Transgender and Body Standard

Sobat Bronis sudah tahu tentang debut Caitlyn Jenner? Caitlyn, yang selama ini dikenal dengan nama Bruce Jenner, memulai debutnya sebagai traswoman public figure dengan tampil sebagai cover pada majalah Vanity Fair. Majalah itupun secara khusus membahas tentang kehidupan Caitlyn, terutama pada masa-masa sulit sebelum mampu “tampil” menjadi dirinya sendiri.

Tidak hanya Caitlyn Jenner, nitizen juga diguncang oleh Aydian Dowling. Aydian mulai menarik perhatian publik setelah tampil dalam FTM Magazine dengan mereka ulang foto telanjang Adam Levine. Aydian pun semakin terkenal karena menjadi transman pertama yang masuk sebagai finalis cover majalah Men’s Health.

Ya, setiap orang memang ingin mengekspresikan dirinya. Apalagi seorang transgender yang melakukan banyak hal untuk tampil sesuai dengan identitas gendernya. Berbagai usaha dilakukan untuk menjadi cantik dan tampan. Karena bagi seorang trans*, ekspresi gender sangat berpengaruh pada kondisi kejiwaan mereka.

Tapi, sadarkah sobat Bronis kalau body standard seperti itu juga ada dampaknya?

Kita hidup dalam konstruksi biner yang di dalamnya terdapat kutub maskulin dan feminin. Konstruksi yang sudah mengakar ini seolah-olah berkata, “laki-laki haruslah bertubuh kekar” atau “perempuan yang cantik adalah yang bertubuh langsing dan sintal”, dsb. Konstruksi yang mempengaruhi konsep ketubuhan ini menjadi nilai-nilai yang kemudian dianut oleh masyarakat, termasuk trans*people.

Konstruksi biner ini pula yang menjadi akar diskriminasi pada transgender. Seorang transgender adalah orang yang tampil berbeda dengan apa yang “diberikan”. Misalnya, seorang transgender perempuan yang masih dianggap “bukan perempuan sepenuhnya”. Pelabelan inilah yang secara tidak sadar menjadi bentuk kekerasan verbal pada yang bersangkutan. Berbagai tekanan inilah yang membuat transgender berusaha keras agar bisa “lolos” dari standard yang berada dalam konstruksi masyarakat.

Hal ini tentu saja mempengaruhi kondisi psikis transgender. Demi memenuhi “standard” sebagai laki-laki (bagi transman) dan perempuan (bagi transwoman), banyak proses penyesuaian tubuh yang dilakukan oleh transgender. Memang, kita memiliki prosedur medis yang jelas untuk penegasan kelamin. Proses ini membutuhkan berbagai tahap dan waktu yang tidak sedikit. Belum lagi akses informasi dan layanan penegasan kelamin di Indonesia masih terbatas dan belum bisa dijangkau oleh setiap kalangan.

Apa yang terjadi?
Banyak transgender yang melakukan penegasan kelamin dengan jalur ilegal. Misalnya, injeksi silikon yang dilakukan transgender perempuan tanpa pengawasan medis. Atau injeksi hormon testosteron bagi transgender laki-laki dengan dosis sembarangan. Dari prosedur yang tidak aman inilah banyak terjadi komplikasi pada tubuh seorang transgender. Telah banyak transgender yang meninggal dunia karena komplikasi penggunaan hormon atau silikon yang tidak aman.

Menjadi diri sendiri memang penting, tetapi kita jangan mengabaikan keselamatan tubuh kita sendiri. Jika penegasan kelamin merupakan salah satu cara transgender untuk mencintai tubuhnya, maka lakukan prosedur dengan risiko minimal pada tubuh. Bagaimana kita bisa menunjukkan jatidiri kita kalau tubuh kita sendiri tidak sehat? Love yourself more! 


Oleh: Abhipraya Ardiansyah
Saturday, August 22, 2015

Coming Out di Usia Remaja

Hi sobat Bronis yang kece parah! :D

Ada yang sudah coming out seperti aku? Emangnya coming out itu apa?

Seperti yang pernah dituliskan oleh writer Bronis yang lain tentang apa itu coming out, menurut buku Talking About Homosexuality, coming out didefinisikan sebagai cara untuk mengidentifikasikan diri sebagai seorang lesbian atau gay dan membuka diri pada orang lain.

Coming out adalah kebutuhan dan pengalaman yang biasanya bersifat positif  sebagai orang muda yang tumbuh sebagai gay atau lesbian. Coming out dapat terjadi di usia remaja awal ataupun pertengahan. Pada periode ini coming out berhubungan dengan kebingungan mencari identitas diri yang dapat berpengaruh pada hubungan sosialnya dengan orang lain.

Lalu, sudah siap coming out di usia remaja? Upppsss jangan salah ambil jalan loh guys!

Coming out itu bukan hanya sekedar kita berani untuk menunjukan siapa kita dan apa orientasi seksual maupun identitas gender kita yang sesungguhnya ke orang sekitar. Setelah proses coming out, banyak hal yang akan terjadi pada diri kita karna impact dari eksternal, seperti orang tua, lingkungan pendidikan, lingkungan pekerjaan dan masyarakat.

Untuk melakukan coming out di usia remaja, kita membutuhkan proses yang tidak mudah loh guys.. Hal yang harus di pikirkan adalah, apakah kita siap mempertanggung jawabkan keputusan kita ketika orang tua kita memberikan respon yang tidak baik dari hasil keputusan kita ?

Saran aku ya guys... Semua hal membutuhkan proses, apapun itu termasuk coming out. Banyak hal yang akan terjadi dengan kita, baik hal baik maupun hal buruk. Coming out dirasa sangat dibutuhkan bagi teman-teman yang merasa dirinya tertekan atau seperti berbohong dengan dirinya sendiri. Ketika harus menjadi pribadi berbeda ketika berhadapan dengan orang tua atau lingkungan sekitar. Apalagi di usia remaja, kita masih membutuhkan peran orang tua (contohnya: finansial), bagaimana jika kita harus putus sekolah hanya karna kita 'mendadak' coming out tanpa mengetahui risiko apa yang akan kita ambil dan membuat orang tua kita tidk bisa menerimanya? Apa yang akan terjadi? Kekerasan, di usir dari rumah, kecaman orang sekitar, dan semua itu akan menggangu psikis kita, apalagi bagi kita yang masih di usia remaja kan guys..

Mau coming out ataupun tidak, semua kembali ke hak teman-teman pribadi ya.. Yang terpenting adalah teman-teman tetap bahagia, bertanggung jawab, dan bisa menjadi diri sendiri :)


Oleh: Fyan Abdullah

Merdeka Untuk Semua!

Teman-teman dari Sanggar SWARA di kegiatan Jalan Sehat warga
Photo by: Arus Pelangi 
Merdeka!! Merdeka!! Merdeka!!

Sobat Bronis, kita baru saja memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. 70 tahun sudah kita merdeka. Kalau dibandingkan dengan umur manusia sih, negara kita udah memasuki umur lansia. Banyak dinamika yang terjadi dalam kehidupan bangsa Indonesia. Ya! Negara kita adalah negara yang kaya akan keberagaman. Baik suku, agama, budaya, dll. Kita juga tahu bahwa ada bentuk keberagaman lain di tengah-tengah masyarakat, yaitu keberagaman gender dan seksualitas.

Hari Kemerdekaan merupakan moment untuk merayakan segala bentuk keberagaman yang ada pada bangsa Indonesia. Tahun ini, beberapa komunitas LGBT di beberapa daerah pun turut meramaikan perayaan Hari Kemerdekaan.

Di Jakarta, kawan-kawan waria dari Sanggar SWARA dan Arus Pelangi turut  berpartisipasi pada kegiatan Jalan Sehat RW 03 Cipinang Besar Utara. Di Bekasi, teman-teman dari Sahabat Muda Bekasi juga ambil bagian dalam kompetisi futsal bersama warga. Kawan-kawan waria dan transmen di Sleman, Yogyakarta, turut merayakan Hari Kemerdekaan dengan mengikuti Upacara Bendera dan lomba-lomba di Kesusteran.



Tidak hanya di Jawa, Cangkang Queer Medan pun ikut berpartisipasi dalam acara perayaan Kemerdekaan bersama Aliansi Sumut Bersatu. Kawan-kawan waria di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, juga ikut meramaikan kegiatan Gerak Jalan.


Sobat Bronis, Hari Kemerdekaan membuktikan bahwa LGBT juga merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Mereka membaur dalam masyarakat dengan menjunjung adab yang dimiliki masing-masing daerahnya. Karena kemerdekaan adalah milik semua orang, tidak hanya golongan mayoritas. Walaupun masih menjadi kelompok minoritas, LGBT jugalah warga Indonesia yang mencintai bangsa dan negaranya. Lantas, masih pantaskan LGBT menerima perlakuan diskriminatif?

Bangsa ini membutuhkan perubahan! Semoga perlibatan kecil kawan-kawan LGBT dalam Hari Kemerdekaan membuka mata bangsa kita, bahwa sesungguhnya LGBT juga saudara mereka.

Salam Keberagaman!
Tuesday, August 18, 2015

On Saat Bangun Tidur?

Sobat Bronis sering kaget karena saat bangun tidur dedeknya ikutan bangun? Tak perlu gusar bila sering ereksi di pagi hari. Kondisi yang disebut dengan nocturnal penile tumescence (NPT) ini normal dialami pria sehat. Tanpa disadari, sejak bayi atau masih dalam kandungan saja NPT telah terjadi. NPT terjadi secara spontan saat pria tidur atau bangun tidur. Bisa terjadi sebanyak 3 sampai 4 kali saat mereka tidur. Sehingga tak jarang saat terbangun penis dalam keadaan seperti kayu yang sangat keras, yang dapat membuat celana seperti tenda perkemahan.  

Dikutip dari situs Health Me Up pada Kamis (11/6/2015), NPT terjadi saat seorang pria memasuki fase tidur REM atau rapid eye movement. Sebab, tingkat norepinefrin menurun dan segala tindakan yang dilakukan hormon testosteron tak lagi terhambat. Namun, NPT atau ereksi di pagi hari juga dapat terjadi karena kandung kemih yang penuh, yang membuat pria harus langsung ke kamar mandi untuk buang air kecil agar ereksinya hilang.  

Dalam sebuah kesempatan, Spesialis Andrologi dan Seksologi dari RS Siloam, dr. Heru H. Oentoeng, M. Repro, Sp. And, FIAS, FECSM, menjelaskan bahwa ereksi terjadi akibat mimpi atau gesekan penis dengan bantal. Dia mengatakan, tak perlu takut bila ereksi sering terjadi di pagi hari. Justru yang harus ditakuti bila ini tak terjadi. Bisa jadi ada pengaruh hormonal yang berkaitan dengan disfungsi ereksi.  

"Kalau pagi hari hari ereksi menurun, coba evaluasi hormonalnya bagaimana. Sebab salah satu penyebab gangguan ereksi adalah gangguan hormonal," kata dia.  

Jadi sekarang sobat Bronis tau 'kan kenapa dedeknya sering ikut bangun saat kita bangun tidur?

Sumber: Liputan6.com


Oleh: Albertus Agung Sugianto
Saturday, July 11, 2015

Keep Calm and Claim The Space

Minggu ini publik baru saja “digoyang” oleh salah satu tayangan di stasiun TV nasional. Sebuah tayangan menyajikan debat dengan tema pernikahan sejenis dengan narasumber dari beberapa praktisi dan aktivis LGBTI. Ya! Media televisi pun turut ambil bagian dalam menanggapi isu yang sedang hangat ini. Sebelumnya, sebuah stasiun televisi lokal telah menayangkan acara serupa. Lalu, apakah live dialog tersebut berdampak bagi masyarakat dan komunitas LGBTI?

Tayangan yang baru saja ditayangkan minggu ini menampilkan narasumber-narasumber yang memegang peran penting dalam bidangnya. Temanya tetap mengusung pernikahan sejenis untuk dua jenis tayangan di stasiun televisi yang berbeda. Dari kubu pro, narasumber yang mewakili adalah Dede Oetomo (Gaya Nusantara),Yuli Rustinawati (Arus Pelangi), dan Budi Wahyuni (Komnas Perempuan). Sedangkan dari kubu kontra menghadirkan beberapa tokoh agama baik Islam (MUI) maupun Kristen, Komisi VIII DPR, dan Sosiolog. Lantas, pelajaran apa yang dapat kita ambil dari tayangan-tayangan debat tersebut?

Kondisi kontroversi pernikahan sejenis ini menciptakan ruang dialog bagi komunitas LGBTI dan masyarakat. Sobat Bronis pasti tidak asing lagi dengan para bigot yang senang mencaci maki keberadaan LGBTI dengan dasar agama tertentu. Walau sudah berkali-kali diberitahukan bahwa homoseksual sudah dikeluarkan dari penggolongan gangguan kejiwaan. Atau fakta bahwa LGBTI juga merupakan bagian dari warga negara Indonesia yang patut dilindungi hak-haknya. Ya! Segala macam debat kusir dengan berbagai kajian terjadi, hingga debat tentang penafsiran ayat-ayat kitab suci. Walaupun dirasa melelahkan, tapi dari ruang-ruang dialog seperti inilah isu LGBTI muncul ke permukaan.

Perlu disadari, bahwa pro dan kontra ini membuktikan bahwa masyarakat sudah sadar akan eksistensi LGBTI di Indonesia. Tidak lagi menjadi hal yang tabu dalam membicarakan LGBTI. Statement dukungan sudah datang dari Komnas HAM dan Komnas Perempuan. Meskipun dalam ruang-ruang dialog tersebut LGBTI masih mendapatkan porsi yang tidak berimbang. Di sisi lain, dialog tersebut juga menimbulkan keingintahuan dari sebagian orang tentang isu LGBTI. Tidak hanya hujatan dari para bigot. Teman-teman yang ingin tahu inilah yang potensial untuk diberikan pemahaman tentang SOGIE. Apapun sikap yang mereka ambil pada akhirnya, apakah itu pro atau kontra, yang penting mereka sudah memahami keberagaman berbasis SOGIE.

Sobat Bronis, dari kondisi ini kita belajar bahwa masyarakat telah mengalami perubahan. Dari tidak tahu tentang LGBTI menjadi tahu. Bukan tidak mungkin suatu hari nanti akan lebih banyak muncul sahabat-sahabat yang suportif terhadap LGBTI. Tidak perlu ngotot seperti para bigot dalam berargumen. Karena tanpa kita sadari, kita sudah memiliki ruang di masyarakat untuk membicarakan SOGIE. Perubahan itu mungkin, karena kehidupan sosial selalu bergerak dinamis.


Oleh: Abhipraya Ardiansyah
Thursday, July 9, 2015

ARV di Bulan Ramadhan

Setiap bulan Ramadhan, seluruh umat Islam diwajibkan menjalankan puasa mulai dari sebelum fajar sampai matahari terbenam. Termasuk kalian juga kan sobat Bronis :)

Rentang waktunya rata-rata mencapai 13-14 jam. Bagi sobat Bronis yang tidak memiliki masalah kesehatan, mungkin hal tersebut tidak terlalu berpengaruh yaaa.. Tapi gimana dong dengan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang setiap 12 jam harus meminum obat antiretroviral (ARV)?

Nah untuk yang belum tahu apa itu ARV, penulis jelasin sedikit yaa.. ARV atau antiretroviral adalah obat untuk menahan laju perkembangan HIV (virus penyebab AIDS). Aturan minum obat ARV sangat ketat loh guys, karena terkait langsung dengan tingkat perkembangan HIV di dalam darah. ODHA boleh saja berpuasa, namun dengan catatan harus terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter. Kondisi tubuh adalah faktor penentu apakah seseorang ODHA mampu berpuasa atau tidak lho sobat Bronis. Selain itu, kewajiban meminum ARV juga menjadi pertimbangan utama. Jika kondisi sudah sangat rentan dan tidak memungkinkan, aturan dan syarat puasa dapat dilakukan dengan membayar fidyah atau memberi makan bagi fakir miskin.

Keputusan untuk berpuasa atau tidak, memang ditangan kita yang ODHA. Namun, kita tetap harus mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan selama berpuasa. Karena kurangnya pasokan obat ARV di dalam darah akan memberi peluang besar bagi virus HIV untuk berkembang biak. Yang benar-benar perlu diperhatikan adalah kesanggupan tubuh kita untuk menjalankan puasa tersebut. Jangan memaksakan diri. Namun, dengan berpuasa ODHA dilatih untuk disiplin dan membantu ODHA patuh minum ARV.

Bagi kita yang ODHA dianjurkan untuk mengonsumsi ARV jika CD4-nya di bawah 350. Ada yang tau apa itu CD4? CD4 adalah jenis sel darah putih atau limfosit. Sel tersebut adalah bagian yang penting dari sistem kekebalan tubuh kita guys. Dari aspek medis, tidak ada batasan CD4 yang bisa dijadikan patokan apakah seorang boleh berpuasa atau tidak. Ada beberapa persepsi tentang bagaimana waktu minum obat ODHA saat berpuasa, khususnya ARV.

Cara paling tepat mengonsumsi obat bagi ODHA adalah dengan mengubah waktu minum ARV disesuaikan dengan waktu makan bulan Ramadhan, yaitu mulai dari waktu berbuka hingga makan sahur dan sebelum imsak. Namun, perlu adaptasi kira-kira satu hingga dua minggu untuk minum obat dengan cara diundur atau majukan waktu sahur atau buka puasa. Adapun adaptasi lain adalah jumlah obat disesuaikan dengan kebutuhan ODHA dan jenisnya harus sesuai dengan kualitas makanan bergizi yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, serta air

Jadi, teman-teman ODHA tetap bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik kok :) Insya Allah jika kita niat baik untuk ibadah, semua akan berjalan dengan mudah dan mendapatkan keberkahanNya. Aminnn...

Sumber:
Odha Berhak sehat http://www.odhaberhaksehat.org/2013/odha-boleh-berpuasa/


Oleh: Fyan Abdullah
Sunday, July 5, 2015

Marriage Equality: Apakah Cukup?

#LoveWins

Beberapa hari ini social media dipenuhi dengan tagar tersebut. Diikuti juga dengan profile picture pelangi di Facebook. Facebook pun mencatat sebanyak 26 juta orang menggunakan fitur celebrate pride untuk menambahkan pelangi pada profil mereka. Tidak hanya pada Facebook. Twitter juga membuat emotikon hati dengan warna pelangi pda setiap twit dengan tagar #LoveWins. Apa yang membuat pelangi kemudian mendominasi social media?

US Supreme Court baru saja melegalkan pernikahan untuk gay dan lesbian. Putusan ini berlaku untuk seluruh negara bagian US. Seperti yang kita tahu, selama ini hanya beberapa negara bagian saja yang sudah melegalkan same-sex marriage. Putusan ini menciptakan efek global bagi LGBTI di seluruh dunia. Hal ini terjadi karena dukungan perusahaan-perusahaan global dari US yang bergerak di bidang IT, seperti Facebook, Google, Apple, dll. Maka, tidak heran kalau #LoveWins menjadi ledakan baru di social media.

Momentum ini dimanfaatkan oleh komunitas LGBTI di seluruh dunia untuk menyuarakan hak-haknya. Memang, US bukanlah negara pertama yang melegalkan same-sex marriage. Namun, salah satu negara terbesar ini memiliki pengaruh besar terhadap dunia. Pantas saja kalau isu same-sex marriage di Amerika kemudian menjadi sorotan di seluruh dunia. Berbagai opini pun muncul dari segala pihak, baik pro maupun kontra. Opini ini kemudian memunculkan berbagai ruang dialog, terutama di social media.

Bagaimana dengan Indonesia? Tentu momen celebrate pride ini turut dirayakan oleh komunitas dan sahabat LGBTI. Tidak hanya itu, bahkan banyak mereka yang turut menggunakan foto profil pelangi agar terlihat “kekinian”. Padahal, mereka sendiri tidak mengetahui apa arti dari pelangi tersebut. Sobat Bronis, kita tinggal di negara yang sebagian besar penduduknya seolah-olah menganggap dirinya Tuhan. Berbagai kecaman dan penghakiman muncul bersamaan dengan dukungan atas nama kemanusiaan. Keadaan ini kemudian mengajak kita berefleksi. Apakah same-sex marriage saja sudah cukup?

Kita jangan dulu berbicara tentang marriage equality, kalau basic needs LGBTI belum terpenuhi. Sobat Bronis jangan lupa, masih banyak kasus kekerasan dan diskriminasi berbasis SOGIE. Penelitian Arus Pelangi (2013) menunjukkan bahwa 89,3% LGBT di Indonesia mengalami kekerasan, dimana 79,1% merupakan kekerasan fisik. Masih ada 5 provinsi yang mengkriminalisasi homoseksual. Kondisi ini menunjukkan bahwa LGBT masih menjadi warga kelas dua. Maka, tidak heran kalau banyak LGB yang tertutup akan orientasi seksualnya. Homophobia masih sangat kental di negara ini. Isu ini kemudian menyebabkan internalized homophobia pada LGB yang berakibat pada self-blaming akan orientasi seksualnya. Stigma dan diskriminasi yang melekat inilah yang menyebabkan 33,7% LGBT di Indonesia pernah berpikir untuk bunuh diri, 20,1% diantaranya bahkan pernah melakukan percobaan bunuh diri.

Sobat Bronis, apakah kita cukup memikirkan pernikahan kalau hak-hak kita untuk hidup, bertumbuh, dan berkembang belum terpenuhi? Mungkin gay dan lesbian di Amerika sudah mendapatkan pengakuannya secara sipil. Bagaimana dengan transgender? Dalam konteks pergerakan LGBT, transgender masih tertinggal dibanding LGB. Masih banyak trans*people yang mengalami kekerasan dan diskriminasi karena identitas gendernya. Sulit bagi mereka untuk mengakses layanan kesehatan, terutama untuk transisi medis. Di Indonesia sendiri, bias agama yang terjadi pada tenaga medis kerap memberikan diskriminasi baru bagi transgender. Hal ini belum termasuk diskriminasi dalam lapangan pekerjaan.

Masih banyak yang harus dilakukan untuk LGBTI di Indonesia. Kita bisa melakukan perubahan itu. Karena pergerakan LGBTI di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1969 oleh waria. Di tahun yang sama, peristiwa kerusuhan Stonewall juga sedang terjadi di Amerika. Jika Amerika bisa, mengapa tidak dengan kita? Saat ini kita sedang berjuang untuk kesetaraan sebagai manusia. Karena tantangan terbesar kita adalah memberikan pemahaman pada masyarakat Indonesia tentang keberagaman itu. Ya, LGBTI adalah salah satu bentuk keberagaman dalam manusia, yaitu keberagaman seksualitas dan gender.


Oleh: Abhipraya Ardiansyah
Friday, July 3, 2015

- Copyright © BrondongManis -