On Saat Bangun Tidur?

Sobat Bronis sering kaget karena saat bangun tidur dedeknya ikutan bangun? Tak perlu gusar bila sering ereksi di pagi hari. Kondisi yang disebut dengan nocturnal penile tumescence (NPT) ini normal dialami pria sehat. Tanpa disadari, sejak bayi atau masih dalam kandungan saja NPT telah terjadi. NPT terjadi secara spontan saat pria tidur atau bangun tidur. Bisa terjadi sebanyak 3 sampai 4 kali saat mereka tidur. Sehingga tak jarang saat terbangun penis dalam keadaan seperti kayu yang sangat keras, yang dapat membuat celana seperti tenda perkemahan.  

Dikutip dari situs Health Me Up pada Kamis (11/6/2015), NPT terjadi saat seorang pria memasuki fase tidur REM atau rapid eye movement. Sebab, tingkat norepinefrin menurun dan segala tindakan yang dilakukan hormon testosteron tak lagi terhambat. Namun, NPT atau ereksi di pagi hari juga dapat terjadi karena kandung kemih yang penuh, yang membuat pria harus langsung ke kamar mandi untuk buang air kecil agar ereksinya hilang.  

Dalam sebuah kesempatan, Spesialis Andrologi dan Seksologi dari RS Siloam, dr. Heru H. Oentoeng, M. Repro, Sp. And, FIAS, FECSM, menjelaskan bahwa ereksi terjadi akibat mimpi atau gesekan penis dengan bantal. Dia mengatakan, tak perlu takut bila ereksi sering terjadi di pagi hari. Justru yang harus ditakuti bila ini tak terjadi. Bisa jadi ada pengaruh hormonal yang berkaitan dengan disfungsi ereksi.  

"Kalau pagi hari hari ereksi menurun, coba evaluasi hormonalnya bagaimana. Sebab salah satu penyebab gangguan ereksi adalah gangguan hormonal," kata dia.  

Jadi sekarang sobat Bronis tau 'kan kenapa dedeknya sering ikut bangun saat kita bangun tidur?

Sumber: Liputan6.com


Oleh: Albertus Agung Sugianto
Saturday, July 11, 2015

Keep Calm and Claim The Space

Minggu ini publik baru saja “digoyang” oleh salah satu tayangan di stasiun TV nasional. Sebuah tayangan menyajikan debat dengan tema pernikahan sejenis dengan narasumber dari beberapa praktisi dan aktivis LGBTI. Ya! Media televisi pun turut ambil bagian dalam menanggapi isu yang sedang hangat ini. Sebelumnya, sebuah stasiun televisi lokal telah menayangkan acara serupa. Lalu, apakah live dialog tersebut berdampak bagi masyarakat dan komunitas LGBTI?

Tayangan yang baru saja ditayangkan minggu ini menampilkan narasumber-narasumber yang memegang peran penting dalam bidangnya. Temanya tetap mengusung pernikahan sejenis untuk dua jenis tayangan di stasiun televisi yang berbeda. Dari kubu pro, narasumber yang mewakili adalah Dede Oetomo (Gaya Nusantara),Yuli Rustinawati (Arus Pelangi), dan Budi Wahyuni (Komnas Perempuan). Sedangkan dari kubu kontra menghadirkan beberapa tokoh agama baik Islam (MUI) maupun Kristen, Komisi VIII DPR, dan Sosiolog. Lantas, pelajaran apa yang dapat kita ambil dari tayangan-tayangan debat tersebut?

Kondisi kontroversi pernikahan sejenis ini menciptakan ruang dialog bagi komunitas LGBTI dan masyarakat. Sobat Bronis pasti tidak asing lagi dengan para bigot yang senang mencaci maki keberadaan LGBTI dengan dasar agama tertentu. Walau sudah berkali-kali diberitahukan bahwa homoseksual sudah dikeluarkan dari penggolongan gangguan kejiwaan. Atau fakta bahwa LGBTI juga merupakan bagian dari warga negara Indonesia yang patut dilindungi hak-haknya. Ya! Segala macam debat kusir dengan berbagai kajian terjadi, hingga debat tentang penafsiran ayat-ayat kitab suci. Walaupun dirasa melelahkan, tapi dari ruang-ruang dialog seperti inilah isu LGBTI muncul ke permukaan.

Perlu disadari, bahwa pro dan kontra ini membuktikan bahwa masyarakat sudah sadar akan eksistensi LGBTI di Indonesia. Tidak lagi menjadi hal yang tabu dalam membicarakan LGBTI. Statement dukungan sudah datang dari Komnas HAM dan Komnas Perempuan. Meskipun dalam ruang-ruang dialog tersebut LGBTI masih mendapatkan porsi yang tidak berimbang. Di sisi lain, dialog tersebut juga menimbulkan keingintahuan dari sebagian orang tentang isu LGBTI. Tidak hanya hujatan dari para bigot. Teman-teman yang ingin tahu inilah yang potensial untuk diberikan pemahaman tentang SOGIE. Apapun sikap yang mereka ambil pada akhirnya, apakah itu pro atau kontra, yang penting mereka sudah memahami keberagaman berbasis SOGIE.

Sobat Bronis, dari kondisi ini kita belajar bahwa masyarakat telah mengalami perubahan. Dari tidak tahu tentang LGBTI menjadi tahu. Bukan tidak mungkin suatu hari nanti akan lebih banyak muncul sahabat-sahabat yang suportif terhadap LGBTI. Tidak perlu ngotot seperti para bigot dalam berargumen. Karena tanpa kita sadari, kita sudah memiliki ruang di masyarakat untuk membicarakan SOGIE. Perubahan itu mungkin, karena kehidupan sosial selalu bergerak dinamis.


Oleh: Abhipraya Ardiansyah
Thursday, July 9, 2015

ARV di Bulan Ramadhan

Setiap bulan Ramadhan, seluruh umat Islam diwajibkan menjalankan puasa mulai dari sebelum fajar sampai matahari terbenam. Termasuk kalian juga kan sobat Bronis :)

Rentang waktunya rata-rata mencapai 13-14 jam. Bagi sobat Bronis yang tidak memiliki masalah kesehatan, mungkin hal tersebut tidak terlalu berpengaruh yaaa.. Tapi gimana dong dengan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang setiap 12 jam harus meminum obat antiretroviral (ARV)?

Nah untuk yang belum tahu apa itu ARV, penulis jelasin sedikit yaa.. ARV atau antiretroviral adalah obat untuk menahan laju perkembangan HIV (virus penyebab AIDS). Aturan minum obat ARV sangat ketat loh guys, karena terkait langsung dengan tingkat perkembangan HIV di dalam darah. ODHA boleh saja berpuasa, namun dengan catatan harus terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter. Kondisi tubuh adalah faktor penentu apakah seseorang ODHA mampu berpuasa atau tidak lho sobat Bronis. Selain itu, kewajiban meminum ARV juga menjadi pertimbangan utama. Jika kondisi sudah sangat rentan dan tidak memungkinkan, aturan dan syarat puasa dapat dilakukan dengan membayar fidyah atau memberi makan bagi fakir miskin.

Keputusan untuk berpuasa atau tidak, memang ditangan kita yang ODHA. Namun, kita tetap harus mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan selama berpuasa. Karena kurangnya pasokan obat ARV di dalam darah akan memberi peluang besar bagi virus HIV untuk berkembang biak. Yang benar-benar perlu diperhatikan adalah kesanggupan tubuh kita untuk menjalankan puasa tersebut. Jangan memaksakan diri. Namun, dengan berpuasa ODHA dilatih untuk disiplin dan membantu ODHA patuh minum ARV.

Bagi kita yang ODHA dianjurkan untuk mengonsumsi ARV jika CD4-nya di bawah 350. Ada yang tau apa itu CD4? CD4 adalah jenis sel darah putih atau limfosit. Sel tersebut adalah bagian yang penting dari sistem kekebalan tubuh kita guys. Dari aspek medis, tidak ada batasan CD4 yang bisa dijadikan patokan apakah seorang boleh berpuasa atau tidak. Ada beberapa persepsi tentang bagaimana waktu minum obat ODHA saat berpuasa, khususnya ARV.

Cara paling tepat mengonsumsi obat bagi ODHA adalah dengan mengubah waktu minum ARV disesuaikan dengan waktu makan bulan Ramadhan, yaitu mulai dari waktu berbuka hingga makan sahur dan sebelum imsak. Namun, perlu adaptasi kira-kira satu hingga dua minggu untuk minum obat dengan cara diundur atau majukan waktu sahur atau buka puasa. Adapun adaptasi lain adalah jumlah obat disesuaikan dengan kebutuhan ODHA dan jenisnya harus sesuai dengan kualitas makanan bergizi yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, serta air

Jadi, teman-teman ODHA tetap bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik kok :) Insya Allah jika kita niat baik untuk ibadah, semua akan berjalan dengan mudah dan mendapatkan keberkahanNya. Aminnn...

Sumber:
Odha Berhak sehat http://www.odhaberhaksehat.org/2013/odha-boleh-berpuasa/


Oleh: Fyan Abdullah
Sunday, July 5, 2015

Marriage Equality: Apakah Cukup?

#LoveWins

Beberapa hari ini social media dipenuhi dengan tagar tersebut. Diikuti juga dengan profile picture pelangi di Facebook. Facebook pun mencatat sebanyak 26 juta orang menggunakan fitur celebrate pride untuk menambahkan pelangi pada profil mereka. Tidak hanya pada Facebook. Twitter juga membuat emotikon hati dengan warna pelangi pda setiap twit dengan tagar #LoveWins. Apa yang membuat pelangi kemudian mendominasi social media?

US Supreme Court baru saja melegalkan pernikahan untuk gay dan lesbian. Putusan ini berlaku untuk seluruh negara bagian US. Seperti yang kita tahu, selama ini hanya beberapa negara bagian saja yang sudah melegalkan same-sex marriage. Putusan ini menciptakan efek global bagi LGBTI di seluruh dunia. Hal ini terjadi karena dukungan perusahaan-perusahaan global dari US yang bergerak di bidang IT, seperti Facebook, Google, Apple, dll. Maka, tidak heran kalau #LoveWins menjadi ledakan baru di social media.

Momentum ini dimanfaatkan oleh komunitas LGBTI di seluruh dunia untuk menyuarakan hak-haknya. Memang, US bukanlah negara pertama yang melegalkan same-sex marriage. Namun, salah satu negara terbesar ini memiliki pengaruh besar terhadap dunia. Pantas saja kalau isu same-sex marriage di Amerika kemudian menjadi sorotan di seluruh dunia. Berbagai opini pun muncul dari segala pihak, baik pro maupun kontra. Opini ini kemudian memunculkan berbagai ruang dialog, terutama di social media.

Bagaimana dengan Indonesia? Tentu momen celebrate pride ini turut dirayakan oleh komunitas dan sahabat LGBTI. Tidak hanya itu, bahkan banyak mereka yang turut menggunakan foto profil pelangi agar terlihat “kekinian”. Padahal, mereka sendiri tidak mengetahui apa arti dari pelangi tersebut. Sobat Bronis, kita tinggal di negara yang sebagian besar penduduknya seolah-olah menganggap dirinya Tuhan. Berbagai kecaman dan penghakiman muncul bersamaan dengan dukungan atas nama kemanusiaan. Keadaan ini kemudian mengajak kita berefleksi. Apakah same-sex marriage saja sudah cukup?

Kita jangan dulu berbicara tentang marriage equality, kalau basic needs LGBTI belum terpenuhi. Sobat Bronis jangan lupa, masih banyak kasus kekerasan dan diskriminasi berbasis SOGIE. Penelitian Arus Pelangi (2013) menunjukkan bahwa 89,3% LGBT di Indonesia mengalami kekerasan, dimana 79,1% merupakan kekerasan fisik. Masih ada 5 provinsi yang mengkriminalisasi homoseksual. Kondisi ini menunjukkan bahwa LGBT masih menjadi warga kelas dua. Maka, tidak heran kalau banyak LGB yang tertutup akan orientasi seksualnya. Homophobia masih sangat kental di negara ini. Isu ini kemudian menyebabkan internalized homophobia pada LGB yang berakibat pada self-blaming akan orientasi seksualnya. Stigma dan diskriminasi yang melekat inilah yang menyebabkan 33,7% LGBT di Indonesia pernah berpikir untuk bunuh diri, 20,1% diantaranya bahkan pernah melakukan percobaan bunuh diri.

Sobat Bronis, apakah kita cukup memikirkan pernikahan kalau hak-hak kita untuk hidup, bertumbuh, dan berkembang belum terpenuhi? Mungkin gay dan lesbian di Amerika sudah mendapatkan pengakuannya secara sipil. Bagaimana dengan transgender? Dalam konteks pergerakan LGBT, transgender masih tertinggal dibanding LGB. Masih banyak trans*people yang mengalami kekerasan dan diskriminasi karena identitas gendernya. Sulit bagi mereka untuk mengakses layanan kesehatan, terutama untuk transisi medis. Di Indonesia sendiri, bias agama yang terjadi pada tenaga medis kerap memberikan diskriminasi baru bagi transgender. Hal ini belum termasuk diskriminasi dalam lapangan pekerjaan.

Masih banyak yang harus dilakukan untuk LGBTI di Indonesia. Kita bisa melakukan perubahan itu. Karena pergerakan LGBTI di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1969 oleh waria. Di tahun yang sama, peristiwa kerusuhan Stonewall juga sedang terjadi di Amerika. Jika Amerika bisa, mengapa tidak dengan kita? Saat ini kita sedang berjuang untuk kesetaraan sebagai manusia. Karena tantangan terbesar kita adalah memberikan pemahaman pada masyarakat Indonesia tentang keberagaman itu. Ya, LGBTI adalah salah satu bentuk keberagaman dalam manusia, yaitu keberagaman seksualitas dan gender.


Oleh: Abhipraya Ardiansyah
Friday, July 3, 2015

Youth Study Sahabat Muda Bekasi 2015

Sahabat Muda Bekasi, organisasi remaja yang fokus pada isu dan permasalahan di kelompok gay, waria, dan LSL remaja di Kota dan Kabupaten Bekasi yang berdiri sejak Februari 4 tahun yang lalu.  

Pada awal tahun 2015 ini, Sahabat Muda Bekasi membuat sebuah workshop remaja dengan tema Youth Study Sahabat Muda Bekasi 2015. Terdiri dari 15 orang perserta, 5 gay remaja, 5 waria remaja, dan 5 ODHA Remaja.    

Kegiatan ini berjalan selama kurang lebih 2 bulan dengan 4 kali pertemuan. Melalui media workshop ini, teman-teman SMB banyak mendapatkan berbagai pemahaman dasar, seperti HIV/AIDS, IMS, SOGIEB, SRHR, HAM, Konsep Diri, dan berbagai motivasi yang dikemas seremaja mungkin. Banyak hal besar yang kami dapatkan selama proses ini berlangsung, isu dan permasalahan yang di hadapi oleh setiap peserta pun ternyata berbeda-beda.    

Kegiatan yang dilakukan setiap 2 minggu sekali selama satu bulan ini pun akhirnya selesai dan ditutup dengan event akbar kami yang bertajuk 'Kita Peduli'. Dalam malam puncak ini, peserta Youth Study SMB menampilkan penampilan terbaik mereka, seperti lipsync, dll. Acara ini ditutup dengan penyerahan Piagam/Sertifikat bagi 15 peserta Youth Study. Kami pun telah menentukan 2 orang yang terpilih sebagai Peserta Terbaik dan Peserta Terfavorit di tahun ini.  

Semoga ilmu dan hal positif yang didapatkan oleh peserta Youth Study Sahabat Muda Bekasi 2015 kali ini bisa terus dikembangkan dan mereka bisa menjadi role model bagi teman-teman di luar sana. Setidaknya bermanfaat bagi diri mereka sendiri :)

Sumber:
https://www.facebook.com/pages/Sahabat-Muda-Bekasi/1562810773986071


Oleh: Fyan Abdullah

STOP Homophobic and Transphobic Bullying at School!! #PurpleMySchool

“Bencong... Bencong...”

Sobat Bronis pasti sudah tidak asing lagi dengan kata-kata tersebut. Kata-kata ejekan yang biasa kita dengar sejak kecil saat melihat laki-laki yang tampil feminin. Tidak hanya waria, tetapi juga bagi laki-laki yang dianggap tidak “jantan”. Ya, kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya hal-hal yang disebabkan oleh patriarki dan konstruksi masyarakat biner. Konstruksi itu berkembang dari lingkungan teman-teman sepermainan di usia dini, ke lingkungan selanjutnya. Lingkungan sekolah.

Sekolah sebagai institusi pendidikan seyogyanya menjadi tempat yang nyaman bagi semua siswa yang ada di dalamnya. Karena sekolah adalah tempat kita mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menunjang masa depan kita. Maka, dinamika sosial pun berlangsung di lingkungan sekolah ini. Berbagai interaksi terjadi antara siswa, guru, dan seluruh staf yang ada di sekolah. Interaksi ini menjadi sarana pembelajaran nilai dan norma, termasuk heteronormativitas dan gender biner.

Seperti yang kita ketahui, manusia kerap dianggap “aneh” jika tampil berbeda dengan mayoritas. Inilah fakta yang dialami LGBTI. Ditambah lagi dengan fakta bahwa nilai-nilai tersebut juga masuk ke dalam lingkungan sekolah. Dalam tahap tertentu, konstruksi tersebut bertransforamasi menjadi homophobia dan transphobia bagi sebagian orang. Hasilnya? Bullying berbasis orientasi seksual dan identitas gender pun dialami LGBTI muda di sekolah.

Homophobic dan transphobic bullying di sekolah bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak hanya sesama siswa. Bahkan guru juga kerap menjadi pelakunya. Tidak jarang guru-guru mengucapkan ungkapan-ungkapan untuk “menormalkan” siswanya yang LGBTI. Misalnya, jika siswa LGBTI mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari temannya, si guru malah menyalahkan siswa tersebut. Karena “perilakunya” yang menyebabkan siswa lain berlaku tidak baik padanya. Kondisi ini, jika berlangsung terus-menerus, akan menjadi sebuah tekanan bagi kondisi psikologis siswa LGBTI. Tidak heran kalau bullying menjadi salah satu alasan terkuat bagi LGBTI untuk enggan masuk hingga berhenti dari sekolah.

Being LGBT in Asia bekerja sama dengan UNESCO menyelenggarakan Asia-Pacific Consultation on School Bullying on the Basis of Sexual Orientation, Gender Identity/Expressions di Bangkok, 15-17 Juni 2015. Pertemuan ini membahas tentang solusi dan strategi pencegahan bullying berbasis SOGIE di sekolah. Salah satu solusi yang dihasilkan adalah memberikan pehamanan SOGIE bagi tenaga pendidik. Karena banyak tenaga pengajar yang menghadapi siswa dengan permasalahan berbasis SOGIE, namun mereka tidak memiliki pemahaman yang cukup untuk menangani masalah tersebut.

Pada tahap berikutnya UNDP dan UNESCO akan mendukung konsultasi nasional di yang tergabung dalam fase kedua BLIA, seperti Cina, Indonesia, Filipina, dan Thailand. Diharapkan dalam konsultasi nasional tersebut, beberapa permasalahan dan solusi bagi setiap negara dapat diidentifikasi. Pada hasil terakhir pertemuan tersebut pula diluncurkan kampanye #PurpleMySchool. Kampanye online ini mengajak teman-teman, keluarga, guru, dan sekolah-sekolah untuk memberikan ruang aman bagi siswa LGBTI. Bentuk kampanye ini adalah menunjukkan solidaritas dengan menggunakan warna ungu. Misalnya dalam pakaian, gambar-gambar, dan berbagai bentuk kreativitas lainnya.

#PurpleMySchool bisa diakses melalui link http://www.campaign.com/PurpleMySchool. Sobat Bronis bisa bergabung dalam kampanye ini dengan signing, mengunggah foto, dan menuliskan quote. Jangan lupa gunakan Twitter dan Instagram sobat Bronis dengan mencantumkan hashtag #PurpleMySchool. Foto-foto terpilih akan disertakan dalam publikasi UNESCO, UNDP, dan Being LGBT in Asia. Pemenang juga berhak mendapatkan copy dari publikasi ini lho!

So, tunggu apa lagi sobat Bronis? Ayo kita dukung gerakan STOP homophobic dan transphobic bullying di sekolah!!

Sumber:
http://www.asia-pacific.undp.org/content/rbap/en/home/presscenter/pressreleases/2015/06/19/asia-pacific-countries-stand-united-against-homophobic-and-transphobic-bullying-in-schools-.html#


Oleh: Abhipraya Ardiansyah

10 Alasan Gay Adalah Normal


A : "Gay 'kan menular, makanya jangan dekat-dekat Gay, nanti ketularan homonya"
B : ……..

Sobat Bronis masih sering ditanyakan dengan pertanyaan diatas? Lalu bingung mau membalas dengan jawaban seperti apa? Kali ini brondongmanis akan mencoba membantu sobat bronis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memberi stigma negative kepada teman-teman gay.

Disini Brondong manis akan mencoba memberikan jawaban-jawaban logis kalau kamu ditanyakan atau sedang berdebat yang mengarah pada stigma terhadap gay. Pada dasarnya kita akan lebih focus kepada gay dalam arti gay sebagai laki-laki yang tertarik dengan laki-laki biologis dan gender laki-laki.

Brondongmanis akan mencoba membahas juga orientasi seksual bahwa terdapat 4 orientasi seksual yaitu Homoseksual, Heteroseksual, Biseksual, dan yang terakhir adalah panseksual yaitu ketertarikan seseorang pada orang lain bukan karena gender tertentu tapi karena perasaan. Brondongmanis akan mencoba menggunakan pendekatan ilmiah dan pikiran logis, pendekatan ilmiah akan lebih pada teori McKinsey, PPDGJ, dan DSM.

1. Spektrum Kinsey 
McKinsey mencetuskan spectrum orientasi seksual menjadi 7 skala, skala 0-6. Skala 0 menandakan seseorang dengan orientasi ekstrim heteroseksual dan skala 6 untuk ekstrim homoseksual. Namun tidak ada orang yang ekstrim homoseksual atau ekstrim heteroseksual, karena pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan untuk tertarik pada lawan atau sesame jenisnya. Contohnya, tanyakan teman laki-lakimu, apakah ia memiliki idola laki-laki? Hal itu mengindikasikan adanya ketertarikan terhadap sesame jenis.

Dan menurut Sigmund Freud, manusia terlahir sebagai biseksual dan lingkunganlah yang akan membentuk manusia itu menjadi heteroseksual karena mayoritas masyarakat masih hidup dalam heteronormatifitas.

2. PPDGJ III 
Dalam Panduan Penggolongan Diagnosis dan Gangguan Jiwa III Kementerian Kesehatan RI tahun 1993 telah menghapuskan homoseksualitas sebagai gangguan jiwa karena homoseksual tidak menunjukkan gejala apapun terkait dengan gangguan psikologis maupun mental. Lalu juga dalam kitab para psikolog dunia yaitu Diagnostic Statistics Manual ke-5 (DSM V) telah mencabutkan homoseksualitas sebagai penyakit.

Nah, yang tidak normal adalah orang yang takut terhadap homoseksual atau yang biasa disebut homophobic, karena ketakutan yang berlebihan dapat menimbulkan gangguan jiwa bahkan jika perasaan homophobia ini terlalu besar bisa menimbulkan kerugian terhadap teman-teman homoseksual bahkan bisa sampai dengan kasus pembunuhan.

Jadi yang sakit bukanlah homoseksual, tapi yang takut dengan homoseks adalah orang yang sakit.

3. Kalau Kamu Suka Coklat, Aku Suka Vanila
Sebenernya orientasi seksual itu bisa diibaratkan sebagai Ice Cream. Ice cream memiliki banyak rasa, ada stroberi, vanilla, coklat, dan sebagainya. Ketika sobat Bronis ditanya kalau gay adalah kelainan, berikan saja pengisyaratan bahwa kalau orientasi seksual itu seperti rasa ice cream, kalau kamu cenderung suka rasa coklat, aku suka rasa stoberi.

4. Kalau Gay Tidak Normal, Hetero Juga Tidak Normal
Gay tidak normal? Kalau gay tidak normal, maka heteroseksualitas juga tidak normal dong. Karena homoseksualitas juga bagian dari orientasi seksual, seperti yang sudah dijelaskan diatas, juga tentang kecenderungan rasa ice cream, bisa diibaratkan juga Bronis kalau seandainya rasa coklat adalah heteroseksualitas dan rasa Vanilla adalah homoseksualitas. Kalau menyukai rasa vanilla dianggap tidak normal, maka menyukai rasa coklat juga tidak normal dong?

5. Kalau Gay Penyakit Pasti Bisa Disembuhkan
Rasulullah SAW Bersabda: “Masing-masing penyakit pasti ada obatnya. Kalau obat sudah mengenai penyakit, penyakit itu pasti akan sembuh dengan izin Allah SWT.”

Sabda Rasullullah SAW diatas menjelaskan kepada kita bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. Nah kalau Gay adalah penyakit, pernahkah sobat mendengar bahwa ada orang yang sembuh dari ketertarikan sesama jenis dengan menggunakan pengobatan tertentu? Bahkan jika ada yang “sembuh”, orang itu bukan sembuh namun peluangnya adalah:
a. Dia terpaksa untuk tertarik ke lawan jenis,
b. Seksualitasnya bergeser ke arah kiri menurut mcKinsey,
c. Dia membohongi perasaannya,
d. Dia adalah seorang biseksual,
e. dan sebagainya.

Oh iya, dan juga kalau gay adalah penyakit, bisa sebutkan obatnya? Biar saya bisa berobat.

6. Kalau Gay Menular, Kenapa Hetero Tidak Menular
Banyak orang yang berasumsi bahwa gay dapat menular berikut salah satu pengakuan seorang teman.

“Saya punya temen, dia awalnya normal, tapi karena dia punya sahabat homo, dia jadi seorang homo juga.”-teman penulis

Nah pada dasarnya bukanlah Gay yang menular, namun ia pada dasarnya memang sudah memiliki kecenderungan untuk menyukai sesame jenis, hanya saja lingkungannya menekannya untuk menyukai ke-lawan jenis. Ketika ia bertemu dengan seseorang yang ia anggap nyaman, ia akan mendeklarasikan orientasi seksnya. Sama seperti kamu menceritakan orang yang kamu sukai hanya kepada orang yang kamu percaya, karena kamu menemukan kenyamanan bersamanya, merasa aman dan bahwa kamu tidak sendiri.

Kalau seandainya benar homoseksual adalah menular, kenapa heteroseksualitas yang mayoritas justeru tidak menular?

7. Penyebab Gay, Kalau Heteroseksualitas bagaimana?
Banyak orang yang menannyakan tentang penyebab seorang menjadi Gay. Pada dasarnya Gay tidaklah memiliki penyebab, sama seperti heteroseksualitas. Ketika kamu ditanya, “apa penyebab kamu suka sama sesama jenis?”, jawablah dengan, “kenapa kamu suka sama lawan jenis?”

8. Gay Juga Pakai Cinta
Banyak yang bilang bahwa Gay hanya memikirkan hubungan seks semata, namun tidak menggunakan cinta. Kalau gay tidak menggunakan cinta maka kenapa kaum gay memperjuangkan perkawinan sesama jenis?

9. Normal Tidak Normal Karena Jumlah?
Kadang orang-orang melihat normal atau tidak normal dari segi jumlah, karena heteroseksual dianggap mayoritas maka heteroseksual adalah hal yang normal. Logikanya adalah ibarat warna kulit, misalnya kamu berkulit coklat, lalu pergi ke negara yang berkulit putih, apakah kamu dianggap tidak normal? Kamu tetap dianggap normal kan? Padahal setiap orientasi seksual seperti homoseksual, heteroseksual, biseksual, maupun panseksual semuanya adalah hal yang normal. Seperti pengibaratan ice cream dan warna kulit.

10. Homoseksual masuk neraka
“Lo pikir lo Tuhan bisa menentukan orang masuk neraka atau surga?”

Dalam beberapa kajian mengenai Gay, termasuk kajian untuk agama Islam. Dalam Al-Quran menyatakan bahwa kaum yang dikutuk adalah kaum Nabi Luth atau kaum Sodom karena melakukan tindakan anal seks secara paksa. Bahwa yang dikutuk dalam agama Islam adalah: orang yang melakukan seks anal secara paksa (tidak pakai perasaan seperti kaum heteroseksual). Namun, faktanya teman-teman homoseksual melakukan hubungan seks tanpa paksaan dan bukan merupakan tindak perkosaan. Ketika ditanya kalau hubungan sesama jenis adalah dosa, tanyakan balik, “bagaimana dengan perkosaan pada heteroseksual?”.


Oleh: Achmad Mujoko

- Copyright © BrondongManis -