Kondom Untuk Oral

Oral seks atau mengulum penis pasangan kita menjadi salah satu teknik berhubungan seksual yang bisa membawa kepuasan untuk pasangan kita dan diri kita sendiri. Namun, tahukah sobat Bronis bahwa ternyata oral seks bisa menjadi salah satu penyebab timbulnya beberapa infeksi menular seksual (IMS)? Salah satunya seperti kencing nanah bahkan hingga kanker tenggorokan.  
Nah, untuk menghindari penyebaran infeksi menular seksual yang diakibatkan oleh oral seks, kita bisa mencoba tips-tips aman berikut ini:  

1. Menggunakan Kondom
Ini adalah salah satu tips untuk memiliki oral seks yang aman dengan pasangan kita. Pasangan kita dan bahkan diri kita sendiri harus mengenakan kondom untuk mencegah penularan infeksi menular seksual. Jangan berpikir kalau menggunakan kondom hanya untuk melakukan seks anal dan vaginal saja. Memakai kondom saat oral seks tentu bisa menghindari efek buruk dari resiko IMS yang ditularkan melalui oral seks.  

2. Kondom Aroma
Kondom yang memiliki aroma bisa mengubah oral seks menjadi sesuatu hal yang menyenangkan. Pilihlah rasa favorit kita untuk membuat oral seks terasa aman dan menyenangkan, seperti kondom rasa cokelat, mint, strawberry, dan aroma buah-buahan lainnya.  

3. Melakukan Cek IMS
Ajak pasangan kita untuk melakukan tes IMS (Infeksi Menular Seksual) bersama-sama. Tujuannya untuk memastikan bahwa kita dan pasangan terbebas dari IMS. Kalaupun kita atau pasangan terkena IMS dan diobati dengan baik, maka ini menjadi cara aman supaya oral seks tidak membawa dampak kesehatan yang buruk untuk kita dan pasangan.  

Oral seks memang bisa membawa kepuasan tersendiri saat kita melakukan hubungan seksual dengan pasangan lho, Sobat Bronis. Namun, jangan lupa untuk tetap memperhatikan pula kesehatan kita sendiri dan pasangan dengan menggunakan tips-tips di atas ya.


Oleh: Sepi Maulana Ardiansyah
Saturday, April 25, 2015

Jangan Mau Bunuh Diri!!!

Pernahkah sobat Bronis depresi, lalu memposting foto-foto kesedihan seperti gambar tetesaan air mata yang menganak dari bola mata (entah itu foto diambil dari mana)? Ada yang lebih ekstrim lagi terkadang, mengganti gambar profil pada laman Facebook dengan gambar urat nadi teriris pisau dan darah bercucuran di lantai dengan tubuh lunglai tak berdaya. Ya, kesedihan yang menumpuk membuat stress dan depresi. Terlebih masalah yang dihadapi semakin kusut dan merasa tidak ada orang yang bisa mendengarkan atau merasa diri sendiri orang paling tersedih di dunia. Sosial media menjadi alat untuk mengekspresikan atau setidaknya mewakili perasaan yang terjadi sebenarnya dalam diri kita. Nah, yang perlu disikapi adalah postingan-postingan di sosial media yang berdarah-darah terkadang malah semakin membuat depresi, dan membuat gelap mata untuk melakukan percobaan bunuh diri.  

Bunuh diri memang tidak memandang jenis kelamin, umur, orientasi seksual, dan sebagainya. Tak terkecuali dengan LGBT. Di Amerika Serikat sendiri bunuh diri pada kalangan LGBT merupakan penyebab kematian tertinggi di kalangan remaja. Mengerikan bukan? Lalu bagaimana dengan kasus-kasus bunuh diri di kalangan LGBT di Indonesia? Sayangnya, jawabannya adalah tidak ada data pasti, karena Indonesia masih merupakan negara homophobic. T___T    

Mengapa kasus-kasus bunuh diri di kalangan remaja LGBT cukup tinggi? Banyak benang-benang kusut yang perlu ditarik. Terlalu banyak faktor baik internal maupun eksternal. Namun, setidaknya ada satu hal yang perlu digarisbwahi. Sebagian besar motif bunuh diri karena adanya useless factor pada diri sendiri, merasa bahwa dia terpojokkan dengan masalah yang runyam, tidak berguna selayaknya manusia heteroseksual, dan merasa hidupnya hampa. Lagi-lagi stigma homoseksual lah yang secara langsung menjadi alasan kuat mengapa bunuh diri banyak terjadi di kalangan remaja LGBT.  

Pada tahun 2008, sebuah penelitian di AS yang menyatakan bahwa "faktor risiko yang terkait dengan status minoritas seksual, termasuk diskriminasi, ketidakberadaan, dan penolakan oleh anggota keluarga meninggikan kemungkinan risiko untuk menjadi korban, seperti penyalahgunaan zat, hubungan seks dengan banyak pasangan, atau lari dari rumah. Penelitian tersebut menunjukkan korelasi antara tingkat penolakan oleh orang tua remaja LGBT dan masalah kesehatan negatif".  

Tingginya tingkat penolakan keluarga secara signifikan berhubungan dengan hasil kesehatan yang buruk. Berdasarkan perbandingan rasio, kalangan lesbian, gay, dan biseksual dewasa yang melaporkan tingkat penolakan keluarga yang lebih tinggi selama masa remaja berisiko 8,4 kali lebih besar telah melakukan percobaan bunuh diri, 5,9 kali lebih mungkin untuk depresi, 3,4 kali lebih mungkin untuk menggunakan obat-obatan terlarang, dan 3,4 kali lebih mungkin untuk terlibat dalam hubungan seks tanpa pengaman dibandingkan dengan teman sebaya dari keluarga dengan tingkat penolakan keluarga rendah atau tidak ada sama sekali.  

Semoga saja pengaruh stigma yang kuat terhadap LGBT yang ada di masyarakat, khususnya di Indonesia bisa semakin berkurang dengan cara saling meningkatkan toleransi dan saling sadar bahwa stigma-stigma tersebut justru memperburuk keadaan. Keterlibatan lembaga-lembaga seperti crisis center untuk kalangan remaja LGBT sangat dibutuhkan untuk mendukung dan membantu ketersediaan informasi yang dibutuhkan oleh remaja LGBT sekaligus mencegah terjadinya bunuh diri.    Berbahagialah dengan hidup dan berdamailah dengan diri sendiri, lakukan kegiatan positif, apapun orientasi kalian. Jangan posting yang aneh-aneh lagi ya :)    

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Homoseksualitas                
http://www.theorgasm-project.com/2013/09/07/stop-bunuh-diri-mari-hidup-bahagia/


Oleh: Jude Manzano
Thursday, April 23, 2015

HIV dan Aktivitas Sosial

Sobat Bronis, banyaknya informasi yang salah tentang HIV dan AIDS yang sudah bertahan lama di masyarakat mengakibatkan kesalahpahaman banyak orang mengenai pengetahuan penularan virus yang satu ini.  

Tahukah sobat Bronis bahwa HIV hanya bisa menular dari satu orang ke orang lain melalui perantara cairan tubuh? Tetapi, tidak sembarang cairan tubuh loh. Cairan tubuh yang menjadi media hidupnya virus HIV dan berpotensi menularkan HIV adalah darah, cairan sperma atau vagina, dan air susu ibu.  

Di luar ketiga cairan ini HIV tidak berpotensi menularkan kepada orang lain. Itu artinya air mata, keringat, air seni, dan air liur tidak berpotensi menularkan HIV. Untuk lebih jelasnya, virus HIV tidak menginfeksi atau tertular melalui berbagai aktifitas sosial seperti berikut ini:  

1. Bersalaman, berpelukan.

2. Berciuman, kecuali ciuman yang dilakukan secara hard-kiss yang menyebabkan pendarahan pada mulut atau bibir.

3. Batuk, bersin.

4. Memakai peralatan rumah tangga seperti alat makan, telepon, kamar mandi, WC, kamar tidur, dll.

5. Virus HIV tidak menyebar melalui gigitan nyamuk atau gigitan serangga lainnya. Bahkan bila virus HIV masuk ke dalam tubuh nyamuk atau serangga yang menggigit atau mengisap darah, virus tersebut tidak dapat hidup didalam tubuh serangga. Karena serangga tidak dapat terinfeksi HIV dan serangga tidak dapat menularkannya ke tubuh manusia yang digigitnya.

6. Bekerja, bersekolah, berkendaraan bersama.

7. Memakai fasilitas umum misalnya kolam renang, WC umum, sauna, dll.

8. HIV tidak dapat menular melalui udara, virus ini juga cepat mati jika berada di luar tubuh.  

Setelah Sobat Bronis tahu bahwa aktivitas sosial tidak mampu menularkan HIV, apakah sobat akan tetap menjauhi orang yang hidup dengan HIV? Think again! 


Oleh: Sepi Maulana Ardiansyah

Tuesday, April 21, 2015

Book Review: Keep Calm And Be Fabulous

Cinta itu universal. Dia bisa jatuh pada siapa saja, untuk siapa saja. Karena cintalah dunia menjadi penuh warna. Warna yang menggambarkan pahit manis kehidupan. Inilah yang dikemas oleh Hendri Yulius dan 5 penulis lainnya dalam buku berjudul “Keep Calm And Be Fabulous”. Buku yang terdiri dari 6 cerita ini menguak kisah-kisah tentang hal yang sederhana, yaitu cinta, dalam tema LGBTIQ (Love, Gifted, Bravery, Trust, Imagination, Quest).

Setiap kisah memiliki ciri khasnya masing-masing. Gaya bahasa pop literature dalam buku ini membuatnya mudah dipahami. Setting-nya menggambarkan kondisi kehidupan masyarakat ibukota masa kini. Namun, ciri khas dari setiap penulisnya muncul dari alur cerita pada masing-masing kisah tersebut. Hebatnya, seluruh kisah yang ada di buku ini membuat kita semakin penasaran untuk membaca sampai ke ending-nya.

Kondisi sosial tentang kehidupan LGBTIQ di Indonesia tergambar dengan baik dalam buku ini. Dimana LGBTIQ masih harus mendobrak heteronormativitas yang berakar dalam masyarakat. Di dalamya ada unsur penerimaan diri, keberanian, kebijaksanaan, kepercayaan, pencarian jatidiri, dan cinta. Karena hidup adalah pilihan. Buku ini menggambarkan bahwa menjadi LGBTIQ bukanlah pilihan. Yang menjadi pilihan adalah tentang mengikuti kata hati atau tidak.

Pada cerita H2H (Heart to Heart), Hendri dan Kindy Marina menceritakan tentang seorang perempuan yang jatuh cinta pada sahabatnya yang seorang gay. Cerita ini dikemas dalam bentuk e-mail antara kedua tokoh. Hal yang berbeda muncul pada cerita Ezra, Dalam Fragmen. Caca Kartiwa menggambarkan pergolakan batin yang ada dalam diri Ezra, tentang cintanya kepada Arya dan segala pertetangan yang muncul karenanya. Dalam kisah Labirin, El Ayn Morve menceritakan tentang keberanian Hanny untuk mengikuti kata hatinya dengan memilih dosen pembimbing cantik yang dicintainya. Amahl S. Azwar menggambarkan kisah pencarian cinta seorang gay escort ibukota dalam Husbro. Ular Tangga dari Bintang Pradipta menceritakan tentang bagaimana pedihnya kehilangan seseorang yang kita cintai, seseorang yang mengisi hari-hari kita. Buku ini ditutup dengan kisah Boy Meets Girl, Boy Meets Boy, Girl Meets Girl, and... U Meets I oleh Hendri dan Kindy. Kisah ini menceritakan tentang penerimaan seseorang akan identitas gendernya yang dikemas dalam percakapan sebuah aplikasi chat.

Buku ini mengemas tentang cinta yang sederhana dan apa adanya. Walau harus didera berbagai rintangan. Dalam buku ini, tersirat pesan bahwa cinta mengandung kebijaksanaan. Buku ini layak menjadi koleksi bagi sobat Bronis yang  merayakan keberagaman cinta.


Oleh: Abhipraya Ardiansyah
Thursday, April 16, 2015

More Passive Anal Sex for Men!

Davey Wavey, selebriti Youtube terkenal baru-baru ini mengunggah sebuah video yang bercerita tentang laki-laki straight, atau heteroseksual (yang menyatakan bahwa mereka tertarik secara seksual hanya pada wanita) yang mencoba anal seks untuk pertama kalinya. Video komikal yang terlihat lucu ini mungkin tidak sepenuhnya untuk diserap secara serius, tetapi ini menjadi sebuah pertanyaan di benak saya. Anal seks itu monopoli lelaki gay atau tidak sih?  

… is about pleasure and not sexual orientation”  

Definisi anal seks adalah aksi seksual yang melibatkan penetrasi pada anus. Penetrasi dapat dilakukan tidak hanya dengan penis atau bagian tubuh lainnya seperti jari tangan tetapi juga dengan alat seksual seperti dildo, aneros, ataupun pemijat anal. Penerima (receptor) dan pemberi (penetrator) anal seks tidak dapat dikategorikan oleh gender yang berarti, laki-laki dan perempuan dapat berperan sebagai keduanya. Namun, sangat disayangkan bahwa konstruksi sosial pada saat ini masih mengasumsi bahwa sang penetrator hanyalah laki-laki dan penerima tidak lebih dari wanita heteroseksual atau pria homoseksual.    

Anal seks terbukti dari segi biologis (yang juga dibantu dengan relaksasi psikologis) dapat memberikan kenikmatan seksual.

Renato Barucco menulis pada artikel pendeknya di Huffington Post bahwa anal dan rectum memiliki banyak pembuluh darah yang jika tergesek akibat penetrasi dapat menimbulkan kenikmatan. Selebihnya, prostat pada laki-laki dan juga klitoris pada wanita juga dalam distimulasikan melalui bagian rektum yang pada akhirnya dapat memberikan orgasme. Jadi, tentunya masuk akal jika penerima anal seks tidak sekedar harus wanita atau lelaki homoseksual saja.

“Pada akhirnya, pembuluh darah tidak memiliki identitas gender ataupun orientasi seksual.” tambah Barucco.    

E.J Dickson menyadari bahwa kepopuleran anal seks di kalangan non-homoseksual memang meningkat. Bintang porno Asa Akira menulis di akun Twitternya bawah ‘ass is the new pussy’ dan menurut Dickson, di abad ke 21 ini dimana kalangan muda sangat dipengaruhi oleh media sosial (secara positif), persentase keterlibatan anal seks di kalangan heteroseksual meningkat sebanyak 20% dari dua dekade terakhir. Data ini Dickson ambil dari Jurnal Pengobatan Seksual yang dirilis pada tahun 2010. Jadi, jika kita memakai kaca mata kutu buku sains, secara ilmiah terbukti bahwa anal seks bukanlah milik eksklusif kelompok seksual tertentu.    

Namun, mudah pula kita amati reaksi maskulinitas pada konsep anal seks ini. Sophia Gubb, seorang transgender wanita yang tidak menjalani operasi organ seksual berpendapat bahwa menjadi si penerima ketika melakukan seks pada dasarnya adalah memalukan, atau ‘humiliating’, Dari segi bahasa dan etimologi populer, terbukti juga ketika kita ingin memaki orang lain, seperti “Go fuck yourselves” atau “Fuck off". Kata ‘fuck’ yang digunakan mengusulkan penghinaan bahwa yang kita maki adalah lebih rendah derajatnya. Begitupula halnya terjadi di kalangan homoseksual. Berapa kali kita bersalah ketika menghakimi laki-laki feminin sebagai ‘bottom’. Dari segi gender yang lebih luas pun persepsi ini sangat diskriminatif dan bermasalah karena secara tidak sadar, kita sudah menempatkan wanita (sebagai si penerima dalam kegiatan seks; anal maupun vaginal) di posisi yang lebih rendah daripada pria.    

Selain pola pikir “Ih, poop kan keluar dari sana” yang bisa dibantah dengan rektum itu sama bersihnya dengan bagian tubuh lainnya, normal sosial, harga diri, nilai moral dan keterbatsan dalam konsep maskulinitaslah yang menimbulkan rasa jijik atas anal seks. Padahal Gubb membantah bahwa keterbukaan para lelaki untuk menjadi reseptor anal seks justru tidak membuat mereka kurang heteroseksual tetapi tidak heteronormatif. Sebagai sebuah sifat positif, ketidak-heteronormatif-an membuat lelaki dapat lebih menghargai wanita, keberagaman seksualitas dan juga keterbukaan pada konsep ‘power’. Fleksibilitas dalam berpikir ini dapat membuat toleransi terhadap satu sama lain berkembang dan tentunya dapat memecahkan masalah yang diakari oleh konteks maskulinitas itu sendiri.  

More passive anal sex for hetero men!” teriak sebuah papan yang Gubb papasi di sebuah parade Pride. Walaupun memang terdengar lucu, namun saya setuju dengan apa yang diajukan. Laki-laki dianjurkan untuk mencoba anal seks. Tidak hanya untuk kenikmatan tetapi juga secara perlahan merubah pola pikir maskulinitas kita. Namun, ada yang ingin saya tambahkan bahwa pernyataan diatas tidak hanya terbatas oleh “hetero men”, tetapi semua lelaki pada dasarnya. Sudah saatnya kita menantang persepsi kita seks terutama pemisahan peran reseptor dan penetrator. Sebagai manusia memang kita memiliki preferensi terhadap berbagai macam hal, tetapi dasar pilihan tersebut janganlah karena konsep gender yang korup dan diskriminatif. Penolakan atas anal seks karena ‘gay’, atau ‘saya kan straight’ dan alasan mirip lainnya adalah diskriminatif. Ingat, anal seks bukanlah monopoli minoritas seksual saja, tetapi sebuah permainan menarik milik kita semua.      


Sumber:    
EJ Dickson, What Straight Guys Really Think About Anal Sex, 2014, DailyDot  http://www.dailydot.com/opinion/butt-sex-porn-society/  

Sophia Gubb, Why Trying Receptive Anal Sex Can Make Straight Men Less Sexist, 2014, Sophia Gubb  http://www.sophiagubb.com/why-trying-receptive-anal-sex-can-make-straight-men-less-sexist/  

Renato Barucco, He Is a Straight Man… and He Is a Bottom, 2013, Huffington Post  http://www.huffingtonpost.com/renato-barucco/straight-man-a-bottom_b_2753845.html  

McKinley Health Center, Anal Sex: Qestions and Answers, 2008, University of Illinois  http://www.mckinley.illinois.edu/handouts/anal_sex.html  

Davey Wavey, Straight Guy Bottoms For First Tim, 2015, Youtube  https://www.youtube.com/watch?v=yf8_pyKz1iY


Oleh: Kelvin Atmadibrata
Monday, April 6, 2015

Nyok, kita basmi 5 mitos HIV berikut ! #GueBerani



Dengan masih rendahnya pemahaman masyarakat diluar sana terkait epidemi HIV, maka tidaklah mengejutkan jika kita masih banyak menemukan mitos-mitos yang masih beredar luas dari 30 tahun lalu sampai dengan saat ini. Coba yuk kita pahami dan bongkar beberapa mitos berikut! Lebih paham, lebih kenal, lebih saling menghargai.


MITOS 1. Vonis HIV = Vonis Mati
Ini adalah salah satu mitos yang paling populer, bahwa kemungkinan hidup seorang ODHA sangat pendek. Mitos ini berkembang dari tahun 1980-1990an dimana memang belum tersedia pengobatan yang efektif bagi ODHA. Namun pada masa kini, kita sangat beruntung karena telah ada Highly Active Antiretroviral Therapy yang dapat memberikan peningkatan kualitas kesehatan hidup ODHA. Jika kamu berkomitmen untuk terus melakukan terapi ARV dan menjalani gaya hidup sehat, maka tidak ada alasan kita tidak bisa hidup sehat dengan HIV.


MITOS 2. ARV jauh lebih berbahaya ketimbang bermanfaat
Betul, bahwa setiap obat pasti memiliki efek samping. Namun, pengobatan adalah sebuah penyelamat hidup. Pada masa kini, terapi ARV dapat mengurangi angka kematian karena AIDS hampir 80% di seluruh dunia. Lalu, tahukan kamu bahwa terapi ARV disediakan di Indonesia dengan gratis melalui program pemerintah? Hebat! Bayangkan saja jika kamu harus merogoh jutaan rupian setiap bulannya untuk terapi ARV. Namun tidak di Indonesia :)



MITOS 3. Cowok & Cewek hetero tidak rentan HIV
HIV bukanlah virus kelompok homoseksual. Laki-laki bisa menginfeksi perempuan dan juga sebaliknya. Faktanya bahwa kebanyakan kasus HIV yang ada terjadi pada pasangan heteroseksual. Risiko itu bukan mengenai siapa kamu, tetapi apa yang kamu lakukan. Melakukan seks berisiko memberikan kamu kerentanan akan tertular HIV.





MITOS 4. Kalau kamu sudah punya pasangan atau sudah menikah, kamu gak akan kena HIV.
Seseorang bisa hidup dengan HIV bertahun-tahun tanpa menunjukan gejala apapun. Mengetahui status HIV kamu dan pasangan kamu ketika kalian akan saling berkomitmen dapat membuka wacana bagaimana kalian harus menyesuaikan relasi kalian.  Banyak sekali kasus HIV yang terjadi pada ibu rumah tangga yang bersikap setia dengan suami. Apakah kita masih berpikir bahwa kita tidak berisiko sama sekali? Bersikap setia dan tetap menggunakan kondom adalah langkah preventif yang harus kamu lakukan.


MITOS 5. HIV bisa ditularkan melalui air mata, keringat, gigitan nyamuk, kolam renang dan kontak sosial lainnya.
Berciuman, berpelukan, berjabat tangan, melalui toilet, dan berbagi peralatan makan sering kali dikaitkan dengan resiko penularan HIV. Namun, pada kenyataannya semua hal tersebut adalah salah. Virus HIV hanya dapat ditularkan melalui beberapa cairan tubuh yang tinggi konsentrasi virusnya, seperti darah, air mani, cairan vagina, dan air susu. Kontak sosial seperti yang disebutkan diatas tidak benar dapat menularkan HIV. Berpelukan dengan orang yang hidup dengan HIV justru dapat memberikan dukungan dan menunjukan rasa cinta kita kepada mereka.




oleh : Setia Perdana
@SetiaPerdanaaaa
@GayAndGoodID
https://www.facebook.com/GayAndGoodIndonesia

Sunday, April 5, 2015

Berhenti untuk menjadi sempurna hanya untuk Cinta

Jika kamu ingin menguruskan badan sebelum kamu mencari Cinta, maka kamu tidak akan pernah menemukan Cinta.

Jika kamu ingin menggapai perut six packs yang sempurna sebelum kamu mencari Cinta, maka kamu tidak akan pernah menemukan Cinta.

Jika kamu ingin menjadi sempurna, maka kamu tidak akan pernah menemukan Cinta.

Gue pernah berpikir bahwa gue akan berhasil untuk menemukan Cinta setelah semua elemen lain dalam hidup telah tercapai, seperti penampilan yang OK, pekerjaan yang mapan, kehidupan sosial yang ideal, dan hal-hal lainnya. Namun, kenyataannya adalah hidup seseorang tidak akan pernah begitu sempurna. Begitupun hidup gue, begitupun mungkin beberapa dari kalian.

Stop untuk berusaha menjadi sempurna hanya agar kamu bisa dicintai oleh seseorang. Begitu melelahkan mengejar kesempurnaan, bukan? Karena sejatinya tidak ada sebuah tujuan akhir yang betul-betul bisa terukur. Tujuan akhir selalulah bergerak. Lalu, bagaimana kita tahu bahwa itu adalah kesempurnaan? Mengejar kesempurnaan tidak akan menghasilkan kebahagiaan. Tetapi, ketidakpuasan dengan apa yang kami miliki saat ini. Well, paling tidak itu yang pernah gue rasakan.

Berbicara tentang Cinta, Banyak mungkin dari kita yang ingin mendapatkan pasangan yang sempurna. Personally, gue nggak bisa jalan dengan seseorang yang selalu menginginkan gue untuk menjadi sempurna. I want to be with someone who loves my imperfections.  I want a man who will love me even when I’ve put on weight, when I haven’t gone to gym for three months, when I’m sick and when I’m feeling ugly.The right person will love me for who I am always not who I am sometimes.

Ketidaksempurnaanlah yang membuat sebuah keindahan bukan? Hanya dengan belajar untuk menghargai semua hal yang membuat kamu seperti saat ini, akan membawa kamu untuk betul-betul siap di-Cintai dan Men-Cintai. Meskipun pada akhirnya ini bukan mengenai mempersiapkan diri kamu untuk di-Cintai seseorang, namun belajar untuk mencintai dirimu sendiri.



oleh : Setia Perdana
@SetiaPerdanaaaa
@GayAndGoodID
https://www.facebook.com/GayAndGoodIndonesia

Saturday, April 4, 2015

- Copyright © BrondongManis -