Coming out / Coming in

Kita pernah sering mendengar kata coming out atau kawan-kawan LGBT biasa menyebutnya dengan kata MLETHEK.

Kata Melela juga bisa diartikan demikian. Coming out sendiri artinya kondisi dimana seseorang sudah merasa siap untuk mengakui perihal indentitas seksual dan gendernya ke pihak lain. Ngomongin soal coming out, sobat bronis pernah gak sih terbenak di pikiran kalian untuk coming out kepada keluarga ?

Bagi sobat bronis yang kebetulan lagi sedang ingin hendak akan, halah..  bermaksud melakukan coming out, mungkin ada baiknya memperhatikan saran berikut.

Yang pertama adalah coming in terlebih dahulu. Apa itu coming in ? Coming in adalah penerimaan diri kita atas identitas seksual dan gender sobat bronis, jadi artinya sebelum sobat bronis mau di terima terkait orientasi seksualnya di luar, sobat bronis musti bisa menerima diri dulu kalau sobat bronis adalah bagian dari LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) atau tanpa perlu mempedulikan label.

Yang pasti, dengan memahami siapa kita dan bisa menerima keadaan itu, hal tersebut akan menjawab semua kondisi yang akan terjadi berikutnya. Kalau sobat bronis masih belum bisa menerima diri kita apa adanya bagaimana mungkin kita memaksakan orang lain bisa menerima kita.

Hal lain yang harus di perhatikan saat ingin coming out adalah kondisi di dalam keluarga, apakah keluarga sedang baik-baik saja, ingat juga, tidak semua keluarga bisa menerima anaknya yang coming out bahwa mereka homoseksual atau memiliki orientasi seksual yang berbeda, jadi coba di pikirkan matang-matang sebelum coming out.

Coming out bukan jalan satu-satunya untuk sobat bronis, kita juga bisa menyimpan identitas kita sebenarnya, being discreet tidak bisa disalahkan. Karena ada beberapa faktor teman-teman kita memilih untuk itu. Salah satunya karena masih belum ada penerimaan diri dari mereka.

Memang ada beberapa keuntungan saat kita memilih untuk coming out. Yaitu kita mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat kita. Namun jangan melupakan juga, tidak sedikit orang juga memilih untuk menolak keputusan sobat bronis yang coming out.

Kunci untuk coming out adalah dengan coming in, menerima siapa diri kita sebenarnya dengan seutuhnya adalah diri kita sendiri, dengan kelebihan yang ada dalam diri kita.

Sumber: poz.com

Oleh : Albertus Agung Sugianto
Thursday, October 23, 2014

Haruskan Air dengan Minyak ?

Hidup menjadi gay tentunya sangat banyak tantangannya. Namun, tantangan itu ada untuk dihadapi bukan ? Kehidupan memang  terlalu keras untuk dijalani. Tetapi, bagaimanapun juga sekeras apapun kehidupan ini memang harus terus berjalan. Terlepas dari apapun. Termasuk identitas dan status sobat bronis.

Namun, perlu sobat bronis sadari, bahwa dalam menghadapi hiruk pikuk duniawi ini, ada satu hal yang sangat kita butuh kan. Apalagi kalau bukan KENYAMANAN.

Walaupun sobat bronis masih belum memiliki pasangan sekalipun, jika nyaman, maka hal itu tidaklah akan menjadi masalah dalam hidup. Untuk mendapatkan perasaan nyaman, tentunya kita harus mendapatkan semua unsur-unsur hak dasar sebagai manusia yang tinggal di bumi ini. Kita sewajarnya mendapatkan perlakukan yang sama dan setara dengan warga negara yang lain, tidak ada diskriminasi apalagi merasa terancam.

Tapi apakah semua itu bisa kita dapatkan, terkait identitas seksual dan identitas gender sobat bronis ? Atau malahan sobat bronis yang terlalu takut untuk mengungkapkan diri sehingga kita rela meninggalkan dunia nyaman kita hanya untuk agar hak-hak itu selalu utuh. Entah lah !

Banyak diantara sobat bronis yang rela menyakiti dirinya sendiri karena rasa takutnya. Belum tentu lingkungan akan menolak siapa sebenarnya dirinya. Dan justru ketakutan-ketakutan yang tidak jelas lah yang dijadikan alasannya. Walaupun resiko itu selalu ada. Segelintiran kawan-kawan LGBT malahan berpandangan jika orang lain bisa hidup wajar layaknya para heteroseksual kenapa kita tidak bisa melakukannya seperti kebanyakan orang-orang pada umumnya.

Atau malahan berfikir kalau dia mampu hidup bersandiwara layaknya pemain sinetron atau apapun itu namanya. Tapi taukah kalian sobat bronis ? Indah dilihat belum tentu nyaman di hati.

Mari kita menengok sejenak filosofi setetes air dan minyak. Air adalah molekul cair dengan kerapatan molekul yang sangat besar, sedangkan minyak memiliki kerapatan molekul yang lebih kecil dari pada air.

Kita ibaratkan air adalah sobat bronis yang kebetulan memiliki orientasi seksual homoseksual. Kemudian dipertemukan dalam satu wadah dengan setetes minyak, disini kita berasumsi bahwa minyak adalah seorang heteroseksual yang memiliki perbedaan jenis orientasi seksual termasuk hal-hal yang bertolak belakang dengan ketertarikan secara seksual dengan sobat bronis. Maka yang terjadi adalah air dan minyak tidak akan pernah bisa bersatu.

Seperti itulah kehidupan, cepat atau lambat permasalahan akan timbul dengan sendiri. Dan tanpa disadari kehidupan yang tidak nyaman akan mendatangkan “masalah” untuk orang itu sendiri. Namun jika sobat bronis memilih untuk menjadi air yang juga dipertemukan dengan air, maka kehidupan akan seperti setetes embun pagi yang menyatu dengan tetesan lainnya kemudian hanyut melinangi lembar daun hingga ke ujung daun dan terjatuh menerpa tanah.

Satu tetesan air bergabung dengan tetesan air lainnya akan menjadikan dua tetesan yang bersatu padu menembus melekul-molekul atom yang tidak terlihat, namun jika dengan setetes minyak akan menghasilkan dua tetes cairan yang tidak akan pernah menyatu. Dan ketika air menguap ke udara, pastilah akan ada yang tertinggal. Jika minyak diasumsikan perempuan heteroseksual dan sobat bronis di posisi air, otomatis akan meninggalkan masalah-masalah tersendiri untuk “si minyak” dan juga untuk “si air.”

Selebihnya terserah sobat bronis, apakah kita akan menjadi 2 tetesan air atau malah memilih bertemu dengan setetes minyak, karena bagaimana pun juga, yang berhak untuk mengatur urusan personal adalah sobat bronis sendiri. Bukan orang lain. Selama pilihan kita tidak menyebabkan kerugian di pihak lain. Jangan pernah juga menuntut hak tapi melupakan kewajiban kita.

Dan akhirnya, keputusan bijaklah yang bisa menjawab, apakah kita memilih untuk bersua dengan air atau minyak, mana yang lebih nyaman ? laksanakan.


Oleh Niko Ferdian
Tuesday, October 21, 2014
Tag : ,

Homoseksual bukan penyakit

Banyak yang menyebut homoseksual  dengan kata "sakit". Bahkan dari kalangan homoseksual itu sendiri.

Tapi menurut Badan Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO), Sudah puluhan tahun mencabut homoseksual dari daftar penyakit ataupun pengelompokan gangguan kejiwaan, Homoseksual sudah ada sejak jaman  dulu.

Di Yunani kuno ada dikisahkan sebuah pulau yang khusus untuk Lesbian, namanya Pulau Lesbos, dan dari sinilah istilah Lesbian berasal. Para ahli atau pakar-pakar kedokteran, Psikologi  maupun profesional lain sependapat bahwa  homoseksual bukan penyakit atau kelainan perilaku apapun. Homoseksual juga bukan bagian dari trend, karena ini berhubungan dengan orientasi seksual  seseorang yang terbentuk pada masa kecil.

OREINTASI SEKSUAL  Orientasi seksual adalah ketertarikan fisik dan emosi terhadap orang lain, yang digambarkan sebagai garis lurus dengan kedua ujung, homoseksual murni dan heteroseksual murni. Orientasi seksual seseorang jatuh pada titik di dalam garis tersebut.

Bisa di ujung kanan, di ujung kiri, di tengah-tengah, agak ke kanan, agak ke kiri dan seterusnya. Orang yang punya orientasi seksual jatuh pas di tengah-tengah adalah biseksual.

Teori dari Freud, pakar Psikologis dari Jerman ini menerangkan kenapa ada orang yang sangat hetero (100%), sangat homo (100%), 70% hetero, 70% homo, biseksual dan lain-lain. Sebelum memasuki masa puber, pada dasarnya anak-anak adalah biseksual dan orientasi seksual ini terbentuk sampai menjelang dewasa  (puber).

PENENTU ORIENTASI SEKSUAL  Faktor penentu bisa faktor biologis, seperti  keturunan, hormonal, kromosomal ataupun kadar zat kimia di dalam otak. Juga karena faktor lingkungan, budaya, nilai-nilai masyrakat dan pengalaman lain semasa kecil.

Tingkat Orientasi Seksual tiap orang berbeda  secara fisik maupun lingkungan. Jadi ngga ada  satu hal pasti yang menentukan orientasi Seksual  seseorang. Pada umumnya Orientasi seksual ini ngga akan berubah setelah usia remaja awal, yaitu sekitar 12 sampai 13 tahun. Nah kalau ada yang baru nyadar bahwa dia gay pas sudah gede,  artinya selama ini dia memang belum ngeh saja.

Orientasi Seksual asli seseorang memang tidak  bisa diubah, bahkan dengan terapi yang paling intensif sekalipun.

GAY TIDAK MENULAR  Karena memang bukan penyakit, maka  homoseksual juga ngga bisa ditularkan pada  orang lain. Namun biasanya ada rasa takut dari kaum hetero  saat berdekatan atau bergaul dengan komunitas gay. Ketakutan yang besar sehingga muncul rasa anti  atau homophobia.

Jadi sobat bronis, mulai dari diri sendiri kita bilang, bahwa diri kita tidak sakit dan mulai dengan tidak menyebut teman kita dengan kata "sakit" ataupun tidak normal. So kalo diri kita menilai kita “sakit” atau “salah” gimana orang lain menilai kita benar, stigma tercipta mulai dari diri kita, jadi mulailah dengan menerima diri kita sendiri, dengan menerima diri sendiri yakinlah orang lain dapat menerima kita juga.

Sumber: boyzforum.com/discussion/2074/gay-bukan-penyakit


Oleh : Albertus Agung Sugianto
Sunday, October 19, 2014

Nah Lho, Kok Nggak Bisa Orgasme?

Seorang laki-laki bernama A tampak kebingungan saat sedang duduk di ruang tunggu klinik seorang seksolog di Jakarta.

Saat ia sedang berhubungan intim dengan pacarnya, biasanya ia mengalami orgasme, dan terkadang bisa mencapai maksimal 10 orgasme dalam satu malam.

Tetapi dalam beberapa hari belakangan ini, ia sulit mencapai orgasme, dan betapapun ia mencoba, ia hanya akan mengalami kekecewaan, kelelahan fisik dan mental.

Ia pun mengalami beberapa ketakutan. Pertama, bahwa 'performa'nya sebagai seorang laki-laki memang sudah mulai hilang. Kedua, bahwa pacarnya akan meninggalkan dirinya atau berselingkuh karena merasa tidak puas dengan performa yang ia berikan di ranjang.

Namun, selama sobat bronis masih bisa mengalami ereksi (penis yang menegang), sesungguhnya tidak perlu terlalu khawatir soal ketidakmampuan orgasme ini: ini bukan pertanda bahwa sobat bronis mengalami impotensi.

Terkadang, seorang pria memang bisa kesulitan mencapai orgasme. Kondisi ini biasanya hanya berlangsung sementara karena disebabkan oleh beberapa faktor yang sifatnya sementara juga. Jadi, kalau seandainya sobat bronis sulit mengalami orgasme, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan sobat bronis berikut ini, mungkin sobat bronis:

1. Terlalu banyak melakukan masturbasi ?  Ketika energi fisik dan seksual sobat bronis telah terlalu banyak disalurkan untuk masturbasi, maka tentu saja saat berada di ranjang sobat bronis akan lebih banyak mengeluarkan energi untuk orgasme, dan mungkin akan gagal mengalami orgasme. Jadi sebaiknya, saat sobat bronis berencana untuk menghabiskan malam dengan pacar spesial sobat bronis, pada hari itu jangan lakukan masturbasi sama sekali. Seperti kata dalam petikan lagu Whitney Houston, 'save all your love' untuk pasangan sobat bronis malam itu, agar energi saat berhubungan intim menjadi lebih 'kencang'.

2. Terlalu lelah secara fisik  Apakah sobat bronis sedang kelelahan karena terlalu banyak melakukan kegiatan kuliah, sosial maupun soal kerjaan ? Karena orgasme membutuhkan energi fisik, maka saat fisik sobat bronis sedang kelelahan, tentu akan semakin sulit untuk mencapai orgasme. Beristirahatlah terlebih dahulu dan mengkonsumsi makanan bergizi supaya energi fisik sobat bronis bisa kembali sebelum melakukan hubungan intim.

3. Sedang berada di bawah tekanan mental  Sedang stress atau cemas karena menunggu hasil ujian atau diberikan tugas yang berat oleh atasan di kantor ? Hal ini juga bisa menyerap energi fisik dan mental sobat bronis lho, yang pada akhirnya menyebabkan sulit orgasme. Sebaiknya, identifikasi penyebab stress-sobat bronis dan selesaikanlah masalah yang sedang mendesak (misalnya tugas kantor atau tugas kuliah) terlebih dahulu. Setelah sobat bronis lega karena permasalahan sudah selesai, barulah pergi ke ranjang bersama dengan si dia.

Relasi seksual adalah sesuatu yang istimewa, maka pastikanlah fisik dan mental sobat bronis prima sebelum melakukannya dengan si dia!
Catatan: saran-saran di atas tidaklah dimaksudkan untuk menggantikan konsultasi dengan dokter dan ahli profesional lainnya. Apabila masalah berlanjut, kunjungi dokter atau psikolog.

Oleh Sebastian Partogi

Friday, October 17, 2014

Gay VS Nation - Part 1 : Manifesto

Sebelumnya, penulis ingin mengklarifikasi bahwa penulis tidak berafiliasi dengan organisasi dan ideologi manapun. Penulis adalah pihak yang netral, meskipun secara state of mind, mungkin penulis akan mengikuti salah satu paham besar.

"Tidak ada manusia yang bisa memilih tempat lahirnya" Sebuah acara televisi pernah memberi pernyataan tersebut, dan penulis pun tertarik untuk mengembangkan kalimat tersebut. Oke, dan inilah kami, komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) yang secara 'beruntung' (atau tidak beruntung) lahir, besar dan tinggal di Indonesia.

Sebuah negara yang plural. Banyak keyakinan, suku dan budaya. Dalam bahasa penulis, juga dipenuhi dengan hal-hal yang entah ditutupi dengan sengaja, maupun tidak. Saking pluralnya, stereotip terhadap satu sama lain adalah hal yang wajar, legal dan “dibenarkan,” bahkan dibawa ke dalam banyak aspek kehidupan. What a nation, indeed.

Sobat bronis, kita sebagai bagian dari 'komunitas' LGBT di Indonesia, adalah manusia 'most wanted' dan 'paling bersalah' di mata para mayoritas. Mereka yang merasa dirinya paling benar dan menggunakan segala macam disiplin ilmu untuk menginjak-injak hak komunitas LGBT untuk sekedar bisa hidup tenang, beraktivitas seperti halnya orang kebanyakan dan menjalankan apa yang (kita) yakini, yaitu kita tidak 'memilih' untuk 'menjadi' LGBT - kita hanya kebetulan saja sedang 'beruntung'.

Apa yang kita (bagian dari komunitas LGBT) inginkan ?
Kita hanya ingin hidup tenang. Tenang dari perbuatan tidak menyenangkan. Tenang dari segala tindak bullying dari lingkungan sekitar, dimana di belahan bumi manapun tidak akan ada pembenaran atas bullying. Tenang menjadi diri sendiri, menjalani hubungan dengan pasangan yang sesuai pilihan, menikmati kehidupan cinta dan tentu saja berbagi cinta dengan dunia.

Di negara ini, yang menjunjung prinsip Bhinneka Tunggal Ika, kita sadar bahwa pendapat pribadi layak dihargai dan dipertimbangkan. Tolong hargai, meskipun kita adalah minoritas yang 'layak' untuk diinjak, dimusnahkan atau dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi seperti di zaman perang. Kami kira semua manusia di bumi ini masih punya hati, punya cinta, dan semoga mereka memberikan hak dasar kita sebagai manusia untuk hidup dan menjadi diri kita sendiri.

Kita adalah minoritas, kita hanya ingin eksistensi ini diakui meskipun secara nonformal, dan hidup berdampingan dengan semuanya tanpa terkecuali. Percayalah bahwa kita tidak akan mengganggu mereka, termasuk pendapat mereka.

Let's make a new better life for everyone, a peaceful world, a place where we can lean on. Everyone is unique, and everyone should be anything they want to.
My biggest respect for everyone..
 
Oleh Hanindha Cholandha Dette
Wednesday, October 15, 2014

Mengapa Harus VCT ?

Sobat bronis ,sudah rajin test VCT kah ? Yup ... VCT !, Mengapa test ini penting bagi kita, dan mengapa harus peduli terhadap HIV/AIDS ?

Uppppsss... Sobat Bronis perlu banget tahu apa manfaat dari VCT ini,sebenarnya bukan hanya kita saja, tapi mereka yang heteroseksual pun mesti aware terhadap HIV/AIDS juga. Mari yuk kita bahas bareng apa itu VCT sebenarnya dan seberapa besar manfaatnya.

VCT (Voluntary Counseling and Testing) atau dalam Bahasa Indonesianya KTS (Konseling Tes Sukarela) merupakan serangkaian kegiatan konseling yang bersifat sukarela dan rahasia yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk tes HIV.Tentunya klien sendiri sudah memahami dan menandatangani informed consent.

Tujuan umum VCT sendiri untuk mempromosikan perubahan perilaku sehingga resiko infeksi dan penyebab infeksi dapat diturunkan.Tentunya sobat bronis memerlukan kesiapan waktu dan kesadarannya untuk benar-benar bersedia menjalani VCT.

VCT sangat penting gunanya dalam penanganan pertama/entry point ke seluruh akses layanan HIV/AIDS dan penyakit menular seks lainnya.VCT sendiri mendukung perubahan perilaku (tidak gonta-ganti pasangan, safety sex), pemenuhan informasi atas apa itu HIV/AIDS, dan tentunya dukungan terapi ARV dan perawatan bagi klien yang terindikasi ODHA.

Sangat banyak sekali manfaat dari VCT bukan ? Yang jelas sobat bronis bisa memonitoring kesehatan seksual pribadi. Jangan pernah membayangkan setiap orang yang datang untuk VCT berarti dia terjangkit HIV. Malu atau takut ? Mungkin bagi pemula yang hendak melakukan test pertama VCT. Bagi kalian yang belum pernah mencoba, cari tempat tes VCT dengan image tempat yang nyaman dan konselor yang ramah, gunakan internet dan juga telinga sobat bronis untuk mencari dan mencuri dengar klinik terbaik untuk VCT.

Masih malu juga ? Tenang aja, konselor adalah dokter profesional yang dengan senang hati 'ingin tahu' informasi kegiatan seksual terakhir sobat bronis. Jadi, jangan segan-segan bawa pasangan karena konselor biasanya akan menasehati sobat bronis untuk membawa pasangannya jika melakukan VCT sendiri.

Untuk sobat bronis yang jomblo, tidak ada salahnya kan ajak teman-teman dan setidaknya kita bisa memberi informasi terhadap akses pelayanan kesehatan tersebut. Kepedulian Sobat Bronis terhadap HIV/AIDS bisa dimulai dengan peduli terhadap diri sendiri.

Perubahan perilaku seksual yang ditekankan oleh Test VCT sejatinya merupakan kontrol utama kita untuk benar-benar menanamkan kesadaran apa bahaya HIV/AIDS itu. Lagipula sobat bronis juga bertanggung jawab kan atas kesehatan pribadi ? Apa jadinya jika sobat bronis tidak mengetahui status kemungkinan HIV/AIDS dan bisa saja menyebarkan ke pasangan kita. Kalau sudah bicara mengenai kepedulian, tentunya akan berdampak baik ke orang lain bukan ?

Sumber: http://www.njo.nl/blobs/hiv_hef/73758/2011/27/counseling___vct.pdf

Oleh : Jude Manzano
Monday, October 13, 2014

3 Mitos dan Fakta Transgender di Indonesia

Hey sobat bronis, seberapa jauh kamu mengenal Transgender ? Mungkin kamu cukup familiar dengan kata Waria, namun pernah kah kamu mendengar kata Priawan ?
 
Di Indonesia, Transgender perempuan (waria) ataupun Transgender laki-laki (priawan) masih belum terepresentatifkan dalam sistem kehidupan bermasyarakat dengan baik. Keterwakilan kelompok ini dalam politik, pemerintahan dan media nihil adanya. Sehingga sering kali kelompok ini menjadi kelompok yang tidak terlihat dan tidak terpenuhi hak-hak dasarnya.

Mereka dibenci, disakiti, mengalami kekerasan dan yang lebih parah, mereka dibunuh. Kita tau bahwa sikap-sikap tidak berpihak ini salah !

Bagaimana cara mengubah ini ? Yuk kita mulai dengan membongkar stereotype yang ada pada kelompok ini.

#Mitos1  Transgender itu mereka yang cuma bingung.  Hanya karena mereka berbeda, bukan berarti mereka tidak tau siapa dirinya. Mereka sangat tau jenis kelamin dan gender yang dimiliki.

#Mitos2  Transgender itu mereka yang terganggu mentalnya.  Betul, memang banyak Transgender yang mengalami gangguan mental, namun bukan karena identitas gender mereka. Masyarakat yang patriarki, Transfobia, stigma dan diskriminasi memberikan tingkat stress yang tinggi yang memungkinkan munculnya gangguan mental. Mereka lebih banyak dihadapkan pada stress emosional yang tinggi.

#Mitos3  Transgender itu Homoseksual.  Identitas gender dan Orientasi seksual adalah dua hal yang sangat berbeda. Identitas gender adalah gender apa yang menjadi identitas kita, sedangkan Orientasi seksual adalah kepada jenis kelamin atau gender apa kita tertarik secara fisik, emosional dan romantis.

Sekarang sobat bronis tau bahwa 3 mitos tersebut adalah salah. Dan kamu sudah lebih tau dari teman kamu sekarang yang masih belum tau. Selamaaat ya. mari teruskan informasi ini !


Oleh Setia Perdana
Saturday, October 11, 2014

- Copyright © BrondongManis -