Haruskah Buru-Buru Coming Out ?

Tiga tahun lalu aku memutuskan untuk Coming out kepada keluargaku. Tanpa sebuah persiapan yang mantap aku hanya ingin mereka tahu bahwa aku, anaknya adalah seorang Gay. Apakah berjalan dengan baik ?, Tidak. Luapan emosi yang menyakiti hati muncul dari masing-masing kami. Perlu waktu bertahun-tahun untuk kembali mendekatkan kami. But im so blessed, because my mom is always there. Hal ini membuatku kuat untuk menunjukkan banyak pembuktian kepada keluarga dan mereka disekitar bahwa Gay is not define the whole me. It’s not define my capabilities, my skills, my knowledge and my care for others.

Is Coming out an important process ?, Yes. Tapi apakah kita dapat berstrategi pintar dalam melakukan proses coming out ?

Coming out adalah sebuah proses yang tidak dapat diulangi atau dipungkiri kembali di kemudian hari, sehingga keyakinan terhadap diri sendiri menjadi penting untuk terlebih dahulu dilakukan. Apakah kamu betul-betul bukan seorang heteroseksual ? Kita tidak bisa memahami hal ini hanya dengan eksperimen sebuah perilaku seksual yang pernah kamu lakukan. Pahami lebih mendalam siapa dirimu secara romantis, ketertarikan, emosi serta hasrat. Dan hal ini haruslah kita pahami dalam sebuah proses dan pengalaman hidup yang tidak tergesa-gesa. You know what, nowadays im thinking, maybe im a bisexual. Apakah aku dapat melakukan Coming out untuk yang kedua kali ? Tidak sesederhana itu.

Proses penerimaan diri menjadi langkah awal terpenting yang mesti didahulukan sebelum sobat bronis melakukan Coming Out. Apakah kita sudah betul-betul tahu siapa diri kita ? Apa sobat bronis sudah merasa nyaman ? Apakah kita masih sering menyalahkan diri karena orientasi seksual yang kita miliki ? Pikirkan dan selesaikan dulu konflik-konflik internal dalam diri tersebut sebelum kita melangkah untuk memilih Coming Out.

Seksualitas adalah suatu hal yang cair. Alfred C. Kinsey, seorang pakar kajian seksualitas sejak tahun 1948 dalam study-study-nya menunjukkan bahwa orientasi seksual manusia dapat digambarkan dalam skala 0 sampai 6. Angka Kinsey 0 untuk menunjukan mereka yang eksklusif heteroseksual dan angka Kinsey 6 menunjukan mereka yang eksklusif Homoseksual. Menurutnya setiap orang memiliki kecenderungan homoseksual, hanya saja dengan skala yang berbeda-beda. Sulit juga untuk memberikan label secara mutlak bahwa seseorang heteroseksual atau homoseksual, karena pada kenyataannya skala Kinsey pada tiap-tiap orang dapat berubah-ubah.



Oleh Setia Perdana
Thursday, October 30, 2014

Sumpah Pemuda di Mata LGBT Muda

Halo sobat bronis, sekarang kita sudah di penghujung akhir Oktober. Tepatnya tanggal 28. Tau dong kalau sekarang ini kita sedang merayakan momentum terbaik sebagai bagian dari generasi muda Indonesia.

sewaktu sobat bronis masih di bangku Sekolah Dasar, pasti pernah di suruh hapalin teks Sumpah Pemuda kan ? Tau maknanya gak sih ? Apa ada keterkaitannya dengan orientasi seksual kita di era sekarang ?

Kita bahas satu persatu yaa.. ! Isi sumpah pemuda sangat erat hubungannya dengan motivasi para pemuda Indonesia untuk bersatu dan maju bersama. Hari Sumpah Pemuda yang selalu diperingati setiap 28 Oktober, diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia khususnya kelompok pemuda sejak 28 Oktober 1928. Ini merupakan sebuah tonggak bersejarah dimana pemuda-pemuda Indonesia berjanji untuk bersetia menjadi generasi penerus  yang dapat memajukan kehidupan berbangsa, dan ketika itu bangsa Indonesia mulai terlahir kembali.

Dan perlu sobat bronis tau, Hal yang melatarbelakangi adanya Sumpah Pemuda itu sendiri adalah adanya sebuah penindasan, pemuda Indonesia tidak ingin lagi dijajah. Ditambah lagi adanya sifat chauvinisme kedaerahan dari wilayah-wilayah Indonesia. Sehingga perlu media/alat pemersatu yang bisa menghapus semua perbedaan yang menjadi penghalang persatuan Indonesia.

Oleh karena itu para pemuda Indonesia berkumpul dan bersatu untuk memajukan bangsa dan menjauhkan penjajah yang menindas bangsa Indonesia. Wihhhh keren kan maknanya guys :)

Terkait dengan orientasi seksual kita sebagai remaja LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender), seberapa besar sih peranan kita dalam kemajuan bangsa Indonesia di kehidupan sekarang ? Mungkin sekarang sudah tidak ada lagi penjajah yang menindas kebangsaan kita, tapi apa kita sendiri masih merasa terjajah oleh sesama remaja lainnya seperti bully yang mengakibatkan kemunduran kita sebagai generasi muda berkualitas ?

Awal terpenting yang harus sobat bronis lakukan adalah mengakui bahwa diri kita sama dengan remaja lainnya, tanpa alasan apapun. Jangan jadikan orientasi seksual, ekspresi gender dan lain-lain menjadikan kita semakin mundur dan meninggalkan kewajiban kita sebagai generasi yang juga berhak untuk berkontribusi dalam kemajuan Indonesia kedepannya nanti.

Tunjukkan pada pahlawan kita terdahulu dan orang-orang di luar sana, bahwa kita mampu menjadi pemuda yg dapat memberikan kontribusi terbaiknya untuk kemajuan Indonesia.

Ayoo !! Stop bully, penindasan, kekerasan dalam bentuk dan alasan apapun pada LGBT khususnya remaja LGBT. Sobat bronis juga bagian dari bangsa Indonesia, kita mempunyai hak yang sama sebagai ujung tombak pembangunan bangsa !! Salam Sumpah Pemuda.



Oleh Fyan Abdullah
Tuesday, October 28, 2014

Body Image VS. Gaya Hidup Sehat ?

Sobat Bronis, salah satu permasalahan yang paling rentan terjadi dalam kehidupan anak muda adalah masalah body image alias bagaimana seseorang mempersepsikan bentuk tubuhnya. Ia memandang tubuhnya terlalu kurus atau terlalu gemuk, padahal sebenarnya belum tentu seperti itu. Persoalan body image ini tidak hanya terjadi pada perempuan saja lho. British Medical Journal, dalam dua dekade belakangan, melaporkan bahwa angka laki-laki yang menyatakan tidak puas terhadap penampilan fisik mereka hampir sama dengan angka perempuan yang mengatakan tidak puas dengan tubuh mereka.

Sobat Bronis tentu pernah mendengar sebuah slogan iklan minuman suplemen berbunyi “krempeng, mana keren?” atau “tumbuh tuh ke atas, bukan ke samping!”.  Media menawarkan tubuh ideal laki-laki adalah memiliki otot yang besar, perut six pack dan sedikit lemak. Sayangnya, untuk memiliki bentuk tubuh seperti itu tidaklah mudah. Sobat Bronis harus mendedikasikan waktu dan uang untuk latihan teratur dan mengonsumsi makanan khusus. Tak jarang, sebagian orang rela membahayakan kesehatan mereka dengan melakukan latihan-latihan ekstrim dan diet berlebihan. Padahal, terus berlatih namun melupakan banyak asupan penting untuk tubuh justru dapat memberikan dampak tidak sehat. Bahkan, bisa berakhir dengan kondisi bulimia atau anorexia yang biasanya kasus yang sangat beresiko tersebut jarang dilaporkan oleh laki-laki kepada tenaga medis.

Mari berpikir lebih jernih. Tubuh kita adalah pemberian Tuhan yang perlu kita jaga dan syukuri. Jika kita mendedikasikan setengah dari waktu penting kita hanya untuk berlatih fisik agar tampak sebagai laki-laki macho atau pria sejati, bukankah itu justru menunjukkan adanya penurunan “nilai”. Bukan berarti membentuk tubuh tampak atletis adalah sesuatu hal yang buruk, tapi alangkah jauh lebih baik jika kita bisa menerima bentuk tubuh kita hingga keseluruhan pribadi kita. Tubuh yang sehat tidak harus selalu tampak atletis. Jika tujuan utama kita adalah lebih menyehatkan dan membugarkan tubuh, maka yang terpenting adalah menghindari gaya hidup tidak sehat dan menerapkan gaya hidup sehat.

Gaya hidup yang tidak sehat atau perilaku berisiko diantaranya adalah kebiasaan merokok, mengonsumsi makanan yang tidak sehat, kurang aktivitas fisik dan mengonsumsi alkohol. Adanya perilaku berisiko tersebut menimbulkan perubahan metabolisme, antara lain kelebihan berat badan/obesitas, meningkatnya tekanan darah, glukosa darah dan kadar kolesterol. Jika kondisi perubahan metabolisme tersebut tidak dikendalikan, maka kita akan sulit terhindar dari berbagai risiko penyakit kronis maupun penyakit tidak menular (non communicable diseases). Hipertensi, stroke, kanker, dan obesitas yang dulunya dilekatkan sebagai “penyakitnya orang tua” kini telah melanda sebagian anak muda.

Sebenarnya, gaya hidup sehat tidaklah sulit dan mahal untuk dilakukan. Gaya hidup sehat yang bisa Sobat Bronis terapkan adalah mengonsumsi makanan bergizi seimbang termasuk perbanyak mengkonsumsi buah dan sayuran, berolahraga secara teratur (jalan cepat, lari, atau berenang, sedikitnya 30 menit sehari minimal lima hari dalam seminggu), berhenti merokok dan minum alkohol, istirahat yang cukup dan hindari stress. Mengubah kebiasaan kita dari hanya sekedar mementingkan body image menjadi menerapkan gaya hidup sehat akan dapat membantu mencapai dan mempertahankan berat badan yang normal. Tentunya, hidup sobat Bronis pun akan lebih produktif!

oleh El Ayn Morve
Monday, October 27, 2014

Pameran Foto hidupku {harusnya} pilihanku

Terhitung  mulai 26 - 28 Oktober 2014, Aliansi Remaja Independen atau yang biasa disingkat dengan ARI, sebuah organisasi remaja yang didirikan dengan tujuan untuk mengadvokasi para remaja terkait Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) menyelenggarakan sebuah kegiatan Pameran Fotografi yang bertemakan HKSR bertajuk Hidupku (harusnya) Pilihanku.

Pameran yang diselenggarakan di Cemara 6 Galeri: Jl. HOS. Cokroaminoto No. 9-10, Menteng Jakarta Pusat, bermaksud untuk memamerkan foto-foto esai hasil dari jepretan 9 fotografer muda dengan 9 topik yang berbeda. Foto yang dipamerkan pun merupakan gambaran atas kondisi real yang terjadi di masyarakat yang berhasil fotografer abadikan dalam rangkaian gambar yang memiliki cerita dan mampu untuk mengangkat isu-isu HKSR.

Isu Hak dan Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) sebenarnya telah menjadi isu global, terutama mengenai isu HKSR remaja (10-24 tahun). HKSR remaja menjadi fokus utama di berbagai Negara, hal ini karena dengan mengetahui HKSR sejak awal dapat mencegah kehamilan dini, pelecehan seksual, pemerkosaan serta angka kematian ibu. Dikarenakan dengan mengetahui HSKR sesuai dengan jenjang usianya, memberikan pengetahuan mengenai sikap asertif, kesehatan reproduksi baik bagi pria atau perempuan, pemahaman kesetaraan, pengenalan mengenai kesehatan seksual dan reproduksi serta hak reproduksi dan seksual. Hal-hal tersebut yang akhirnya menjadi latar belakang kenapa kegiatan yang cukup positif ini harus diadakan.

Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan potret bagaimana kondisi remaja saat ini kaitannya dengan isu HKSR serta meningkatkan kesadaran masyarakat dan lembaga terkait mengenai isu-isu remaja. Media yang juga menjadi ajang advokasi ini rencananya akan menghadirkan lembaga pemerintah sebagai peserta kegiatan.

Selain bersifat eksibisi, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan hiburan musik, stand up comedy dan pembacaan puisi. Menghadirkan Gilang Baskara, Simponi, Andi Gunawan dan Is (Vokalis Payung Teduh).

Fotografer dalam kegiatan ini adalah 9 orang remaja dari berbagai organisasi yang telah mendapatkan pelatihan oleh ARI mengenai fotografi selama enam minggu dalam rangkaian workshop fotografi.

Mungkin diantara sobat bronis ada yang penasaran, apasih HKSR ? Foto yang seperti apakah yang memiliki keterwakilan atas kondisi remaja di Indonesia saat ini terkait HKSR ? Nah, ada baiknya, sobat bronis catat tanggal dan tempatnya. Mumpung weekend, ajak orang-orang terkasih, pun informasi bisa sobat bronis dapatkan dengan gratis alias free... kurang keren apalagi coba ?  ^_^ 



Friday, October 24, 2014

Coming out / Coming in

Kita pernah sering mendengar kata coming out atau kawan-kawan LGBT biasa menyebutnya dengan kata MLETHEK.

Kata Melela juga bisa diartikan demikian. Coming out sendiri artinya kondisi dimana seseorang sudah merasa siap untuk mengakui perihal indentitas seksual dan gendernya ke pihak lain. Ngomongin soal coming out, sobat bronis pernah gak sih terbenak di pikiran kalian untuk coming out kepada keluarga ?

Bagi sobat bronis yang kebetulan lagi sedang ingin hendak akan, halah..  bermaksud melakukan coming out, mungkin ada baiknya memperhatikan saran berikut.

Yang pertama adalah coming in terlebih dahulu. Apa itu coming in ? Coming in adalah penerimaan diri kita atas identitas seksual dan gender sobat bronis, jadi artinya sebelum sobat bronis mau di terima terkait orientasi seksualnya di luar, sobat bronis musti bisa menerima diri dulu kalau sobat bronis adalah bagian dari LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) atau tanpa perlu mempedulikan label.

Yang pasti, dengan memahami siapa kita dan bisa menerima keadaan itu, hal tersebut akan menjawab semua kondisi yang akan terjadi berikutnya. Kalau sobat bronis masih belum bisa menerima diri kita apa adanya bagaimana mungkin kita memaksakan orang lain bisa menerima kita.

Hal lain yang harus di perhatikan saat ingin coming out adalah kondisi di dalam keluarga, apakah keluarga sedang baik-baik saja, ingat juga, tidak semua keluarga bisa menerima anaknya yang coming out bahwa mereka homoseksual atau memiliki orientasi seksual yang berbeda, jadi coba di pikirkan matang-matang sebelum coming out.

Coming out bukan jalan satu-satunya untuk sobat bronis, kita juga bisa menyimpan identitas kita sebenarnya, being discreet tidak bisa disalahkan. Karena ada beberapa faktor teman-teman kita memilih untuk itu. Salah satunya karena masih belum ada penerimaan diri dari mereka.

Memang ada beberapa keuntungan saat kita memilih untuk coming out. Yaitu kita mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat kita. Namun jangan melupakan juga, tidak sedikit orang juga memilih untuk menolak keputusan sobat bronis yang coming out.

Kunci untuk coming out adalah dengan coming in, menerima siapa diri kita sebenarnya dengan seutuhnya adalah diri kita sendiri, dengan kelebihan yang ada dalam diri kita.

Sumber: poz.com

Oleh : Albertus Agung Sugianto
Thursday, October 23, 2014

Haruskan Air dengan Minyak ?

Hidup menjadi gay tentunya sangat banyak tantangannya. Namun, tantangan itu ada untuk dihadapi bukan ? Kehidupan memang  terlalu keras untuk dijalani. Tetapi, bagaimanapun juga sekeras apapun kehidupan ini memang harus terus berjalan. Terlepas dari apapun. Termasuk identitas dan status sobat bronis.

Namun, perlu sobat bronis sadari, bahwa dalam menghadapi hiruk pikuk duniawi ini, ada satu hal yang sangat kita butuh kan. Apalagi kalau bukan KENYAMANAN.

Walaupun sobat bronis masih belum memiliki pasangan sekalipun, jika nyaman, maka hal itu tidaklah akan menjadi masalah dalam hidup. Untuk mendapatkan perasaan nyaman, tentunya kita harus mendapatkan semua unsur-unsur hak dasar sebagai manusia yang tinggal di bumi ini. Kita sewajarnya mendapatkan perlakukan yang sama dan setara dengan warga negara yang lain, tidak ada diskriminasi apalagi merasa terancam.

Tapi apakah semua itu bisa kita dapatkan, terkait identitas seksual dan identitas gender sobat bronis ? Atau malahan sobat bronis yang terlalu takut untuk mengungkapkan diri sehingga kita rela meninggalkan dunia nyaman kita hanya untuk agar hak-hak itu selalu utuh. Entah lah !

Banyak diantara sobat bronis yang rela menyakiti dirinya sendiri karena rasa takutnya. Belum tentu lingkungan akan menolak siapa sebenarnya dirinya. Dan justru ketakutan-ketakutan yang tidak jelas lah yang dijadikan alasannya. Walaupun resiko itu selalu ada. Segelintiran kawan-kawan LGBT malahan berpandangan jika orang lain bisa hidup wajar layaknya para heteroseksual kenapa kita tidak bisa melakukannya seperti kebanyakan orang-orang pada umumnya.

Atau malahan berfikir kalau dia mampu hidup bersandiwara layaknya pemain sinetron atau apapun itu namanya. Tapi taukah kalian sobat bronis ? Indah dilihat belum tentu nyaman di hati.

Mari kita menengok sejenak filosofi setetes air dan minyak. Air adalah molekul cair dengan kerapatan molekul yang sangat besar, sedangkan minyak memiliki kerapatan molekul yang lebih kecil dari pada air.

Kita ibaratkan air adalah sobat bronis yang kebetulan memiliki orientasi seksual homoseksual. Kemudian dipertemukan dalam satu wadah dengan setetes minyak, disini kita berasumsi bahwa minyak adalah seorang heteroseksual yang memiliki perbedaan jenis orientasi seksual termasuk hal-hal yang bertolak belakang dengan ketertarikan secara seksual dengan sobat bronis. Maka yang terjadi adalah air dan minyak tidak akan pernah bisa bersatu.

Seperti itulah kehidupan, cepat atau lambat permasalahan akan timbul dengan sendiri. Dan tanpa disadari kehidupan yang tidak nyaman akan mendatangkan “masalah” untuk orang itu sendiri. Namun jika sobat bronis memilih untuk menjadi air yang juga dipertemukan dengan air, maka kehidupan akan seperti setetes embun pagi yang menyatu dengan tetesan lainnya kemudian hanyut melinangi lembar daun hingga ke ujung daun dan terjatuh menerpa tanah.

Satu tetesan air bergabung dengan tetesan air lainnya akan menjadikan dua tetesan yang bersatu padu menembus melekul-molekul atom yang tidak terlihat, namun jika dengan setetes minyak akan menghasilkan dua tetes cairan yang tidak akan pernah menyatu. Dan ketika air menguap ke udara, pastilah akan ada yang tertinggal. Jika minyak diasumsikan perempuan heteroseksual dan sobat bronis di posisi air, otomatis akan meninggalkan masalah-masalah tersendiri untuk “si minyak” dan juga untuk “si air.”

Selebihnya terserah sobat bronis, apakah kita akan menjadi 2 tetesan air atau malah memilih bertemu dengan setetes minyak, karena bagaimana pun juga, yang berhak untuk mengatur urusan personal adalah sobat bronis sendiri. Bukan orang lain. Selama pilihan kita tidak menyebabkan kerugian di pihak lain. Jangan pernah juga menuntut hak tapi melupakan kewajiban kita.

Dan akhirnya, keputusan bijaklah yang bisa menjawab, apakah kita memilih untuk bersua dengan air atau minyak, mana yang lebih nyaman ? laksanakan.


Oleh Niko Ferdian
Tuesday, October 21, 2014
Tag : ,

Homoseksual bukan penyakit

Banyak yang menyebut homoseksual  dengan kata "sakit". Bahkan dari kalangan homoseksual itu sendiri.

Tapi menurut Badan Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO), Sudah puluhan tahun mencabut homoseksual dari daftar penyakit ataupun pengelompokan gangguan kejiwaan, Homoseksual sudah ada sejak jaman  dulu.

Di Yunani kuno ada dikisahkan sebuah pulau yang khusus untuk Lesbian, namanya Pulau Lesbos, dan dari sinilah istilah Lesbian berasal. Para ahli atau pakar-pakar kedokteran, Psikologi  maupun profesional lain sependapat bahwa  homoseksual bukan penyakit atau kelainan perilaku apapun. Homoseksual juga bukan bagian dari trend, karena ini berhubungan dengan orientasi seksual  seseorang yang terbentuk pada masa kecil.

OREINTASI SEKSUAL  Orientasi seksual adalah ketertarikan fisik dan emosi terhadap orang lain, yang digambarkan sebagai garis lurus dengan kedua ujung, homoseksual murni dan heteroseksual murni. Orientasi seksual seseorang jatuh pada titik di dalam garis tersebut.

Bisa di ujung kanan, di ujung kiri, di tengah-tengah, agak ke kanan, agak ke kiri dan seterusnya. Orang yang punya orientasi seksual jatuh pas di tengah-tengah adalah biseksual.

Teori dari Freud, pakar Psikologis dari Jerman ini menerangkan kenapa ada orang yang sangat hetero (100%), sangat homo (100%), 70% hetero, 70% homo, biseksual dan lain-lain. Sebelum memasuki masa puber, pada dasarnya anak-anak adalah biseksual dan orientasi seksual ini terbentuk sampai menjelang dewasa  (puber).

PENENTU ORIENTASI SEKSUAL  Faktor penentu bisa faktor biologis, seperti  keturunan, hormonal, kromosomal ataupun kadar zat kimia di dalam otak. Juga karena faktor lingkungan, budaya, nilai-nilai masyrakat dan pengalaman lain semasa kecil.

Tingkat Orientasi Seksual tiap orang berbeda  secara fisik maupun lingkungan. Jadi ngga ada  satu hal pasti yang menentukan orientasi Seksual  seseorang. Pada umumnya Orientasi seksual ini ngga akan berubah setelah usia remaja awal, yaitu sekitar 12 sampai 13 tahun. Nah kalau ada yang baru nyadar bahwa dia gay pas sudah gede,  artinya selama ini dia memang belum ngeh saja.

Orientasi Seksual asli seseorang memang tidak  bisa diubah, bahkan dengan terapi yang paling intensif sekalipun.

GAY TIDAK MENULAR  Karena memang bukan penyakit, maka  homoseksual juga ngga bisa ditularkan pada  orang lain. Namun biasanya ada rasa takut dari kaum hetero  saat berdekatan atau bergaul dengan komunitas gay. Ketakutan yang besar sehingga muncul rasa anti  atau homophobia.

Jadi sobat bronis, mulai dari diri sendiri kita bilang, bahwa diri kita tidak sakit dan mulai dengan tidak menyebut teman kita dengan kata "sakit" ataupun tidak normal. So kalo diri kita menilai kita “sakit” atau “salah” gimana orang lain menilai kita benar, stigma tercipta mulai dari diri kita, jadi mulailah dengan menerima diri kita sendiri, dengan menerima diri sendiri yakinlah orang lain dapat menerima kita juga.

Sumber: boyzforum.com/discussion/2074/gay-bukan-penyakit


Oleh : Albertus Agung Sugianto
Sunday, October 19, 2014

- Copyright © BrondongManis -