang rindu untuk bisa beraktifitas di tempat ibadah untuk melakukan devosi mereka terhadap iman yang mereka percayai.

Terkadang banyak orang lupa bahwa yang menentukan kadar beratnya suatu dosa dan kualitas keimanan seseorang adalah Tuhan dan bukan sesama manusia. Peran kita sebagai manusia hanya berperan untuk mengingatkan (tanpa harus memaksakan).

Berbagai tekanan dari kelompok religius terhadap LGBT membuat kelompok LGBT memiliki komitmen religius yang unik. Bila pada umumnya kelompok non-LGBT memiliki komitmen religius yang bersifat komunal, religiusitas bagi kelompok LGBT menjadi lebih bersifat personal.

Meski banyak yang ingin terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan bersama masyarakat yang lain, devosi iman menjadi lebih bersifat vertical karena kurangnya tanggapan positif dari hubungan horizontal terhadap sesama pemeluk agama. Kehidupan religius akan lebih baik jika sebenarnya antar pemeluk agama sadar peran sebagai sesama umat untuk saling merangkul satu sama lain, karena pada akhirnya yang menentukan kadar keimanan seseorang adalah Tuhan, bukan kelompok tertentu yang terdiri dari sesama manusia.

Meski demikian, sekarang sudah mulai ada kemajuan yang positif dimana kelompok agama juga sudah mulai menunjukkan sedikit demi sedikit perubahan sikap terhadap isu-isu yang dianggap tabu sebelumnya untuk didiskusikan. Semoga ke depannya kita bisa saling merangkul dan memanusiakan manusia terlepas dari berbagai label orientasi seksual maupun identitas gender.
Salam keberagaman!

oleh Kevin Halim
Saturday, December 13, 2014
Tag :

(Trans)Men’s Health

Di social media, kita sering melihat transman dari luar negeri yang memiliki tubuh ideal. Hampir tidak ada bedanya dengan cismale, apalagi mereka yang memiliki tubuh berotot dan perut six pack. Postingan seperti itu sering kita temui di Youtube, Instagram, Facebook dan lain-lain. Tidak sedikit pula dari mereka yang membagi tips olahraga dan hidup sehat untuk mendapatkan tubuh idaman.

Tidak dipungkiri bahwa gaya hidup sehat adalah kebutuhan setiap orang, tidak terbatas oleh jenis kelamin atau gender tertentu.

Ada beberapa hal yang menyebabkan fitness dan bodybuilding juga marak di kalangan transmen.
Pertama, untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan gender dysphoria. Karena gender dysphoria menyebabkan seseorang tidak suka bahkan takut pada tubuhnya sendiri. Apalagi yang diinginkan transman selain tubuh layaknya laki-laki biologis ! Dengan olahraga ini, diharapkan transman dapat memperoleh tubuh yang ia inginkan dengan sempurna.

Kedua, menjaga kesehatan tubuh. Bagi transman yang tengah menjalani terapi hormon, pola hidup sehat diperlukan untuk menghindari risiko berbagai jenis penyakit. Yang paling sederhana adalah kelebihan berat badan. Karena pengaruh hormon testosteron yang menyebabkan nafsu makan meningkat. Efek lainnya adalah kolesterol dan gula darah yang mudah melonjak. Maka, transman harus menjaga pola makan dan olahraganya. Karena kolesterol dan gula darah dapat memicu berbagai komplikasi penyakit lainnya.

Ketiga, sebagai cara untuk menyayangi diri sendiri. Seseorang yang melakukan proses transseksual cenderung memperhatikan sekecil apapun perubahan yang ada pada dirinya. Baik perubahan yang mereka inginkan, maupun tidak. Misalnya, otot-otot tubuh yang berkembang atau malah berat badan berlebih yang tidak diinginkan. Dari perubahan itu, transman akan semakin menyayangi dirinya dengan menjaga pola hidup sehat.

Namun, tidak jarang kegemaran olahraga transman ini menimbulkan masalah dalam diri mereka. Misalnya, saat berolahraga di fitness center. Beberapa transman, terutama yang belum fully transitioned, merasa tidak nyaman saat harus berada di locker room. Masalah klasik dalam transgender. Apa yang dilakukan ? Ada yang memilih untuk langsung pulang tanpa mengganti baju, ada yang mengganti baju di bilik toilet, dan lain-lain. Belum lagi masalah ketika akan berenang.

Karena masalah ini juga, beberapa transman enggan berolahraga di fitness center. Selain karena faktor rawan dysphoria, kesibukan dari studi dan pekerjaan juga mempengaruhinya. Maka, alternatif yang dilakukan pun bermacam-macam. Misalnya, jogging, basket, futsal, bulutangkis, bodyweight workout, street workout, atau membeli alat-alat fitness sederhana di rumah. Program-program latihan singkat namun melatih seluruh tubuh dapat digunakan bagi mereka yang sibuk.

Menjaga kesehatan tubuh tidak lupa harus menjaga pola makan. Karena risiko melonjaknya kolesterol dan gula darah, transman harus berhati-hati dalam memilih menu makanan dan minuman. Begitu juga dengan waktu istirahat yang cukup. Memang, proses penyesuaian gender ini membuat transman harus memperhatikan tubuhnya dengan ekstra ketat. Demi tubuh yang mereka inginkan dan hidup yang lebih sehat.

Stay healthy and gorgeous!

oleh Abhipraya Ardiansyah
Friday, December 12, 2014
Tag :

- Copyright © BrondongManis -