Remaja Homoseksual: Karena Saya Bukan Untuk DiBully

Sobat bronis, pubertas dalam remaja umumnya merupakan proses tantangan tersendiri bagi individu tersebut tanpa harus memperhatikan orientasinya mengarah ke heteroseksual maupun homoseksual. Pada masa ini,inisiasi diri pada remaja sebetulnya tidak hanya mengacu pada casing (tampilan luar) akan tetapi yang harus diperhatikan juga adalah kematangan psikologis. Setiap remaja mempunyai hak untuk mengenali siapa dia sebenarnya tanpa terhambat pertentangan baik dari pribadi maupun orang lain. Akan menjadi berbeda nampaknya jika remaja tersebut berorientasi menjadi seorang homoseksual. Reaksi keras akan dimunculkan para homophobia, baik dari keluarga, pergaulan, sekolah, maupun lingkungan masyarakat yang lebih luas dalam bentuk yang sering kita sebut dengan bullying.

Bullying : an act using power or strength to hurt a person or group of people verbally, physically, psychologically and making the victim feel oppressed, traumatized, and powerless (blog.imambrotoseno.com).

Dampak dari perilaku bullying pada remaja homoseksual bisa saja meningkatkan resiko untuk melakukan perusakan kesehatan yang didorong bukan karena perilaku seksualnya yang dikatakan masyarakat sebagai penyimpangan akan tetapi sebenarnya karena reaksi masyarakat yang menimbulkan motif tersebut, contohnya seperti ide dan upaya bunuh diri karena pada akhirnya tidak ada orang yang bisa memahami remaja tersebut. Bullying pada remaja juga bisa menimbulkan efek stress dan tertekan, yang akhirnya mendorong remaja untuk keluar (kabur) dari lingkungan aslinya (rumah,sekolah) dan ini adalah salah satu dari parameter gagalnya komunikasi dan interaksi sosial antara remaja dengan lingkungan-lingkungan dekatnya.

Keluarga adalah pintu pertama dari komunikasi, perannya sangat krusial. Mindset yang mendasar pertama kali adalah : Homoseksual bukan penyakit. Remaja homoseksual bukan orang yang sakit kejiwaan, adakah selama ini obat dengan dosis tertentu yang mampu menyembuhkan homoseksual ? Keluarga harus terbuka dengan anggota keluarganya bila memang ada salah satu yang homoseksual, supaya remaja tersebut merasa orientasi yang dipunyai itu tidak menimbulkan stress dan dia bisa diterima oleh keluarganya tersebut. Sebaiknya keluarga menciptakan ruang yang nyaman dan berkomunikasi dengan anaknya dan tentunya memberikan solusi-solusi yang terjadi jika terjadi masalah.

Perilaku bullying terhadap remaja homoseksual banyak sekali terjadi di lingkungan sekolah. Sudah sepantasnya pendidikan di sekolah bisa mewadahi informasi seksualitas. Keterbukaan terhadap informasi seks mempunyai manfaat yang banyak terhadap remaja yang mulai mengenal dirinya. Remaja dapat memperoleh pemahaman yang benar, hal ini bisa meminimalkan penyalahgunaan potensi seksual seperti kasus perkosaan, sodomi terhadap anak-anak dan lain-lain. Selain itu remaja juga akan dapat berpikir secara rasional, apa yang baik untuk dirinya sendiri, keluarganya, maupun lingkungan. Remaja homoseksual/ heteroseksual bisa menghargai seksualitas dan berusaha agar saling toleransi. Yang terakhir, keterbukaan akan ruang informasi seksualitas pada remaja akhirnya dapat menghormati perbedaan seksual dan impact-nya adalah remaja sadar, bullying itu tidak baik.
Sumber: "Kenalilah Remaja Anda" - FG Surbakti


Oleh Jude Manzano
Thursday, November 6, 2014

Tato : Seni dan Kesehatan

Sobat bronis, tato saat ini menjadi salah satu trend yang tidak pernah lekang oleh waktu, dari jaman pra-sejarah, hingga era Bu Susi Pudjiastuti.  Tidak berbatas pada beberapa kalangan, Tato justru diminati dari berbagai macam kalangan. Dari kelas preman hingga kelas menteri. Meski dari dulu timbul pro dan kontra ketika disangkut-pautkan dengan urusan agama. Begitu pula ketika stigma tentang tato dikaitkan dengan sobat bronis yang kebetulan memiliki tato dan orientasi seksualnya homoseksual. Semakin memunculkan stigma yang absurd. “Sudah gay, bertato pula, Sudah jelas banget itu dosa !” baiklah. Kita tidak akan membicarakan hal itu.

Sobat bronis, ngomongin soal tato, sebenarnya ada satu pertanyaan yang cukup mengganjal sih. Apakah kita sudah paham tentang dampak yang bisa terjadi jika kita salah mengambil langkah dalam hal ini ? Sebelum memutuskan untuk membuat tato, kayaknya sobat bronis perlu memahami risiko apa saja yang bisa terjadi akibat tato dan bagaimana mengatasi risikonya.

Sejarah Tato  
Kata tato berasal dari bahasa Tahiti yaitu Tatu yang berarti “menandakan sesuatu.”  Tato atau rajah adalah suatu tanda yang dibuat dengan memasukkan pigmen “asing” ke dalam kulit. Tato sudah menjadi budaya dari berbagai masyarakat dunia sejak jaman dulu.  
Tato bahkan sudah dilakukan sejak 3000 tahun SM oleh masyarakat Mesir kuno. Tato pertama kali ditemukan pada sebuah mumi yang terdapat di Mesir. Tato kemudian menyebar ke suku-suku di belahan dunia, termasuk suku Dayak di Kalimantan. Tato dipercaya sebagai simbol keberuntungan, status sosial, kecantikan, kedewasaan, dan harga diri. Namun tato berisiko untuk merusak kulit, sehingga bisa menimbulkan infeksi kulit atau komplikasi lainnya yang mungkin terjadi.

Reaksi alergi Pewarna tato, terutama merah, hijau, pewarna kuning dan biru dapat menyebabkan reaksi alergi pada kulit, seperti ruam yang gatal di lokasi tato. Hal ini dapat terjadi bahkan bertahun-tahun setelah kita mendapatkan tato.

Infeksi kulit, Yang bisa menyebabkan kemerahan, pembengkakan, nyeri, sakit dan  bernanah setelah tato.    Masalah kulit lainnya Seperti benjolan yang berada disekitar area tato yang disebut granulomas. Tato juga dapat menyebabkan keloid atau jaringan kulit tambahan yang tumbuh dibekas luka.  Penyakit melalui darah. Jika peralatan kurang steril juga bisa menyebabkan tertular penyakit yang dibawa dari darah, contohnya penyebaran virus HIV, tetanus, hepatitis B dan C,  dan lain-lain    Komplikasi Magnetic Resonance Imaging (MRI). Tato bisa menyebabkan bengkak atau kulit terbakar saat si pemilik tato menjalani pemeriksaan MRI. Tato permanen pada tubuh bisa memengaruhi gambar hasil pemeriksaan MRI ini.

Pastikan Siap, Pikirkan matang-matang sebelum memutuskan untuk membuat tato di tubuh sobat bronis. Pertimbangkan juga apakah sobat bronis ingin supaya tato-nya terlihat atau tersembunyi di bawah pakaian. Perlu diingat, bahwa penambahan berat badan, termasuk kelebihan berat badan (obesitas) bisa mempengaruhi penampilan tato.
Pastikan sobat bronis benar-benar siap dan bukan dalam tekanan, pengaruh alkohol atau obat-obatan.

Tetapkan desain tato, Jangan minum alkohol atau menggunakan obat-obatan di malam sebelum atau saat sobat bronis ditato. Pastikan sobat bronis melakukan tato di tempat atau dengan orang yang profesional.  Pastikan semua alat, jarum khususnya, berkualitas baik dan steril, serta sekali pakai. Perhatikan apakah studio tato itu memiliki mesin pembunuh kuman yang digunakan untuk mensterilkan semua alat atau instrumen yang digunakan.  Pastikan seniman tato mencuci tangan dan mengenakan sarung tangan steril.

Perawatan Tato Lepas perban setelah 24 jam. Oleskan salep antibiotik pada kulit tato sementara itu masih proses penyembuhan. Jaga kulit bertato tetap bersih. Gunakan sabun biasa dan air dan juga sentuhan lembut. Sementara mandi, hindari aliran langsung dari air pada kulit yang baru ditato.  Gunakan pelembab. Oleskan pelembab ringan pada kulit bertato beberapa kali sehari.
Hindari paparan sinar matahari langsung. Menjaga area tato dari paparan matahari setidaknya untuk beberapa minggu.  Pilih pakaian dengan hati-hati. Jangan memakai apapun yang mungkin bisa menempel pada tato. Biarkan hingga 2 minggu untuk penyembuhan.  Jika sobat bronis berpikir tato tersebut mungkin terinfeksi atau malah khawatir bahwa tato sobat bronis tidak sembuh dengan benar, hubungi dokter segera. Jika ternyata dikemudian hari tertarik pada penghapusan tato, tanyakan dokter kulit tentang operasi laser atau pilihan lain untuk menghilangkan tato sobat bronis. 



Oleh Fyan Abdullah

Monday, November 3, 2014

Haruskah Buru-Buru Coming Out ?

Tiga tahun lalu aku memutuskan untuk Coming out kepada keluargaku. Tanpa sebuah persiapan yang mantap aku hanya ingin mereka tahu bahwa aku, anaknya adalah seorang Gay. Apakah berjalan dengan baik ?, Tidak. Luapan emosi yang menyakiti hati muncul dari masing-masing kami. Perlu waktu bertahun-tahun untuk kembali mendekatkan kami. But im so blessed, because my mom is always there. Hal ini membuatku kuat untuk menunjukkan banyak pembuktian kepada keluarga dan mereka disekitar bahwa Gay is not define the whole me. It’s not define my capabilities, my skills, my knowledge and my care for others.

Is Coming out an important process ?, Yes. Tapi apakah kita dapat berstrategi pintar dalam melakukan proses coming out ?

Coming out adalah sebuah proses yang tidak dapat diulangi atau dipungkiri kembali di kemudian hari, sehingga keyakinan terhadap diri sendiri menjadi penting untuk terlebih dahulu dilakukan. Apakah kamu betul-betul bukan seorang heteroseksual ? Kita tidak bisa memahami hal ini hanya dengan eksperimen sebuah perilaku seksual yang pernah kamu lakukan. Pahami lebih mendalam siapa dirimu secara romantis, ketertarikan, emosi serta hasrat. Dan hal ini haruslah kita pahami dalam sebuah proses dan pengalaman hidup yang tidak tergesa-gesa. You know what, nowadays im thinking, maybe im a bisexual. Apakah aku dapat melakukan Coming out untuk yang kedua kali ? Tidak sesederhana itu.

Proses penerimaan diri menjadi langkah awal terpenting yang mesti didahulukan sebelum sobat bronis melakukan Coming Out. Apakah kita sudah betul-betul tahu siapa diri kita ? Apa sobat bronis sudah merasa nyaman ? Apakah kita masih sering menyalahkan diri karena orientasi seksual yang kita miliki ? Pikirkan dan selesaikan dulu konflik-konflik internal dalam diri tersebut sebelum kita melangkah untuk memilih Coming Out.

Seksualitas adalah suatu hal yang cair. Alfred C. Kinsey, seorang pakar kajian seksualitas sejak tahun 1948 dalam study-study-nya menunjukkan bahwa orientasi seksual manusia dapat digambarkan dalam skala 0 sampai 6. Angka Kinsey 0 untuk menunjukan mereka yang eksklusif heteroseksual dan angka Kinsey 6 menunjukan mereka yang eksklusif Homoseksual. Menurutnya setiap orang memiliki kecenderungan homoseksual, hanya saja dengan skala yang berbeda-beda. Sulit juga untuk memberikan label secara mutlak bahwa seseorang heteroseksual atau homoseksual, karena pada kenyataannya skala Kinsey pada tiap-tiap orang dapat berubah-ubah.



Oleh Setia Perdana
Thursday, October 30, 2014

Sumpah Pemuda di Mata LGBT Muda

Halo sobat bronis, sekarang kita sudah di penghujung akhir Oktober. Tepatnya tanggal 28. Tau dong kalau sekarang ini kita sedang merayakan momentum terbaik sebagai bagian dari generasi muda Indonesia.

sewaktu sobat bronis masih di bangku Sekolah Dasar, pasti pernah di suruh hapalin teks Sumpah Pemuda kan ? Tau maknanya gak sih ? Apa ada keterkaitannya dengan orientasi seksual kita di era sekarang ?

Kita bahas satu persatu yaa.. ! Isi sumpah pemuda sangat erat hubungannya dengan motivasi para pemuda Indonesia untuk bersatu dan maju bersama. Hari Sumpah Pemuda yang selalu diperingati setiap 28 Oktober, diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia khususnya kelompok pemuda sejak 28 Oktober 1928. Ini merupakan sebuah tonggak bersejarah dimana pemuda-pemuda Indonesia berjanji untuk bersetia menjadi generasi penerus  yang dapat memajukan kehidupan berbangsa, dan ketika itu bangsa Indonesia mulai terlahir kembali.

Dan perlu sobat bronis tau, Hal yang melatarbelakangi adanya Sumpah Pemuda itu sendiri adalah adanya sebuah penindasan, pemuda Indonesia tidak ingin lagi dijajah. Ditambah lagi adanya sifat chauvinisme kedaerahan dari wilayah-wilayah Indonesia. Sehingga perlu media/alat pemersatu yang bisa menghapus semua perbedaan yang menjadi penghalang persatuan Indonesia.

Oleh karena itu para pemuda Indonesia berkumpul dan bersatu untuk memajukan bangsa dan menjauhkan penjajah yang menindas bangsa Indonesia. Wihhhh keren kan maknanya guys :)

Terkait dengan orientasi seksual kita sebagai remaja LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender), seberapa besar sih peranan kita dalam kemajuan bangsa Indonesia di kehidupan sekarang ? Mungkin sekarang sudah tidak ada lagi penjajah yang menindas kebangsaan kita, tapi apa kita sendiri masih merasa terjajah oleh sesama remaja lainnya seperti bully yang mengakibatkan kemunduran kita sebagai generasi muda berkualitas ?

Awal terpenting yang harus sobat bronis lakukan adalah mengakui bahwa diri kita sama dengan remaja lainnya, tanpa alasan apapun. Jangan jadikan orientasi seksual, ekspresi gender dan lain-lain menjadikan kita semakin mundur dan meninggalkan kewajiban kita sebagai generasi yang juga berhak untuk berkontribusi dalam kemajuan Indonesia kedepannya nanti.

Tunjukkan pada pahlawan kita terdahulu dan orang-orang di luar sana, bahwa kita mampu menjadi pemuda yg dapat memberikan kontribusi terbaiknya untuk kemajuan Indonesia.

Ayoo !! Stop bully, penindasan, kekerasan dalam bentuk dan alasan apapun pada LGBT khususnya remaja LGBT. Sobat bronis juga bagian dari bangsa Indonesia, kita mempunyai hak yang sama sebagai ujung tombak pembangunan bangsa !! Salam Sumpah Pemuda.



Oleh Fyan Abdullah
Tuesday, October 28, 2014

Body Image VS. Gaya Hidup Sehat ?

Sobat Bronis, salah satu permasalahan yang paling rentan terjadi dalam kehidupan anak muda adalah masalah body image alias bagaimana seseorang mempersepsikan bentuk tubuhnya. Ia memandang tubuhnya terlalu kurus atau terlalu gemuk, padahal sebenarnya belum tentu seperti itu. Persoalan body image ini tidak hanya terjadi pada perempuan saja lho. British Medical Journal, dalam dua dekade belakangan, melaporkan bahwa angka laki-laki yang menyatakan tidak puas terhadap penampilan fisik mereka hampir sama dengan angka perempuan yang mengatakan tidak puas dengan tubuh mereka.

Sobat Bronis tentu pernah mendengar sebuah slogan iklan minuman suplemen berbunyi “krempeng, mana keren?” atau “tumbuh tuh ke atas, bukan ke samping!”.  Media menawarkan tubuh ideal laki-laki adalah memiliki otot yang besar, perut six pack dan sedikit lemak. Sayangnya, untuk memiliki bentuk tubuh seperti itu tidaklah mudah. Sobat Bronis harus mendedikasikan waktu dan uang untuk latihan teratur dan mengonsumsi makanan khusus. Tak jarang, sebagian orang rela membahayakan kesehatan mereka dengan melakukan latihan-latihan ekstrim dan diet berlebihan. Padahal, terus berlatih namun melupakan banyak asupan penting untuk tubuh justru dapat memberikan dampak tidak sehat. Bahkan, bisa berakhir dengan kondisi bulimia atau anorexia yang biasanya kasus yang sangat beresiko tersebut jarang dilaporkan oleh laki-laki kepada tenaga medis.

Mari berpikir lebih jernih. Tubuh kita adalah pemberian Tuhan yang perlu kita jaga dan syukuri. Jika kita mendedikasikan setengah dari waktu penting kita hanya untuk berlatih fisik agar tampak sebagai laki-laki macho atau pria sejati, bukankah itu justru menunjukkan adanya penurunan “nilai”. Bukan berarti membentuk tubuh tampak atletis adalah sesuatu hal yang buruk, tapi alangkah jauh lebih baik jika kita bisa menerima bentuk tubuh kita hingga keseluruhan pribadi kita. Tubuh yang sehat tidak harus selalu tampak atletis. Jika tujuan utama kita adalah lebih menyehatkan dan membugarkan tubuh, maka yang terpenting adalah menghindari gaya hidup tidak sehat dan menerapkan gaya hidup sehat.

Gaya hidup yang tidak sehat atau perilaku berisiko diantaranya adalah kebiasaan merokok, mengonsumsi makanan yang tidak sehat, kurang aktivitas fisik dan mengonsumsi alkohol. Adanya perilaku berisiko tersebut menimbulkan perubahan metabolisme, antara lain kelebihan berat badan/obesitas, meningkatnya tekanan darah, glukosa darah dan kadar kolesterol. Jika kondisi perubahan metabolisme tersebut tidak dikendalikan, maka kita akan sulit terhindar dari berbagai risiko penyakit kronis maupun penyakit tidak menular (non communicable diseases). Hipertensi, stroke, kanker, dan obesitas yang dulunya dilekatkan sebagai “penyakitnya orang tua” kini telah melanda sebagian anak muda.

Sebenarnya, gaya hidup sehat tidaklah sulit dan mahal untuk dilakukan. Gaya hidup sehat yang bisa Sobat Bronis terapkan adalah mengonsumsi makanan bergizi seimbang termasuk perbanyak mengkonsumsi buah dan sayuran, berolahraga secara teratur (jalan cepat, lari, atau berenang, sedikitnya 30 menit sehari minimal lima hari dalam seminggu), berhenti merokok dan minum alkohol, istirahat yang cukup dan hindari stress. Mengubah kebiasaan kita dari hanya sekedar mementingkan body image menjadi menerapkan gaya hidup sehat akan dapat membantu mencapai dan mempertahankan berat badan yang normal. Tentunya, hidup sobat Bronis pun akan lebih produktif!

oleh El Ayn Morve
Monday, October 27, 2014

Pameran Foto hidupku {harusnya} pilihanku

Terhitung  mulai 26 - 28 Oktober 2014, Aliansi Remaja Independen atau yang biasa disingkat dengan ARI, sebuah organisasi remaja yang didirikan dengan tujuan untuk mengadvokasi para remaja terkait Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) menyelenggarakan sebuah kegiatan Pameran Fotografi yang bertemakan HKSR bertajuk Hidupku (harusnya) Pilihanku.

Pameran yang diselenggarakan di Cemara 6 Galeri: Jl. HOS. Cokroaminoto No. 9-10, Menteng Jakarta Pusat, bermaksud untuk memamerkan foto-foto esai hasil dari jepretan 9 fotografer muda dengan 9 topik yang berbeda. Foto yang dipamerkan pun merupakan gambaran atas kondisi real yang terjadi di masyarakat yang berhasil fotografer abadikan dalam rangkaian gambar yang memiliki cerita dan mampu untuk mengangkat isu-isu HKSR.

Isu Hak dan Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) sebenarnya telah menjadi isu global, terutama mengenai isu HKSR remaja (10-24 tahun). HKSR remaja menjadi fokus utama di berbagai Negara, hal ini karena dengan mengetahui HKSR sejak awal dapat mencegah kehamilan dini, pelecehan seksual, pemerkosaan serta angka kematian ibu. Dikarenakan dengan mengetahui HSKR sesuai dengan jenjang usianya, memberikan pengetahuan mengenai sikap asertif, kesehatan reproduksi baik bagi pria atau perempuan, pemahaman kesetaraan, pengenalan mengenai kesehatan seksual dan reproduksi serta hak reproduksi dan seksual. Hal-hal tersebut yang akhirnya menjadi latar belakang kenapa kegiatan yang cukup positif ini harus diadakan.

Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan potret bagaimana kondisi remaja saat ini kaitannya dengan isu HKSR serta meningkatkan kesadaran masyarakat dan lembaga terkait mengenai isu-isu remaja. Media yang juga menjadi ajang advokasi ini rencananya akan menghadirkan lembaga pemerintah sebagai peserta kegiatan.

Selain bersifat eksibisi, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan hiburan musik, stand up comedy dan pembacaan puisi. Menghadirkan Gilang Baskara, Simponi, Andi Gunawan dan Is (Vokalis Payung Teduh).

Fotografer dalam kegiatan ini adalah 9 orang remaja dari berbagai organisasi yang telah mendapatkan pelatihan oleh ARI mengenai fotografi selama enam minggu dalam rangkaian workshop fotografi.

Mungkin diantara sobat bronis ada yang penasaran, apasih HKSR ? Foto yang seperti apakah yang memiliki keterwakilan atas kondisi remaja di Indonesia saat ini terkait HKSR ? Nah, ada baiknya, sobat bronis catat tanggal dan tempatnya. Mumpung weekend, ajak orang-orang terkasih, pun informasi bisa sobat bronis dapatkan dengan gratis alias free... kurang keren apalagi coba ?  ^_^ 



Friday, October 24, 2014

Coming out / Coming in

Kita pernah sering mendengar kata coming out atau kawan-kawan LGBT biasa menyebutnya dengan kata MLETHEK.

Kata Melela juga bisa diartikan demikian. Coming out sendiri artinya kondisi dimana seseorang sudah merasa siap untuk mengakui perihal indentitas seksual dan gendernya ke pihak lain. Ngomongin soal coming out, sobat bronis pernah gak sih terbenak di pikiran kalian untuk coming out kepada keluarga ?

Bagi sobat bronis yang kebetulan lagi sedang ingin hendak akan, halah..  bermaksud melakukan coming out, mungkin ada baiknya memperhatikan saran berikut.

Yang pertama adalah coming in terlebih dahulu. Apa itu coming in ? Coming in adalah penerimaan diri kita atas identitas seksual dan gender sobat bronis, jadi artinya sebelum sobat bronis mau di terima terkait orientasi seksualnya di luar, sobat bronis musti bisa menerima diri dulu kalau sobat bronis adalah bagian dari LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) atau tanpa perlu mempedulikan label.

Yang pasti, dengan memahami siapa kita dan bisa menerima keadaan itu, hal tersebut akan menjawab semua kondisi yang akan terjadi berikutnya. Kalau sobat bronis masih belum bisa menerima diri kita apa adanya bagaimana mungkin kita memaksakan orang lain bisa menerima kita.

Hal lain yang harus di perhatikan saat ingin coming out adalah kondisi di dalam keluarga, apakah keluarga sedang baik-baik saja, ingat juga, tidak semua keluarga bisa menerima anaknya yang coming out bahwa mereka homoseksual atau memiliki orientasi seksual yang berbeda, jadi coba di pikirkan matang-matang sebelum coming out.

Coming out bukan jalan satu-satunya untuk sobat bronis, kita juga bisa menyimpan identitas kita sebenarnya, being discreet tidak bisa disalahkan. Karena ada beberapa faktor teman-teman kita memilih untuk itu. Salah satunya karena masih belum ada penerimaan diri dari mereka.

Memang ada beberapa keuntungan saat kita memilih untuk coming out. Yaitu kita mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat kita. Namun jangan melupakan juga, tidak sedikit orang juga memilih untuk menolak keputusan sobat bronis yang coming out.

Kunci untuk coming out adalah dengan coming in, menerima siapa diri kita sebenarnya dengan seutuhnya adalah diri kita sendiri, dengan kelebihan yang ada dalam diri kita.

Sumber: poz.com

Oleh : Albertus Agung Sugianto
Thursday, October 23, 2014

- Copyright © BrondongManis -