Senin, 13 Mei 2013

Seks Bersih dan Sehat, Yuk!



Bronis, aktivitas seksual adalah hal yang menyenangkan. Apalagi jika dilakukan bersama pasangan dalam keadaan yang nyaman dan tanpa paksaan dari salah satu pihak. Tapi, kamu pasti tahu bahwa ada aktivitas seksual yang berisiko. Hal itu disebabkan hubungan seks tersebut dilakukan dengan cara yang tidak sehat atau berbahaya, misalnya anal seks tanpa kondom, rimming tanpa kondom, atau hubungan seks pada saat salah satu pihak dalam kondisi sakit.

Namun, bukan berarti aktivitas seksual dengan cara-cara yang wajar pun tidak berisiko. Hal tersebut dapat berisiko jika kamu dan pasangan tidak memperhatikan faktor kebersihan diri. Oleh karena itu, untuk mencegahnya, kamu dan pasangan harus memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan diri masing-masing. Selain melakukan perawatan dan menjaga agar kondisi tubuh tetap sehat, kamu juga perlu “akrab” dengan benda bernama antiseptik.

Antiseptik merupakan zat kimia yang digunakan untuk menghancurkan mikroorganisme, seperti bakteri dan kuman-kuman penyebab penyakit pada tubuh manusia. Ada berbagai macam bentuk aktiseptik yang biasa digunakan oleh orang, seperti rivanol dan betadine yang biasa digunakan untuk mengobati luka, alkohol, dan beberapa zat lain yang biasa digunakan untuk mengobati penyakit akibat bakteri. Bagi kamu yang aktif melakukan aktivitas seksual, sebaiknya selalu menyediakan antiseptik dalam perlengkapan perawatan tubuh kamu sehari-hari.

Apa saja bentuk antiseptik yang diperlukan dan kegunaannya dalam mencegah risiko akibat hubungan seksual? Berikut bentuk antiseptik yang bisa kamu pergunakan sehari-hari. Minimal, kamu menggunakannya sebelum atau setelah melakukan aktivitas seksual.

1. Sabun antiseptik
Secara umum, sabun yang biasa digunakan sehari-hari dibedakan menjadi sabun kecantikan dan sabun kesehatan. Sabun kesehatan biasanya berupa sabun antiseptik yang dapat membunuh berbagai kuman penyebab penyakit, termasuk bakteri kulit. Kamu perlu menggunakan sabun antiseptik sebelum atau sesudah melakukan aktivitas seksual, baik saat mandi atau setelah buang air. Bagian yang paling penting untuk “dilindungi” oleh sabun antiseptik terutama tangan, alat kelamin dan area di sekelilingnya, serta dubur dan area sekelilingnya. Apabila organ intim kamu bersih dan higienis, maka risiko akibat hubungan seksual pun dapat dikurangi. 

2. Hand-sanitizer
Bentuk antiseptik ini banyak dijual bebas di pasaran. Hand-sanitizer adalah antiseptik yang digunakan khusus untuk tangan. Fungsinya sama dengan antiseptik lain, yaitu membunuh kuman penyebab penyakit yang berada di tangan. Apalagi tangan merupakan organ tubuh yang rentan terkena bakteri akibat banyak menyentuh berbagai benda dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, transfer bakteri juga mudah terjadi karena banyak tangan banyak melakukan interaksi dengan organ tubuh orang lain, seperti bersalaman dan berpegangan.

Antiseptik ini perlu kamu miliki dan gunakan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas seksual. Tangan yang bersih dan higienis akan mengurangi risiko yang timbul saat berhubungan seksual. Misalnya, pada saat berhubungan seksual, baik secara sadar atau tidak, tangan akan menyentuh bagian-bagian sensitif pada pasangan, seperti menyentuh alat kelamin. Bahkan, jari-jari pun akan ikut aktif memberikan stimulus dengan menyentuh lidah atau bahkan lubang dubur.

3. Larutan antiseptik
Bentuk antiseptik lainnya yang perlu kamu gunakan adalah larutan antiseptik. Larutan ini digunakan melalui oral (mulut). Fungsinya, untuk membunuh kuman penyebab penyakit sekitar mulut dan tenggorokan. Antiseptik ini memiliki banyak kegunaan, seperti membersihkan gigi dan gusi, menyegarkan nafas, dan menjaga kebersihan lidah. Dengan menggunakan antiseptik ini, kamu dapat mengurangi risiko yang timbul saat berciuman dan melakukan seks oral.

Demikian beragam macam bentuk antiseptik yang dapat kamu pergunakan untuk mencegah timbulnya risiko akibat berhubungan seksual. Dengan selalu menggunakan antiseptik ini, maka kamu peduli pada kesehatan diri sendiri dan pasangan. So, keep clean and healthy, bronis!

(by: Fianisme)

Kamu Di-Bully? Nih Strategi untuk Menghadapinya!



Tidak ada padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk kata bully. Jika diterjemahkan, bully sendiri artinya menggertak. Namun, tindakan-tindakan yang termasuk dalam bully itu sendiri tidak bisa dideskripsikan dengan kata menggertak.

Dalam bully, selalu ada ketidakseimbangan kekuatan antara dua pihak, keinginan untuk menyakiti secara fisik atau mental, dan pengulangan. Bully ini sendiri bisa berupa kekerasan fisik, ejekan melalui verbal atau media sosial di internet, ancaman, pengucilan, dan lain-lain.

Salah satu korban dari bully tersebut tentu remaja gay, waria, dan lesbian. Data dari National Youth Association menunjukkan bahwa di Amerika Serikat, 9 dari 10 remaja LGBT menjadi korban bully. Mereka di-bully 2-3 kali lebih sering dibanding remaja heteroseksual.

Akibat dari bully ini pun beragam. Di antaranya, banyak remaja LGBBT mengalami stres sampai depresi. Dampaknya adalah remaja LGBT jadi semakin rentan lagi untuk melakukan tindakan-tindakan yang memiliki resiko kesehatan yang tinggi, seperti merokok, meminum alkohol, menyilet lengan, dan lain-lain. Kondisi ini pun banyak berlanjut menjadi percobaan bunuh diri. Semua ini karena terbunuhnya rasa percaya diri secara perlahan-lahan sehingga merasa rendah diri dan berakhir tidak bisa menghargai dirinya seta hidupnya sendiri.

Oleh karena itu, ada baiknya sobat bronis memahami strategi untuk menghadapi bully berikut ini:
  1. Hindari para pelakunya. Kalau bisa tidak berpapasan dengan mereka, itu hal yang bagus. Kalau terpaksa berpapasan, hindari kontak mata. Kalau terpaksa berpapasan dan kontak mata, tetap bersikap biasa sambil menghindari dari mereka. Yang mereka inginkan adalah ekspresi malu dan tidak percaya diri dari kamu. Hindari memberikan itu kepada mereka!
  2. Acuhkan para pelaku ketika mereka masih sebatas mengejek secara verbal atau melalui media sosial. Ketika intensitas sudah mulai meningkat, tidak ada salahnya kamu menggunakan teknologi untuk merekam atau mengambil foto bukti ejekan mereka. Tentu, tanpa menyulut perhatian mereka. Barang bukti ini bisa membantu kamu sewaktu-waktu jika dibutuhkan.
  3. Jaga kepercayaan diri kamu. Ketika bully terhadap diri kamu sudah mulai membuat kamu stres dan merasa rendah diri, ceritalah kepada orang tua, kakak, dan teman. Tidak ada salahnya juga kamu bercerita kepada guru atau dosen yang bisa kamu percaya. Apapun yang mereka katakan kepada kamu, jangan merasa kamu lebih rendah dari mereka.
  4. Jika kamu bisa, ubah ejekannya menjadi lelucon. Apa yang dianggap sebagai kekurangan bisa menjadi sebuah anugerah. Apa yang dianggap kelebihan bisa menjadi sebuah malapetaka. Semua tergantung sudut pandang. Jadi, jangan ragu untuk mengubah apa yang dianggap buruk menjadi sesuatu yang dianggap lucu, bahkan unik.
  5. Laporkan ke orang tua, sekolah, kampus, atau bahkan pihak berwajib jika tindakan bully sudah keterlaluan. Contohnya, jika mulai ada tindakan fisik, seperti mendorong, meludah, memukul, dan lain-lain. Bisa juga berupa tindakan meminta uang secara paksa, mengerjai tempat duduk/tas/makanan, atau bahkan menculik.


Intinya, sobat bronis pasti bisa menghadapi bully ini tanpa melakukan bully lagi. Tunjukkan bahwa orientasi seksual yang mereka rendahkan tidak menghalangi siapa pun untuk bisa bersikap jauh lebih baik dari yang mereka lakukan.

Semoga strategi di atas bisa membantu sobat bronis. Tetap semangat!

(Ditulis oleh Satrio Nindyo Istiko. Mau ngobrol tentang film-film LGBT? Silakan mampir ke The Outsider di www.outsideroutsider.com)

Jumat, 10 Mei 2013

Kenapa Pacarmu Posesif?


Bronis, siapa yang gak mau punya pacar yang baik dan sangat perhatian? Pasti kamu mau punya pacar yang bisa selalu mengerti apa yang kamu butuhkan dan inginkan. Tapi, pernah gak merasa risih karena pacar terlalu berlebihan dalam memberikan perhatian? Atau, pernah gak merasa gak nyaman karena pacar sering memeriksa isi HP dan “menginterogasi” jika ada SMS atau BBM dari cowok lain yang dia gak kenal? Atau, pernah gak pacar bete saat kamu jalan bareng temen atau keluarga? Nah, kalau timbul perasaan seperti itu, sebaiknya kamu perlu waspada. Bisa jadi pacar kamu punya sifat posesif!

Posesif adalah sifat seseorang yang ditunjukan dengan keinginan untuk memiliki, baik seseorang atau sesuatu. Dalam sebuah hubungan, seorang pacar posesif akan merasa bahwa kamu adalah seseorang yang harus dijaga dan dilindungi baik-baik. Ibarat kamu adalah miliknya, pacar posesif tidak akan rela apa yang dia miliki rusak, tersakiti, hilang, atau direbut orang. Pada tingkat yang wajar, posesif dapat dimaknai bahwa pacar kamu adalah seorang yang sangat menyayangimu. Tapi, jika sifat posesif itu berlebihan, maka hal itu perlu diwaspadai karena akan membuat sebuah hubungan tidak nyaman.

Sifat posesif yang berlebihan itu misalnya jika pacar terlalu pencemburu. Apalagi, ada stereotipe yang berkembang di masyarakat bahwa GWL lebih pencemburu kepada pasangan dibanding pasangan straight. Memang, rasa cemburu itu gak bergantung pada identitas gender. Namun, yang perlu diwaspadai karena rasa cemburu yang timbul dari pasangan cenderung mudah disertai kekerasan. Oleh karena itu, pacar posesif perlu diwaspadai karena bisa berujung pada tindak kekerasan.

Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi posesif terhadap pasangan. Di antaranya adalah latar belakang keluarga. Kondisi keluarga yang bermasalah (broken-home) dan pola asuh orangtua yang over-protektif pada anak adalah dua hal yang dapat menyebabkan seseorang menjadi posesif pada pasangan. Misalnya, jika orangtua bersikap over-protektif terhadap anak, maka saat dewasa, anak tersebut akan bersikap sama pada pasangannya. Sedangkan seseorang yang tinggal dan besar dalam keluarga broken-home, akan bersikap posesif pada pasangan karena tidak ingin kehilangan pasangan seperti dia kehilangan sosok keluarga dalam hidupnya.

Selain itu, pengalaman traumatik di masa lalu atau dalam pergaulan juga dapat menjadi faktor penyebab lainnya. Misalnya, seseorang yang punya sifat minder dan gak banyak bergaul biasanya akan menganggap pacarnya adalah satu-satunya “teman baik” dalam hidupnya. Maka, dia akan memperlakukan pacarnya secara istimewa sebagai bentuk rasa terimakasihnya karena pacarnya sudah mau menemaninya. Perlakukan istimewa itu sebenarnya dapat berujung pada sifat posesif.

Faktor lainnya adalah sifat rendah diri. Ini biasanya terjadi pada seseorang yang merasa bahwa pacarnya memiliki kelebihan dibanding dia. Misalnya, kamu merasa beruntung karena pacar kamu ternyata seganteng Mario Maurer atau semanis Edward Cullen. Tapi, kamu juga harus siap-siap kalau pacar kamu bakal jadi idola bahkan rebutan orang-orang di kampusnya. Karena itu, bisa jadi kamu bakal merasa “khawatir” dan akan memberikan perhatian dan perlindungan lebih padanya.

Sebaliknya dari sifat rendah diri, seseorang yang merasa punya kelebihan dibanding pacar juga bisa jadi memiliki sifat posesif pada pasangan. Misalnya, seseorang yang kaya raya, punya fisik oke, pekerjaan mapan, akan menjadikan hal itu sebagai “modal” untuk bisa “berkuasa” dan mengatur pacarnya. Dia akan berpikir, pacarnya tidak akan mau kehilangannya hingga rela diperlakukan apapun olehnya.

Nah, jika sudah tahu apa faktor seseorang menjadi posesif dalam hubungan, tentu kamu dapat lebih memahami jika pacar kamu ternyata punya sifat posesif. Jika sudah memahami apa faktor yang menjadikannya posesif, kamu dapat mulai berkomunikasi lebih intens dengannya. Jelaskan bahwa sikapnya selama ini membuat kamu tidak nyaman. Kamu bisa banyak sharing dan menunjukkan banyak contoh bahwa sifat posesif dapat menghambat pergaulan atau pekerjaan. Tunjukkan bahwa keinginan kamu agar dia memperbaiki dirinya secara perlahan adalah bentuk rasa sayang dan peduli. Karena, kamu tidak mau sifat posesifnya mengganggu hidupnya, kini dan di masa yang akan datang.

by: Fianisme

Rabu, 08 Mei 2013

Cari Pacar Lewat Socmed? Ada Caranya!


Bronis, semua pada tahu dong kalau GWL biasa memanfaatkan akun media sosial (socmed) buat saling berkenalan dengan sesama. Itu karena sulitnya berkenalan dengan teman sesama gay di lingkungan sekitar kamu. Kenalan dengan sesama GWL di socmed memang perkara mudah. Tinggal saling follow, add, ngikutin akun-akun komunitas, grup, atau forum tertentu, maka kamu bakal ketemu banyak orang dengan beragam motif di sana. Ada yang cari teman buat sekadar sharing, nongkrong di dunia nyata, cari pacar, bahkan cari pasangan untuk berkencan hingga menjual seks.

Nah, gimana dengan kamu? Pasti punya tujuan masing-masing kan, kenapa memilih berteman dengan GWL lain lewat socmed. Selain itu, berawal dari socmed, biasanya seseorang bakal memutuskan buat ketemuan atau kopdar dengan teman socmed-nya. Jadi, jangan sampai niat kamu buat berteman gagal saat ketemuan karena dirusak modus penipuan, kejahatan, kekerasan, dan lain-lain. Biar gak terjebak dalam hal-hal yang negatif saat berteman di socmed, sebaiknya kamu memperhatikan hal-hal berikut ini.

1. Memilih teman dekat yang sebaya
Saat memilih seorang teman dekat atau pacar, sebaiknya carilah yang sebaya. Tujuannya, biar kamu bisa nemuin teman yang pas, sesuai dalam cara berpikir, wawasan, pergaulan, dan potensi kekerasan akibat relasi kuasa juga minim. Kalau pun harus mencari yang lebih muda atau tua, maka carilah yang kesenjangan usianya tidak berbeda jauh. Misalnya, kalau kamu masih 15 tahun, itu artinya usiamu masih di bawah kategori dewasa. So, sebaiknya kamu gak memilih pacar yang usianya jauh lebih tua karena risiko kekerasan akibat relasi kuasanya tinggi. Selain itu, orang dewasa yang memiliki pasangan yang masih sangat muda bisa merasa punya kekuasaan lebih dan rentan terhadap tindak kekerasan.

2. Membuka identitas diri secara bertahap
Banyak orang yang belum memiliki mental cukup kuat untuk coming out atau membuka identitas seksualnya kepada orang lain. Apalagi, untuk coming-out perlu proses, terutama menyangkut persiapan mental. Maka, jaga baik-baik privasimu. Berkenalan dengan seseorang yang baru berarti memilih orang asing dalam hidup kamu untuk jadi seorang teman atau bahkan pacar. Sebagai orang yang baru dikenal, sebaiknya kamu berhati-hati saat membuka identitasmu. Bukan berarti kamu harus berbohong, namun perkenalkan dirimu secara bertahap. Jangan sampai, meskipun baru kenal satu hari saja melalui Twitter, kamu mengenalkan identitas kamu secara lengkap dan detail kepada teman barumu itu, baik alamat, sekolah, dan lain-lain. Biarkan perkenalan itu berjalan sendirinya. Kalau dia benar-benar menghargai privasimu, dia tidak akan terburu-buru ingin mengenalmu secara langsung pada perkenalan pertama. 

3. Menghargai privasi orang lain
Saat seseorang yang kamu ajak berkenalan menolak untuk memberikan identitas secara detail, maka hargai sikapnya. Itu menunjukkan bahwa dia melindungi privasinya. Coba dekati dan berkomunikasi dengannya lebih intens dan lama, jika dia bersungguh-sungguh ingin berteman, dia pasti akan mulai mengenalkan dirinya lebih jauh. Selain itu, jika sudah mendapatkan identitas lengkapnya, kamu perlu menjaga privasinya. Jangan sampai kamu menyebarkan fotonya meskipun kepada orang yang tidak dikenalnya atau mengenalnya. Percayalah, saat kamu menghargai orang lain, maka orang lain pun akan menghargaimu.

4. Bertemu di tempat publik yang ramai
Saat memutuskan buat ketemuan atau kopdar, sebaiknya bertemulah di ruang publik dan menghindari bertemu di ruang privat, seperti rumah atau kos. Itu bukan berarti kamu harus menaruh curiga atau berpikiran negatif tentang temanmu. Namun, sebaiknya kamu mengenal dan menilainya secara langsung saat pertemuan pertama. Hal ini untuk menghindari kasus-kasus yang tidak diinginkan, seperrti tindak pencurian hingga kekerasan.

5. Memperkuat kontrol diri
Pada usia remaja, ketertarikan seksual pada orang lain adalah hal yang lumrah. Pikirkan baik-baik, usiamu yang masih muda dan produktif, apakah sudah siap untuk melakukan hubungan seksual? Apalagi jika usiamu masih di bawah 17 tahun, sangat tidak dianjurkan untuk melakukannya. Sebaiknya kamu menunda keinginan berhubungan seksual hingga kamu merasa siap. Saat merasa siap, kamu juga perlu memilki kesadaran untuk tidak berganti pasangan dan selalu menggunakan kondom. Ingat ya, hindari hubungan seksual yang berisiko, agar kamu dan pasangan juga bisa terus sehat.

by: Fianisme