Alasan LGBT Berhak Mendapatkan Pendidikan


Sobat Bronis, polemic keberadaan Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) di Universitas Indonesia banyak sekali menuai komentar terkait komunitas LGBT di Indonesia khususnya di dalam sekup pendidikan di Universitas. Mulai dari masyarakat sipil, akademisi, sampai pejabat Negara berebut membuat opini yang sayangnya negatif.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M. Nasir menegaskan kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) semestinya tidak boleh masuk kampus, Menurut dia, kelompok LGBT bisa merusak moral bangsa dan kampus sebagai penjaga moral semestinya harus bisa menjaga betul nilai-nilai susila dan nilai luhur bangsa Indonesia (Antara News, 23 Januari 2016)
.

Sobat Bronis, sebelum jauh berasusmsi tentang LGBT yang merusak moral bangsa ini  ada baiknya kita seharusnya memahami beberapa konsep tentang LGBT, yaitu :

1. Lesbian, Gay, Biskesual adalah varian dari keberagaman ketertarikan seksual yang duduk setara dengan heteroseksual. Sedangkan Trans
gender adalah varian dari keberagaman identitas gender yang juga harus duduk setara dan sama dengan perempuan dan laki-laki.

2. Poin 1 diatas didukung oleh beberapa hasil penelitian yang dilakukan oleh pihak-pihak akademisi seperti WHO pada 1990 telah mencabut homoseksual dari daftar penyakit yaitu pada nternational Classification of Diseases (ICD) edisi 10. Asosiasi Psikologi Amerika menyatakan bahwa penelitian dan literatur klinis menunjukkan bahwa homoseksualitas adalah variasi normal dan positif dari orientasi seksual manusia. Sejak kali pertama diterbitkan pada 1952, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) menuai pujian dan juga kritik. Hingga kini, DSM sudah mengalami revisi lima kali. Indonesia juga tidak ketinggalan melalui Pedoman Penanggulangan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) ke II pada tahun 1983 dan III tahun 1993 telah mengeluarkan Homoseksual dari daftar gangguan jiwa.


3. Poin 2 menunjukan bahwa sesungguhnya kajian-kajian tentang seksualitas khususnya LGBT selalu didasari dengan ilmiah dan pendekatan akademisi bukan hanya asumsi dan persepsi.


Selain poin-poin diatas, Konstitusi tertinggi Republik Indonesia UUD 1945 telah menjamin Hak Asasi Manusia setiap warga Negara termasuk didalamnya adalah LGBT. Ada sekitar 40 Hak Konstitusional warga Negara Indonesia, Beberapa Hak yang dimaksud diantaranya Hak untuk berkomunikasi dan mendapatkan Informasi (Pasal 28 F), Hak mendapatkan Pendidikan (pasal 31 ayat 1, pasal 28 C ayat 1 ), Hak atas kebebasan berserikat dan berkumpul (28 E ayat 3), Hak untuk menyatakan pikiran (28 E ayat 2), Hak untuk bebas dari perlakuan diskriminatif atas dasar apapun (Pasal 28 I ayat 2), Hak untuk mendapatkan perlindungan terhadap pelakuan yang bersifat diskriminatif (pasal 28 I ayat 2) dan masih banyak lagi.


Sobat Bronis, jika Bapak M Nasir melarang LGBT dikampus apakah itu sama dengan beliau melanggar Hak Warga Negara Indonesia untuk mendapatkan pendidikan serta memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang tentu ini sangat penting demi kemajuan bangsa Indoesia kedepannya.

Menristek M.
Nasir CABUT PERNYATAAN LGBT MERUSAK MORAL BANGSA &  PELARANGAN MASUK KAMPUS - Paraf Petisi!Klik http://ow.ly/XzCIG


Oleh : Romi Agung Wiratama
Wednesday, January 27, 2016

Keringat Pria Bikin Semangat Bercinta


Sobat bronis, kali ini kita akan sedikit menguak fakta tentang ketertarikan seorang Gay (homoseksual laki-laki) pada aroma keringet laki-laki nih. Memang sudah pasti penampilan aja, belum tentu menjadi jaminan apa orientasi seksual seorang laki-laki tersebut.

Jika dulu, gay selalu diidentikkan dengan kaus ketat, celana jins ketat, sandal dan juga tas bahu, kini tak semua gay memiliki ciri-ciri seperti itu. Beberapa di antaranya bahkan terlihat sama dengan laki-laki heteroseksual pada umumnya.

Seperti dikutip dari NYTimes, Selasa (18/1/2011) sangat sulit membedakan antara laki-laki homoseksual dengan laki-laki heteroseksual berdasarkan penampilan, karena laki-laki hetero bisa saja berpenampilan seperti gay, begitu pun sebaliknya.

Banyak juga yang menyamakan antara gay dengan metroseksual yang mengarah pada hal-hal feminin seperti pergi ke salon atau memakai pakaian berwarna merah muda. Padahal gay tidak bisa disamakan dengan metroseksual, karena gay memiliki perbedaan pada orientasi seksualnya dan bukan sekedar pada selera berpenampilan.

Bahkan sobat brownis, sebuah studi tahun 2005 menuturkan salah satu hal yang membedakan laki-laki gay dengan heteroseksual adalah respons yang berbeda ketika mencium bau keringat laki-laki. "Wahh.. Masaa sih??"

Ketika laki-laki homoseksual mencium bau keringat sesamanya, maka otak laki-laki homoseksual akan merespons bahan kimia dalam hormon testosteron sama seperti respons perempuan terhadap laki-laki.    
Hasil temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas otak dan orientasi seksual saling berhubungan. Senyawa dalam testosteron akan mengaktifkan hipotalamus pada laki-laki homoseksual dan perempuan heteroseksual, tapi tidak pada laki-laki heteroseksual. Sebaliknya senyawa estrogen lah yang mengaktifkan hipotalamus pada laki-laki heteroseksual.

"Ini menunjukkan respons fisiologis yang berbeda terhadap stimulus eksternal yang sama, respons ini terjadi di wilayah otak yang terlibat dalam perilaku reproduksi," ujar Ivanka Savic, ahli saraf dari Karolinska Institute, seperti dilansir nationalgeographic.com.

Satu hal yang perlu diingat nih guys, bahwa stereotip seringkali tidak mencerminkan realitas yang ada, seseorang yang muncul dengan stereotip gay mungkin saja tidak dan sebaliknya. Meskipun sulit menentukan apakah seseorang gay atau heteroseksual, kadang insting bisa memberikan jawabannya. Tapi jangan dijadiin contoh ya guys, kalo kalian nantinya berpikir bahwa bau keringet itu selalu dan pasti bisa menarik pasangan kita, karena belum tentu semua orang menyukai hal itu. Bisa gulung tiker deh para produsen deodorant.  Well, Semoga bermanfaat ya sobat bronis! 

Oleh : Fyan Abdullah
Tuesday, January 19, 2016

Informasi Singkat Mengenai Test HIV

Apakah Test HIV itu?

Voluntary Counseling and Testing (VCT) merupakan salah satu strategi kesehatan masyarakat yang dilakukan untuk menangani penyebaran HIV/AIDS (Depkes RI, 2006). VCT adalah proses konseling pra-testing, konseling post-testing atau testing HIV secara sukarela yang bersifat confidental (rahasia) dan secara lebih dini membantu orang mengetahui akan status HIV-nya. 

Konseling pra-testing memberikan pengetahuan tentang HIV dan manfaat testing, pengambilan keputusan untuk testing, dan perencanaan atas issue HIV yang akan dihadapi. Konseling post-testing membantu seseorang untuk mengerti dan menerima status (apabila dinyatakan HIV+) dan merujuk pada layanan dukungan. 

Voluntary Counseling Test (VCT) merupakan pintu masuk penting untuk pencegahan dan perawatan HIV.  Ada dua keuntungan penting bila seseorang sudah mengetahui status HIV-nya. Pertama, bila terinfeksi HIV, orang tersebut dapat mengambil langkah-langkah yang dipandang perlu sebelum gejala muncul, yang secara potensial dapat memperpanjang hidupnya selama beberapa tahun. Juga dapat mengambil segala kewaspadaan yang dipandang perlu untuk mencegah penyebaran HIV kepada orang lain. Kedua, bila diketahui tidak terinfeksi maka dapat melakukan tindakan hidup sehat untuk menghindari resiko tertular HIV.
Jadi secara singkat, VCT adalah tes dan pemeriksaan sukarela dari kemungkinan terkena infeksi menular seksual (IMS) atau HIV/AIDS yang diberikan rumah sakit (RS) dan puskesmas dengan dilakukan oleh seorang konselor VCT yang terlatih, yang dilakukan sebelum dan sesudah test darah untuk HIV di laboratorium.

Mengapa perlu adanya VCT ?  

Tujuan utama VCT adalah untuk mendorong orang yang sehat, asimtomatik untuk mengetahui status HIV, sehingga mereka dapat mengurangi tingkat penularannya. VCT dapat menurunkan perilaku beresiko, terutama pada mereka yang telah dites dan dapat membantu beberapa program preventif di masyarakat. 
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, VCT dapat merubah perilaku beresiko dalam beberapa kelompok rentan terhadap HIV di masyarakat (Sangiwa G. Et al., 1998).

VCT perlu dilakukan karena merupakan pintu masuk untuk menuju ke seluruh layanan HIV/AIDS, dapat memberikan keuntungan bagi klien dengan hasil tes positif maupun negatif dengan fokus pemberian dukungan terapi ARV (Anti Retroviral), dapat membantu mengurangi stigma di masyarakat, serta dapat memudahkan akses ke berbagai layanan kesehatan maupun layanan psikososial yang dibutuhkan klien (Murtiastutik, 2008).

Siapakah yang dapat memanfaatkan VCT ?  
VCT terbuka untuk siapa saja, yang secara sukarela tanpa paksaan ingin memeriksakan dirinya terhadap status kesehatannya. Baik untuk orang yang sehat tanpa gejala HIV (asimtomatik) maupun untuk orang dengan tada-tanda HIV. Seluruhnya bebas melakukan VCT dengan keinginan dan kemauannya sendiri tanpa paksaan dari pihak manapun.

Untuk informasi VCT di tempat kamu silahkan kunjungi website www.gueberani.com

Oleh : Sepi Maulana Ardiansyah

Homoseksual : Benarkah tidak alamiah ??



Seksualitas telah tergerus oleh arus modernitas. Relasi seksual terdefinisikan oleh perkembangan semangat industrialisasi modern. Semangat progresifitas dalam masyarakat modern, dengan mengandaikan manusia selalu bergerak maju menjadikan manusia melakukan seks dengan kalkulasi keuntungan, salah satunya yaitu keuntungan berupa reproduksi. Seksualitas tentu tercipta bukan karena rengekan bayi yang bahkan belum pernah tercipta. Maka dalam hal ini, definisi seksualitas modern menemukan jalan buntu. Seksualitas bukan hanya masalah produksi, seksualitas adalah masalah kenikmatan seperti yang diandaikan oleh Foucoult maka perilaku seksual yang tidak menghasilkan keturunan, termasuk LGBT menjadi terbenarkan.
                          
Dan argumentasion prokreasi sering digunakan untuk menyerang LGBT. Selain sejarah perkembangan modern, agama samawi-yang merupakan salah satu modus patriarki juga berusaha mendefinsikan seksualitas sebagai yang hanya pro kreasi. Bagaimana kemudian agama begitu getol menggiring umatnya agar semakin produktif dengan keturunan, karena memang Tuhan selalu merasa defisit penyembah. Dengan adanya penyembah maka tuhan ada, dan sebaliknya. Alasan inilah yang melatarbelkangi dokumen dokumen kitab suci hanya mendefinisikan seks sebagai hanya PIV ( penis on vagina ).

Kemudian PIV lah yang hanya dianggap normal dimasyarakat, tampil maskulin lewat rahim perempuan. Semakin jantan laki laki manakala penis mampu berfungsi secara sempurna, puncaknya dengan menghasilkan keturunan. Dan laki laki menggunakan mesin rahim demi popularitas mereka. Ingat ternyata perintah menghasilkan keturunan tidak murni perintah Tuhan, namun juga ajang unjuk kebolehan laki laki yang kemudian dilegitimasi oleh Tuhan yang juga dibuat laki laki.

Dengan munculnya gerakan indutrialisasi dimana terdapat polarisasi pada masyarakat, antara proletar dengan mereka yang kapitalis, mereka yang berposisi sebagai buruh tereksploitasi dalam relasi kuasa industri, pola pikir industri yang menjadikan masyarakat melihat bahwa segala sesuatu harus bersifat produktif. Campuran antara narasi agama, cara berpikir patriarki, kuasa kapitalis dan framework industri telah membawa dampak besar pada urusan seksualitas. Seksualitas kemudian terbawa menuju yang hanya bersifat prokreasi, produktivitas, dan popularitas. Dalam hal ini kita sadar ternyata hubungan seks melalui penis dan vagina tidak murni hanya karena nature, namun ternyata disusupi oleh berbagai kepentingan.

Permasalahan seks ternyata tidak hanya berkubang pada penis saya dan vaginamu, namun pada penis kita, penis tuhan, dan vagina sosial, vagina proletar. Padahal bukankah seharusnya seksualitas adalah masalah keintiman antara dua sejoli ( ?? ).

Sudah terbukti bahwa prokreasi adalah salah satu jenis produk dari sosial, namun masih banyak yang tidak terima.  Mereka sepertinya tidak pernah membaca jurnal ilmiah yang membeberkan data sejumlah spesies binatang yang berperilaku homoseksual, 1500 spesies yang melakukan perilaku yang non prokeasi. Jerapah, penguin,  juga termasuk penikmat perilaku homoseksual, lalu apakah mereka tidak natural, bukankah mereka betindak hanya karena instinct naturalistik dalam diri mereka. lalu ( ?? )

Perilaku kaum homoseksual yang tidak bisa menghasilkan keturunan tidaklah salah dengan titik seksualitas yang dipahami sebagai hanya seeking pelasure, dan bukan hanya prokreasi.

Terlalu sempit jika seksualitas hanya pada penis dan vagina. Eksplorasi perilaku seks merupakan hal yang justru sangat naluriah. Dan jika homoseksual dianggap tidak alamiah, justru kaum homoseksual adalah yang masih alamiah, belum tersusupi oleh relasi kuasa, industri, agama dan berbagai variabel artificial lainnya.


Oleh: Fathul Purnomo
Daftar Pustaka

Foucault, Michel.(1980). Power/Knowledge Selected Interview and Other Writings, New York : Pantheos Books. 
Monday, January 11, 2016

7 Mitos Gay Yang Beredar Di Masyarakat

Halo, sobat Bronis! Setelah U.S.A melegalkan pernikahan sesama jenis, warga Indonesia berduyun-duyun turut membahas homoseksualitas. Mulai dari warung kopi sampai level akademisi. Namun, sadarkah sobat Bronis bahwa banyak mitos yang menyebar seputar kaum homoseksual? Berikut 7 mitos mengenai gay.

1. Gay adalah penyimpangan seksual
Beradasarkan DSM V-TR yang merupakan buku rujukan psikologi seluruh dunia, homoseksualitas sudah tidak lagi digolongkan kedalam penyimpangan seksual. Homoseksualitas dianggap sama dengan preferensi seksual lainnya, sehingga tidak ada alasan untuk mengatakannya sebagai sebuah penyimpangan.

2. Gay menular
Gay bukanlah penyakit yang disebabkan oleh virus maupun bakteri sehingga bisa menular. Homoseksualitas adalah masalah preferensi seksual. Homoseksual tidak akan menular hanya karena bergaul dengan gay.

3. Gay mampu disembuhkan
Karena menjadi gay bukanlah penyakit maka tidak relevan menggunakan kata disembuhkan. Seksualitas adalah masalah yang fluid, betul jika seseorang bisa berubah preferensi seksualnya. Namun, hal itu bukan berarti preferensi yang satu lebih unggul dibanding yang lain. Penyembuhan ini hanya sia sia belaka, karena perubahan preferensi seksual sifatnya sangat kompleks dan tidak hanya sekedar jampi-jampi mantera suci.

4. Gay adalah pembunuh
Sejak kasus Ryan sang jagal terungkap dan disaat yang sama dia memiliki preferensi seksual sejenis, maka media membombardir netizen dengan mengaitkan pembunuhan dengan preferensi seksual. Tidak ada kaitannya sama sekali antara tindak kriminal dengan preferensi seksual. Sebaliknya, jika seorang hetero yang melakukan tindakan pembunuhan tidak pernah diakitkan dengan preferensi seksual. Lihat, betapa cantik media bermain. Ingat Hitler bukan?

5. Gay adalah Barat
Kata siapa? Ada budaya daerah yang juga mempraktikkan homoseksualitas seperti halnya warok dan gemblak di reog Ponorogo. Jika ada yang mengatakan bahwa baru di era reformasi ini homoseksualitas begitu marak, hal itu salah. Karena sejak dulu praktik homoseksualitas di Indonesia sudah ada, namun belum seterbuka sekarang saja.

6. Gay selalu metroseksual
Banyak dari pria gay yang ternyata tidak doyan dandan, bahkan mereka adalah anak gunung, tidak suka belanja, dan tidak pernah ke spa. Tidak juga pernah ke gym seperti yang selama ini masyarakat pikirkan. Preferensi seksual menyasar siapa saja, tanpa melihat background penampilan.

7. Gay penyebar HIV dan AIDS
Data Kementerian Kesehatan yang dirilis per 1 Desember 2014 menunjukkan bahwa pengidap HIV AIDS justru paling banyak berasal dari orang-orang heteroseksual (61,5%), disusul pemakai jarum suntik ( 15,2%), dan baru disusul homoseksual sebesar (2,4%) .

Nah, sadar kan kalau ternyata banyak mitos yang beredar dan sungguh tidak tepat? Semoga bermanfaat dan menghilangkan mitos-mitos yang selama ini menjangkiti masyarakat. 


Oleh: Fathul Purnomo
Saturday, December 19, 2015

7 Alasan Transgender Adalah Normal

Beberapa waktu yang lalu Bronis telah membahas mengenai Transgender Day of Remembrance. Dimana TDOR adalah sebuah momentum untuk kita memperingati teman-teman transgender yang telah meninggal dan tersisihkan karena transphobia. Sebenarnya dalam psikologi sendiri tidak ada yang namanya transphobia. Ini hanya istilah yang digunakan untuk menyatakan ketakutan berlebih pada gender sesuatu yang dianggap tidak normal seperti transgender. Nah karena itu, kali ini Bronis akan coba bahas 7 alasan mengapa Transgender adalah hal yang normal! Yang beberapa waktu lalu bronis juga sempat singgung 10 alasan gay adalah normal.

1. APA?
Yup, APA. Menurut American Psychological Association: Sebuah keadaan psikologis dianggap sebagai gangguan mental hanya jika menyebabkan penderitaan yang signifikan. Banyak transgender tidak mengalami gender mereka sebagai sesuatu yang menyedihkan. Berarti mereka mengidentifikasikan diri sebagai transgender bukan merupakan gangguan mental. Untuk teman-teman transgender, masalah yang signifikan adalah menemukan sumber yang terjangkau, seperti konseling, terapi hormon, prosedur medis, dan dukungan sosial yang diperlukan untuk bebas mengekspresikan identitas gender mereka dan meminimalisir diskriminasi. Banyak hambatan lain dapat menyebabkan kesusahan, termasuk kurangnya penerimaan dalam masyarakat, pengalaman langsung atau tidak langsung dengan diskriminasi, atau penyerangan. Pengalaman ini dapat menyebabkan banyak transgender menderita dengan kecemasan, depresi, atau gangguan yang berhubungan dengan harga lebih tinggi dari cis-gender.

2. Pembohong itu yang gak normal!
Bahkan menurut penuturan APA diatas menjelaskan bahwa seorang transgender yang tidak mampu mengekspresikan gendernyalah yang menjadikannya sebuah gangguan mental. Misalnya, jika teman kita yang terlahir bervagina namun merasa dirinya seorang laki-laki, namun karena lingkungan sekitarnya memaksanya harus menjadi “perempuan” sosial, menyebabkan ia mengalami depresi. Ini yang menjelaskan bahwa transman adalah normal!

3. Di Skotlandia, laki pake rok?
Pernah ke Skotlandia? Gak pernah? Oke, gapapa. Di Skotlandia, salahsatu pakaian laki-lakinya berupa rok, bukan celana! Upaya penyesuaian gender misalnya dengan penggunaan aksesoris perempuan banyak dilakukan oleh teman-teman waria. Misalnya, seorang waria yang menggunakan rok karena rok diidentifikasikan sebagai perempuan. Tapi ini salah! Ternyata rok ini memiliki konteks budaya dan wilayah masing-masing. Tidak perlu jauh-jauh ke Skotlandia, kita pergi ke kraton Yogyakarta. Bukankah para sultan menggunakan sejenis rok dari batik?

Maka menjadi transgender adalah normal, karena alat verifikasi gender dibentuk sesuai dengan masyarakatnya, bukan karena ciptaan Tuhan. Normal ‘kan seorang sultan menggunakan sejenis rok?

4. Apakah seks = gender?

Seks tidak sama dengan gender. Seks adalah bentukan biologis yang diidentifikasikan dari keberadaan jenis kelamin, hormon, dan genosom. Kemudian gender adalah bentukan sosial dimana peranan gender dibentuk oleh masyarakat. Gender dan seks ini bisa saja berbeda karena hal yang (katanya) biologis tidak selalu bersesuaian dengan sosial. 

5. Seks, biologis atau sosial?
Berbicara seks tidak bisa hanya berbicara tentang keberadaan penis atau vagina sebagai alat verifikasi seks. Kita harus mempertimbangkan seperti hormon dan kromosom. Apakah Sobat Bronis pernah test hormonal dan kromosom yang menyatakan bahwa sobat Bronis adalah laki-laki atau perempuan biologis? Belum pernah? Bisa saja, misalnya Sobat Bronis memiliki penis dan berpakaian layaknya laki-laki, bagaimana jika di test hormone dan kromosom menyatakan bahwa kamu memiliki kecenderungan hormone Esterogen dan progesterone dan memiliki genosom XXY? Bukankah kamu bisa dikatakan seorang interseks?

6. Konsep kecantikan dan ketampanan!
Kalau gender, ekspresi gender, ketubuhan adalah hal yang benar-benar berbeda dan memang bentukan sosial, mengapa harus terus terkukung dengan konsep kecantikan dan ketampanan?

Contoh: - Seorang berpenis menggunakan baju laki-laki, namun merasa dirinya cantik
- Seorang berpenis menggunakan baju perempuan, namun merasa dirinya cantik
- Seorang berpenis menggunakan baju perempuan, namun merasa dirinya tampan

Konsep kecantikan untuk orang-orang yang mengerti bahwa konsep kecantikan dan ketampanan adalah konstruksi bukan lagi menjadi hal yang ajeg yang menjelaskan seseorang itu cantik atau tidak. Tapi lebih kepada perasaan, “wah gue cantik” atau “wah gue ganteng.”. Karena gender, ekspresi gender, dan identitas gender adalah hal yang benar-benar dibentuk oleh masyarakat.

7. Kita semua adalah transgender!
Kalau dalam ilmu sosial, kita tidak bisa mencapai status gender ekstrim pada satu waktu. Setidaknya konsep gender ibarat spektrum, sisi ekstrim kanan diibaratkan seorang dengan konsep laki-laki ideal yang terintegrasi baik biologis, gender, eskpresi gender, orientasi seksual, dan ekstrim kanan sebaliknya. Yang faktanya tidak pernah bisa ada. Kita semua adalah transgender! Coba lihat untuk Sobat Bronis yang berpenis, apakah pernah test kromosom? Apakah ayah sobat Bronis pernah mencuci baju (dimana hal domestik dikaitkan dengan konsep pekerjaan perempuan)?

Sudah tahu 'kan bahwa kita semua itu diciptakan sangat-sangat berbeda? Bahkan kalau secara ekstrim diterjemahkan, kita semua memang benar-benar berbeda!

Salam keberagaman ya sobat :)

Oleh: Achmad Mujoko


Thursday, December 17, 2015

Lesbian dan Gay di Dunia Teknologi

Hai Sobat Bronis! Siapa sih yang nggak tahu produk Apple?

Kita yang sehari-hari hidup dengan teknologi pasti sudah tidak asing kata “Apple”. Terus apa sih yang spesial dari Apple? Kabarnya, CEO Apple menyatakan dirinya sebagai gay.

"Saya bangga menjadi seorang gay."

Itu adalah sederet kata yang dituliskan oleh Tim Cook (CEO Apple) yang dipublikasikan oleh harian Bloomberg Businessweek beberapa waktu lalu. Meski sudah bukan rahasia lagi, namun pengakuan publik tersebut merupakan yang pertama yang langsung terlontar dari CEO Apple tersebut.

Selain Cook, ternyata dunia teknologi sudah tidak asing lagi bagi pemilik orientasi seksual homoseksual, baik itu gay mau pun lesbian. Laman Business Insider menemukan setidaknya ada 30 petinggi di industri teknologi yang telah mengaku bahwa dirinya adalah seorang gay atau lesbian. Kebanyakan dari mereka memang tidak sepopuler Cook, namun beberapa di antaranya menempati posisi penting di perusahaan masing-masing.

Kondisi ini membenarkan anggapan Cook yang mengatakan, "banyak kolega di Apple tahu bahwa saya adalah gay, dan itu tampaknya tidak membuat perbedaan dalam cara mereka memperlakukan saya."

Orientasi seksualitas tentunya bukan lagi menjadi penghambat karir di dunia modern seperti sekarang ini. Selain Cook, salah satu founder PayPal, Peter Thiel, yang juga telah mengakui bahwa dirinya adalah seorang gay. Lalu, ada Jon 'Mad dog' Hall selaku direktur eksekutif Linux International, dan Chris Hughes, salah satu founder Facebook. Sementara untuk lesbian, Business Insider mencatatkan nama wakil presiden eksekutif Microsoft Lisa Brummel, Sara Sperling dari Facebook, dan juga insinyur senior IBM, Edith Windsor.

Jadi, sobat Bronis, orientasi seksual tentunya tak menjadi penghalang bagi mereka untuk terus berkarir dan meraih prestasi di bidang meraka masing-masing. So, soba


Oleh: Agung Bebas Lepas

t Bronis bisa meraih cita cita di bidang apapun tanpa perlu minder dengan orientasi seksual kita sendiri.
Tuesday, December 15, 2015

- Copyright © BrondongManis -