Transition: A Shortcut and Commercial

Terkadang, menjadi diri sendiri adalah hal yang sangat sulit bagi setiap orang. Dimana kita tidak bisa tampil sebagai seseorang yang kita inginkan. Rasanya seperti memakai topeng kemana-mana. Begitulah yang dirasakan oleh seorang transgender. Sulit bagi mereka untuk hanya sekedar menjadi dirinya sendiri, apalagi mereka yang mengalami gender dysphoria. Tubuh yang mereka miliki saat ini bukanlah yang mereka inginkan. Salah satu cara untuk mengatasi depresi yang timbul karena kondisi tersebut adalah penyesuaian gender. Namun, hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Di Indonesia, akses untuk hormone replacement therapy (HRT) dan sexual reassignment surgery (SRS) sangat sulit. Tidak banyak tenaga medis yang ramah transgender. Sedangkan prosedur untuk menuju SRS sendiri sangat panjang. Mulai dari konsultasi psikiater, real life experience, HRT, baru menuju yang SRS yang terdiri dari berbagai tahap. HRT bagi transgender (terutama FTM) juga merupakan pengobatan seumur hidup. Belum lagi proses hukum pergantian legal document yang memakan waktu. Prosedur ini berlaku bagi FTM maupun MTF. Tentunya, biaya yang harus dikeluarkan pun tidak sedikit.

Proses transsexual bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan tanpa pertimbangan yang matang. Baik kondisi fisik, mental, maupun finansial harus dipersiapkan dengan baik. Maka, pendampingan kejiwaan menjadi sesuatu yang krusial. Karena kerap terjadi beberapa kasus dimana seseorang merasa menyesal telah melakukan SRS. Selain itu, prosedur yang kita lakukan juga harus disesuaikan dengan tubuh kita. Beberapa pemeriksaan dilakukan sebelum melakukan HRT. Misalnya, cek kromosom, USG abdomen, dan cek darah total.

Terbatasnya akses yang ramah transgender ini kemudian menjadi lahan komersil bagi sebagian orang. Tindakan komersialisasi ini dilakukan dengan dalih memberikan shortcut bagi transgender dalam melakukan proses medis. Ke psikiater tidak lagi sebagai sarana konsultasi, melainkan untuk mengambil “surat jalan” sebagai rujukan HRT atau SRS. Belum berakhir di situ. Saat berada di tenaga medis yang bersangkutan untuk HRT, kita langsung diberikan suntikan atau resep obat hormon tanpa melalui pemeriksaan dan konsultasi medis terlebih dahulu. Kita juga harus mendapatkan rekomendasi dari orang-orang tertentu untuk mengakses dokter yang dapat melakukan SRS di Indonesia. Untuk mengurus legal document, biaya yang dipatok oleh pengacara dan beberapa oknum juga sangat tinggi. Kondisi ini menjelaskan bahwa transgender adalah alat untuk meraup keuntungan.

Semua itu terjadi karena belum diakuinya keberadaan gender ketiga di Indonesia. Transgender masih dinilai sebagai sesuatu yang “unik” dan memiliki nilai jual. Padahal, transgender hanya menginginkan yang terbaik untuk menjadi dirinya sendiri. Tindakan medis tanpa pelayanan dan pertimbangan yang matang berisiko membahayakan kesehatan kita. Bagi teman-teman transgender, mulailah berpikir secara matang tentang kondisi kesehatan. Jangan sampai kita dibutakan oleh gender dysphoria dan kemudian membahayakan diri sendiri. Karena hidup hanya sekali. Bukankah akan lebih membahagiakan jika kita menjadi diri sendiri dengan tubuh yang sehat?


Oleh: Abhipraya Ardiansyah
Tuesday, January 27, 2015

INTERSEX - Varian dari Mereka yang Terlahir di Dunia

Hampir seluruh dunia hanya mengetahui bahwa manusia yang terlahir dengan penis adalah laki-laki dan yang terlahir dengan vagina adalah perempuan. Tapi, tahukah kalian bahwa ada manusia yang terlahir diantaranya?    
Yak! Mereka adalah Intersex!      

Apa sih Intersex? Intersex adalah variasi jenis kelamin yang berbeda atau tidak masuk kategori laki-laki maupun perempuan. Variasi ini dapat diidentifikasi dari keambiguan yang terlihat, seperti organ genital, ciri kelamin sekunder, dan lainnya. Namun keambiguan tersebut juga ada yang tidak terlihat, seperti kromosom dan hormon. Perbedaan yang tidak terlihat tersebut biasanya juga mempengaruhi anatomi fisik seperti tanda-tanda kelamin sekunder. Intersex ada yang menyerupai laki-laki atau perempuan, ada yang menyerupai keduanya, bahkan ada juga yang tidak menyerupai keduanya.    
Apa sih bedanya Transgender/Transsexual dengan Intersex?

Intersex mengacu pada kondisi biologisnya, sedangkan Transgender/Transsexual mengacu pada psikis, konstruksi sosial, dan identitas gendernya. Contoh Transgender/Transsexual adalah laki-laki yang terlahir dengan kondisi intersex, merasa bahwa ia adalah seorang perempuan.              

Apa saja jenis keambiguannya? Keambiguan yang sering terjadi pada intersex adalah:
- Jumlah dan tipe kromosom.
Contoh: laki-laki mempunya kromosom XY sedangkan perempuan mempunyai kromosom XX. Nah, beberapa dari intersex terlahir dengan kromosom XXY!

- Tipe gonad atau sel reproduksi yang dihasilkan.
Contoh: perempuan yang mempunyai organ genital vagina, tapi dia menghasilkan sperma. Nah lho. Ada ya? Ini ada lho!

- Jumlah dan kadar hormon.
Contoh: laki-laki pada umumnya mempunyai kadar hormon testosteron lebih tinggi dari estrogen, namun ada juga mereka yang secara fisik menyerupai laki-laki tapi ternyata kadar estrogennya jauh di atas normal bahkan melebihi kadar testosteronnya

- Bentuk internal alat reproduksi.
Contoh : mereka terlahir dengan penis, namun pas di cek di dalamnya, mereka punya rahim dan ovarium!

- Organ genital eksternal.
Contoh: orang yang mempunyai vagina dengan klitoris yang berukuran besar menyerupai penis.  

Namun, ciri keambiguan tersebut masih sangat luas mengingat banyak sekali jenis-jenis intersex yang ditemukan di masyarakat. Ada yang munculnya dari lahir, ada yang baru muncul saat puber, ada juga yang muncul ketika dewasa. Wah… luas ya?

Tindakan untuk intersex apa aja sih? Tindakan yang biasanya ditempuh oleh intersex adalah memilih jenis kelamin yang diterima oleh masyarakat (laki-laki atau perempuan), operasi, terapi hormon, dan tindakan lainnya. Terkadang, tindakan tersebut melibatkan tindakan sterilisasi.

Pada bayi intersex, biasanya akan ada penentuan kelamin yang nantinya dilanjutkan dengan tindakan operasi dan treatment lainnya, untuk masuk ke dalam jenis kelamin yang diakui masyarakat. Namun belakangan, masalah bayi intersex mendapat sorotan karena dianggap tidak mempedulikan keputusan anak untuk menjalani jenis kelamin yang mana.      

Hak Intersex sebagai Manusia  
Belakangan ini, kasus intersex menjadi sorotan para pemerhati Hak Asasi Manusia. Banyak bayi atau anak intersex yang “didorong” masuk ke dalam kategori jenis kelamin yang diterima masyarakat. Padahal bayi/anak intersex tersebut berhak menentukan sendiri ingin melakukan penegasan kelamin sebagai laki-laki atau perempuan, atau bahkan tidak menjalani keduanya, ketika sudah besar dan dapat memutuskan hal tersebut.  

Contoh lain dalam permasalahan hak asasi adalah di bidang olahraga. Banyak atlet dilecehkan, dikeluarkan, bahkan diminta mengembalikan medali yang telah ia dapat karena kondisi intersex-nya terungkap. Contohnya adalah Pinki Pramanik, Foekje Dillema, dan Erik Schinegger. Hal ini membuktikan masih adanya diskriminasi di bidang olahraga.            

Pergerakan Perjuangan Intersex  
Pada tahun 2014, WHO melaporkan kasus penegasan kelamin serta treatment yang dipaksakan pada intersex. Yang dipermasalahkan antara lain:
- Kepentingan medis yang dilakukan (operasi dan treatmen lainnya)
- Kemampuan pasien memberikan konsen atau persetujuan atas langkah medis yang diambil (pada bayi dan anak)
- Tidak ada bukti dasar yang kuat untuk keharusan melakukan tindakan medis

Selain itu, di negara-negara seperti India, Australia, dan beberapa negara lainnya, sudah mengakui keberadaan jenis kelamin ketiga. Australia sudah mengakui adanya jenis kelamin ketiga yang ditandai dengan huruf X pada identitas resmi dan paspor. Wah. Kapan ya Indonesia kayak gini?      

Perbedaan Terminologi  
Perlu diperhatikan ya teman-teman, bahwa terminologi hermaprodit walau pada dasarnya hampir sama dengan intersex, tetap tidak lazim dikenakan pada manusia. Kenapa? Karena terminologi hermaprodit, itu untuk hewan. Sehingga, bila term tersebut diterapkan pada manusia, artinya sama dengan pelecehan.  


Sumber :  http://oii.org.au
http://en.wikipedia.org/wiki/Intersex
Fan Page PLU Satu Hati
http://transhition.blogspot.com/2014/10/intersex-varian-dari-mereka-yang.html?zx=1a95010dc55b3ad8


Oleh: Caesarino Abrisam J

Sunday, January 25, 2015
Tag : ,

Happy Meals McDonald’s: Tidak Happily Ever After?

Ketika saya masih kecil, pasti paling asyik kalau diajak orang tua makan McDonald’s. Apalagi kalau Disney baru saja mengeluarkan film animasinya. McDonald’s biasanya merilis mainan limited edition dari karakter-karakter favorit. Sebagai anak-anak, dan juga banyak orang dewasa yang mengoleksi mainan dan action figures, tentunya melihat tokoh kartun yang ada di dalam layar bioskop jauh dari sentuhan menjadi wujud plastik yang dapat digerakkan adalah sesuatu yang sangat menggairahkan. Ketika mengetik artikel ini pun saya teringat akan kejadian berebut mainan dengan adik perempuan atas siapa yang pantas mendapatkan Mulan atau Li Shang. Kalimat penutup cliché film Disney, happily ever after, seakan berdering kembali dan membuat bulu kuduk merinding ketika melihat mainan tersebut terpajang gagah di atas meja belajar.        



Namun, semakin beranjak tua, saya mulai memperhatikan beberapa koleksi edisi Happy Meals yang lumayan memprihatinkan. Observasi pribadi melihat bahwa beberapa tahun ini Happy Meals menjual dua tipe mainan yang sangat berbeda tetapi pada saat yang bersamaan. Biasanya kedua mainan tersebut berasal dari dua film atau narasi yang berbeda. Tentunya tidak ada yang salah dari variasi tetapi ini menjadi sebuah masalah ketika mainan tersebut terbagi menjadi mainan laki-laki dan perempuan. Bahkan pada bulan Januari 2015 ini, McDonald’s Indonesia sedang merilis sepasang setelan mainan Hot Wheels dan boneka Barbie’s. Bukan hal yang sulit untuk membedakan mana yang ditarget untuk anak-anak laki-laki dan perempuan.      

Perbandingan stereotip ini menurut saya bukanlah sebuah kebiasaan yang sehat untuk ditanamkan ke ideologi anak-anak, yang mungkin bisa dikatakan belum matang untuk berpikir secara independen. Seorang anak laki-laki diharapkan untuk memilih mainan mobil, padahal mungkin secara pribadi, belum tentu dia menyukai hal-hal yang berbau otomobil. Sebaliknya pula dengan anak perempuan, apalagi Barbie memang terkenal sudah memberikan gambaran yang terlalu ideal dan tidak realistis bagi para remaja.  

Pada tahun 2008, seorang perempuan kecil berumur 11 tahun bernama Antonia Ayres-Brown mengajukan keluhan ke Komisi Hak Asasi Manusia dan Oportunitas Connecticut dengan basis bahwa pekerja McDonalds memanggil mainan Happy Meals berdasarkan gender mereka. Pada blog laporan yang Ayres-Brown tuliskan, mainan My Little Pony diklasfikasikan sebagai mainan perempuan dan mainan Skylanders, laki-laki. Perempuan cilik pemberani ini gagal mendapatkan respon yang diinginkan dari pihak legal dan terus mencari data berdasarkan riset dan eksperimen di lokasi. Akhirnya, CEO McDonald’s, Donald Thompson memberikan sebuah aturan baru untuk tidak memberikan gender keatas mainan-mainan Happy Meals.  

Selain observasi visual, saya kurang berpengalaman langsung atas label gender yang diberikan oleh staf McDonald’s di Indonesia. Tetapi hasil pencarian sederhana di Google menuntun saya ke sebuah halaman blog yang mengulas tentang mainan Happy Meals yang terdapat dua varian, Hello Kitty dan Transformers. Sang blogger menyatakan perbedaan fan base kedua mainan (lebih tepatnya Hello Kitty) sebagai “mayoritas cewek atau bahkan yang ngakunya cewek”, walaupun ia menambahkan bahwa para laki-laki pun “ngefans sama kucing (itu)”. Saya tidak dapat menemukan poster dimana kedua mainan tersebut dipromosikan tetapi saya menemukan dua poster lainnya dimana Hello Kitty dijadikan sebagai mainan perempuan. Satu, karakter Sanrio itu dibandingkan dengan mobil-mobilan Voov milik Bandai dan kedua, kereta-keretaan Pla Rail.          


Secara visual, saya merasa sedikit tidak nyaman. Ada sebuah garis yang nampak secara nyata bahwa mereka berbeda dan kedua warna latar belakangpun mendukung kelainan ini. Para mobil tertata mekanis background biru, lengkap dengan petugas mereka serta nomer seri yang berbau teknis. Seakan menentang dan bersesilih, para Hello Kitty terlihat imut gemulai pada latar merah jambu dilengkapi hidangan kecil dan alat masak serta ditemani alat musik. Perbedaan yang sangat kontras dari kedua varian bukanlah memberikan pilihan terhadap anak-anak tetapi memaksa mereka untuk memilih mana yang secara konstruk sosial harus dipilih. Kemajemukan tidak dirayakan tetapi memberikan sekat-sekat perbedaan yang menjeremus ke wilayah seksisme.  

McDonald’s sebagai salah satu fast food kesayangan anak-anak seakan memiliki kewenangan untuk mendikte kategori gender dan menurut saya ini sangat mengkhawatirkan. Mereka berhasil menjual kurang lebih satu milyar Happy Meals per tahunnya di Amerika Serikat dan bayangkan dampak yang mereka berikan kepada anak-anak dan pengertian mereka terhadap gender melalui mainan. Jika mainan menjadi sebuah rasa bangga dan identitas bagi anak-anak, narasi mereka tidak akan berakhir dengan happily ever after. Ini mungkin dapat dilihat dari bagaimana kita sebagai orang yang dulunya juga beranjak dari muda secara umum masih memiliki pandangan yang sempit mengenai gender dan kemajemukan atas cara-cara memerankan gender tersebut. Tidak heran jika kita masih mengharapkan bahwa laki-laki harus menyetirkan pasangan perempuannya atau jarangnya kita melihat laki-laki menggunakan aksesoris Hello Kitty ataupun karakter yang dianggap perempuan.  

Memang terlalu ekstrim dan tidak adil untuk menyalahkan Happy Meals pada situasi ini. Tetapi mungkin McDonald’s dapat melakukan tindakan netralisasi gender pada mainan mereka atau menganjurkan konsumen untuk memilih mainan yang tidak disangka. Disney sudah mulai menggambarkan sisi konstruksi gender yang berbeda pada film-film terakhirnya seperti Frozen dan Maleficient. Mungkin ketika narasi ini disulap menjadi mainan oleh McDonald’s, mereka dapat memperpanjang cerita tersebut sampai happily ever after.    


Sumber:  
Happy Meals Kolektor Indonesia Facebook Page https://www.facebook.com/pages/Happy-Meal-Kolektor-Indonesia/432729326769250
MCDonald's Gave Me The “Girl’s Toy” With My Happy Meal, So I Went To The CEO, Antonia Ayres-Brown, Slate.com
It Might Be The End of Gendered Toys at McDonald’s, And You Have A Teen To Thank For It, Jessica Samakow, The Huffington Post  
McDonald’s Trying To Stop Differentiating Between “Girls” And “Boys” Toys in Happy Meals, Chris Morran, Consumerist.com  
McDonald’s Hello Kitty Happy Meals, Pin
kylici0us, bloglovin.com


Oleh: Kelvin Atmadibrata
Friday, January 23, 2015

Hati-Hati Terjerat UU Anti Pornografi dan UU ITE

Hi teman-teman semuanya! Apa kabar?

Setelah sekian lama non aktif di Bronis, kali ini akhirnya muncul inspirasi saya melihat fenomena UU Anti Pornografi serta adanya UU ITE yang saya tuangkan dalam tulisan saya kali ini.

Tahukah kamu apa itu Pornografi dan Pernoaksi? Pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, patung, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat. Sedangkan Pornoaksi adalah perbuatan mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika di muka umum.  

Banyak sekali kontroversi dan penolakan terhadap adanya UU Pornografi dan UU ITE. Hal ini dinilai karena sangat membatasi kebebasan berekspresi seseorang dan menghilangkan budaya-budaya yang ada di Indonesia, seperti penggunaan kemben, koteka, dan  beberapa tarian  daerah yang menonjolkan tubuh perempuan.

Jika melihat fenomena yang terjadi dalam komunitas waria, saat ini banyak hal yang dianggap melanggar UU Anti Pornografi dan UU ITE. Beberapa individu waria berprofesi sebagai pekerja seks dan memanfaatkan media sosial untuk mencari pelanggan. Mereka juga mengabadikan foto-foto sensual dan foto-foto saat melakukan hubungan seksual di media sosialnya. Beberapa dari pekerja seks waria juga mengupdate status di media sosialnya untuk mengajak pelanggan melakukan hubungan seksual.

Fenomena lain yang terjadi dalam komunitas LGBTI adalah beberapa pasangan LGBTI yang sudah open status mengekspresikan hubungannya dengan bermesraan dan berciuman di tempat–tempat umum. Jika melihat fenomena yang ada, jelas sekali tindakan-tindakan tersebut dapat terjerat melanggar UU Anti pornografi dan UU ITe.  Beberapa dari individu yang melakukan tindakan tersebut karena belum memahami bahwa tindakanya dapat terjerat pelanggaran UU Anti Pornografi dan UU ITE. Namun, beberapa dari individu melakukan tindakan tersebut sebagai bentuk mengekspresikan dirinya. Jika dilihat dari sisi freedom of expression, tindakan tersebut merupakan hak untuk mengekspresikan diri. Namun, perlu diketahui bahwa Hak Asasi Manusia (HAM)  tidak untuk dijadikan alat untuk mengaitkan semua kebebasan atas dasar HAM, Karena walaupun HAM tidak dapat dicabut, namun HAM dapat dibatasi jika melanggar HAM orang lain.

Menjadi pekerja seks memang sudah diakui sebagai pekerjaan oleh ILO. Namun, profesi pekerja seks masih menjadi kontoversi di Indonesia. Teman-teman waria yang berprofesi sebagai pekerja seks mungkin bisa memilah mana media sosial yang dapat digunakan untuk jualan/mencari pelanggan atau lebih berhati-hati dalam mengupdate status dan mengupload foto-foto pribadinya karena dapat menjadi ancaman untuk terjerat UU Anti Pornografi dan UU ITE. Bagi pasangan LGBTI yang sudah open status mungkin dapat memilah tempat untuk mengekpresikan hubunganya, karena dapat menjadi ancaman melanggar ketertiban umum.  

Perlu juga untuk diketahui bahwa selama ini perjuangan kita adalah untuk meminimalisir stigma dan diskriminasi yang dilabelkan pada komunitas LGBTI. Harapannya, teman-teman dapat mendukung dan bekerja sama dalam perjuangan ini. Beberapa tindakan diatas dapat menambah stigma dan diskriminasi lho. Karena kita hidup di Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya masih sangat normatif dan masih mengenelarisir melihat sebuah permasalahan. Contohnya, jika salah satu individu waria dianggap melanggar ketertiban, maka semua waria akan mendapatkan dampak. Karena masyarakat melihat berdasarkan identitas gendernya, bukan individunya.


Sumber: http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&ved=0CCkQFjAB&url=http%3A%2F%2Fwww.bpkp.go.id%2Fuu%2Ffiledownload%2F2%2F33%2F151.bpkp&ei=iLStVKDCOYTkuQSopILYAg&usg=AFQjCNGGNdCAE2chXKMAWIrrt3DOSNGENw


Oleh: Alexa Dominich
Wednesday, January 21, 2015
Tag : ,

New Year, New Hope

Sobat Bronis, kita baru saja memasuki tahun 2015. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tentunya kita juga mengawali tahun ini dengan berbagai harapan. Ya, setiap orang punya harapan dalam hidupnya. Karena harapan adalah bukti bahwa manusia menginginkan segala sesuatu yang lebih baik dalam hidupnya. Harapan juga yang menjadi motivasi bagi kita dalam menghadapi segala tantangan yang ada dalam kehidupan.

Apa harapan sobat Bronis di tahun 2015?

Pastinya kita memiliki sederetan list harapan yang ingin kita capai di tahun yang baru. Harapan yang terdiri dari berbagai dimensi, seperti karir, kesehatan, jodoh, pendidikan, spiritual, hingga pengembangan diri. Semua yang kita harapkan pasti berada satu langkah lebih maju daripada apa yang kita miliki sebelumnya. Setiap individu diciptakan spesial. Maka, ada jutaan harapan yang menghiasi dunia ini.

LGBT pun tidak lepas dari berbagai harapan yang ada dalam hidupnya. Apalagi mereka yang tinggal di negara yang belum mengakui orientasi seksual dan identitas gender sebagai bentuk dari keberagaman. Di satu sisi, keadaan ini menjadi hal yang sulit bagi LGBT. Namun, di sisi lain kita dapat melihat hal ini sebagai sebuah tantangan yang harus dijawab.

Tantangan tersebut adalah bagaimana kita mengajak masyarakat untuk mengetahui keberadaan LGBT. Misalnya, dari kebebasan berekspresi, stigma, konsep identitas, dll. Karena hal-hal tersebut di dunia LGBT sendiri bagaikan pagar makan tanaman. Maksudnya, ketika sebagian teman-teman LGBT sedang berjuang untuk memberikan pemahaman positif pada masyarakat, sebagian lainnya justru menciptakan self-stigma yang berujung pada pandangan negatif terhadap LGBT sendiri.

Sobat Bronis, kita boleh berharap jika suatu saat LGBT akan diakui keberadaannnya di Indonesia. Dari harapan itu, akan muncul langkah-langkah positif yang dapat kita lakukan untuk mewujudkannya. Tidak perlu dari hal yang besar. Bisa kita lakukan dari hal-hal kecil dan sederhana. Misalnya, memberikan pemahaman tentang konsep dasar SOGIE pada orang-orang terdekat kita. Bukan tidak mungkin dari sedikit orang, akan banyak orang yang memahami konsep SOGIE. Bisa saja nanti seluruh Indonesia akan paham SOGIE dan mengakui LGBT sebagai bagian dari masyarakat.

Karena di tahun yang baru, harapan baru selalu muncul untuk mengawali langkah kita. Harapan membutuhkan keberanian untuk mewujudkannya. Maka, jangan takut untuk menuliskan dan mewujudkan mimpi-mimpi baru di tahun 2015!


Oleh: Abhipraya Ardiansyah
Thursday, January 15, 2015

Femininku bukan modal pelecehanmu. Pelecehanmu awal infeksi HIV baruku.




“Tidak ada yang salah dengan seseorang yang mendapatkan kekerasan, pelecehan ataupun bully. Yang salah adalah para pelaku serta sistem yang tidak dapat mencegah kekerasan terjadi. ”



“Jadilah diri sendiri !”, Sebuah kiasan klise yang sering kita dengar atau bahkan anjurkan kepada teman untuk dapat mempercayai diri agar dapat mengembangkan potensi. Namun mudahkah bagi kita untuk bukan hanya berbicara, tetapi juga menerima orang lain apa adanya ?.

Saya adalah seorang anak dari keluarga tradisional Jawa yang dibesarkan dengan prinsip kerukunan dan hormat. Dua buah kaidah masyarakat Jawa untuk dapat menjaga sikap tidak menimbulkan konflik serta membawa diri untuk dapat selalu menghormati orang lain. Sikap nrimo atas apapun yang terjadi sepertinya terinternalisasi cukup kuat sampai dengan usia remaja. Masih terpatri kuat masa-masa yang sangat berat di sekolah menengah atas karena pelecehan serta bully yang didapatkan, mengapa ? karena saya terlalu feminin untuk ukuran seorang anak laki-laki. Teringat hal serupa juga terjadi di bangku SD kelas 3, dimana saya pernah dihadiahkan oleh guru sebuah bando untuk dipakai sepanjang mata pelajaran. Belum menyadari bahwa telah mendapatkan pelecehan, saya hanya ikut-ikutan tertawa, karena teman-teman serta guru pun tertawa. Namun tidak ada yang lucu untuk ditertawakan ketika hal tersebut terjadi di bangku SMA, masa pubertas, masa yang rentan ketika tekanan terjadi. Saya menutup diri,  sampai yang terburuk adalah menstigma serta menyalahkan diri sendiri. Tapi tahukah kamu, bahwa tidak ada yang salah dengan seseorang yang mendapatkan kekerasan, pelecehan ataupun bully. Yang salah adalah para pelaku serta sistem yang tidak dapat mencegah kekerasan terjadi.

Tidak adanya pendidikan di sekolah yang memberikan pemahaman mengenai orientasi seksual serta identitas gender berdampak buruk kepada rasa percaya diri LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender) remaja di Indonesia. Hal ini dinyatakan dalam Laporan Nasional LGBT di Indonesia, sebuah tinjauan dan analisa partisipatif yang dilakukan di tahun 2013. Stigma serta diskriminasi menutup diri remaja LGBT, termasuk remaja LSL (lelaki yang berhubungan seksual dengan lelaki lain) yang merupakan salah satu kelompok kunci dalam strategi penanggulangan HIV di Indonesia. 2.5 % prevalensi HIV pada kelompok LSL ditahun 2009 menaik drastis menjadi 7,4 % di tahun 2013, dengan banyaknya temuan kasus baru pada usia remaja.  Di tahun yang sama, mantan Mentri Kesehatan Ibu Nafsiah Mboi pun pernah menjelaskan bahwa stigma negatif yang melekat pada golongan homoseksual semakin mempesulit pemerintah untuk menjangkau mereka agar bersedia melakukan tes HIV/AIDS. Sangat masuk akal apa yang beliau sampaikan. Bagaimana mungkin program serta intervensi dapat diterima dengan baik pada kelompok yang menutup diri ?.

Mari kita kembali ke sistem. Berapa lamakah kira-kira waktu yang dibutuhkan untuk menciptakan sebuah sistem masyarakat yang bersahabat kepada homoseksual ? 5 tahun ? 15 tahun ?. Saya tidak bisa membayangkan prevalensi HIV yang akan menaik jika kita menunggu selama itu. Disisi lain, apakah kita sudah yakin bahwa LGBT di Indonesia sudah bersahabat dengan dirinya sendiri ?. Sebuah pendekatan sensitif orientasi seksual dan identitas gender diperlukan dalam strategi penanggulangan HIV di Indonesia. Bukan hanya pengetahuan kondom yang kami perlukan untuk bisa memberdayakan diri melakukan perilaku hidup sehat. Kami butuh lebih dari pada itu. Kami butuh mengenal diri kami, identitas kami, menerima diri kami seutuhnya untuk dapat melindungi diri nantinya.


oleh : Setia Perdana
tulisan ini dibuat dalam partisipasi Lomba Blog Ikatan Perempuan Positif Indonesia, IPPI - 2014
Selengkapnya mengenai IPPI silahkan klik logo dibawah ini
http://www.ippi.or.id/

Wednesday, January 7, 2015

Gaul (Bebas) di Kost

Sobat Bronis, sebagai seorang makhluk sosial yang tentunya membutuhkan interaksi dengan orang lain, sudah selayaknya membuat kita bisa membaur dan mencoba mencari lingkungan baru yang berujung pada suatu hubungan. Entah itu sebatas persahabatan atau bahkan lebih. Teman-teman LGBT semua juga pasti saya yakin banyak sekali pengalaman-pengalaman bertemu dan berkenalan dengan teman-teman baru sesama LGBT lainnya. Ya tentunya LGBT juga manusia normal kok! Kita butuh bersosial, benar bukan?  

Nah, yang susah di negara kita adalah penerimaan orang-orang heteroseksual di luar sana yang cenderung negatif pada kita. Itu kadang membuat kita semua ngumpet-ngumpet bila hanya sekedar kopi darat setelah berkenalan lewat sosial media. Untuk beberapa kota besar, mungkin saja banyak sekali tempat-tempat tertentu yang distereotipkan dengan tempat para LGBT bertemu. Bertemu di gaybar, diskotik, pub, klub malam atau apalah nama lainnya. Stigma yang menjurus jika cocok secara visualisasi mau tidak mau adalah "Doing SEX". But, itu mungkin buat para LGBT dengan kantong yang cukup buat pergi kesana atau orang yang memang hobi kesana. Bagi sebagian, kost adalah tempat yang tepat. Tentunya yang dimaksud adalah kost yang sepi. Lho kok bisa yah? Tidak usah heran mengapa setiap kali ajakan bertemu pertama kali justru di kost yang terkadang membuat kita kebablasan dan hilang kendali (tidak usah membayangkan pengalaman pribadi yah).  

Ini yang perlu diwaspadai ya! Setiap orang yang baru kita kenal tidak selalu seperti yang ada dalam pikiran kita. Apalagi berkenalan dan bertemu dikost seperti dua sisi mata koin. Di satu sisi, jika memang orang yang baru kita kenal memang benar-benar baik, kita bakal lebih mudah berkomunikasi karena masing-masing ternyata nyaman dengan situasi tersebut. Namun di sisi lain, jika orang tersebut menganggap pertemuan tersebut sekedar 'fun' yang ujung-ujungnya adalah seks, perlu berhati-hati saja.  

Orang baik tidak selalu bernasib baik. Jika memang suatu saat berkenalan dengan tipe-tipe yang sukanya 'fun', alangkah lebih bijaknya menghindari pertemuan di kost. Memang melakukan atau tidak melakukan seks itu pilihan masing-masing kita. Tapi, kita sendiri tidak tahu siapa kenalan kita itu sebenarnya, bagaimana riwayat kesehatannya, atau apakah dia bukan kriminal. Ada beberapa tips yang tentunya bisa diambil sobat Bronis jika ternyata tidak bisa menghindari pertemuan pertama di kost yang sepi:  

1. Beri tahu teman dekatmu bahwa ada teman kenalan kamu yang mau berkunjung ke kost. Untuk berjaga-jaga saja dari hal-hal buruk.  

2. Lebih baik jika memang tidak menginginkan 'hal itu' terjadi buka saja pintu dan jendela kost lebar-lebar.  

3. Jika memang kamu juga menginginkan hal itu terjadi, safety sex jangan dilupakan. Beri dia pemahaman jika memang dia tidak menginginkan penggunaan kondom. Kita tidak tahu kan posisi kesehatan lawan bicara kita tersebut?  

4. Bagi para bottom,terkadang terjadi korban penolakan oleh top yang tidak mau menggunakan kondom (bareback). Kalau dia sudah begitu, kalian berhak untuk tidak melanjutkan aktivitas yang beri
siko tersebut. Sayangi tubuh kalian. Kalau perlu buat dia ilfil bila dia tidak mau diberi pemahaman. Sebagai contoh, kontak tetangga kost jika ada untuk mengunjungi kalian, sehingga dia dengan sendirinya akan merasa terabaikan. Atau jika sepi, kontak teman dekatmu. Ceritakan yang terjadi dan minta bantuan dia.  

Mungkin itu saran-saran yang bisa diberikan jika kamu dihadapkan pada situasi tersebut. Bersikaplah bijak dalam mengambil suatu keputusan. Apalagi untuk sesuatu yang berisiko merugikan diri sendiri. Tak mau kan menyesali untuk hal-hal yang sangat bodoh?


Oleh: Jude Manzano
Wednesday, December 31, 2014

- Copyright © BrondongManis -