STOP Homophobic and Transphobic Bullying at School!! #PurpleMySchool

“Bencong... Bencong...”

Sobat Bronis pasti sudah tidak asing lagi dengan kata-kata tersebut. Kata-kata ejekan yang biasa kita dengar sejak kecil saat melihat laki-laki yang tampil feminin. Tidak hanya waria, tetapi juga bagi laki-laki yang dianggap tidak “jantan”. Ya, kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya hal-hal yang disebabkan oleh patriarki dan konstruksi masyarakat biner. Konstruksi itu berkembang dari lingkungan teman-teman sepermainan di usia dini, ke lingkungan selanjutnya. Lingkungan sekolah.

Sekolah sebagai institusi pendidikan seyogyanya menjadi tempat yang nyaman bagi semua siswa yang ada di dalamnya. Karena sekolah adalah tempat kita mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menunjang masa depan kita. Maka, dinamika sosial pun berlangsung di lingkungan sekolah ini. Berbagai interaksi terjadi antara siswa, guru, dan seluruh staf yang ada di sekolah. Interaksi ini menjadi sarana pembelajaran nilai dan norma, termasuk heteronormativitas dan gender biner.

Seperti yang kita ketahui, manusia kerap dianggap “aneh” jika tampil berbeda dengan mayoritas. Inilah fakta yang dialami LGBTI. Ditambah lagi dengan fakta bahwa nilai-nilai tersebut juga masuk ke dalam lingkungan sekolah. Dalam tahap tertentu, konstruksi tersebut bertransforamasi menjadi homophobia dan transphobia bagi sebagian orang. Hasilnya? Bullying berbasis orientasi seksual dan identitas gender pun dialami LGBTI muda di sekolah.

Homophobic dan transphobic bullying di sekolah bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak hanya sesama siswa. Bahkan guru juga kerap menjadi pelakunya. Tidak jarang guru-guru mengucapkan ungkapan-ungkapan untuk “menormalkan” siswanya yang LGBTI. Misalnya, jika siswa LGBTI mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari temannya, si guru malah menyalahkan siswa tersebut. Karena “perilakunya” yang menyebabkan siswa lain berlaku tidak baik padanya. Kondisi ini, jika berlangsung terus-menerus, akan menjadi sebuah tekanan bagi kondisi psikologis siswa LGBTI. Tidak heran kalau bullying menjadi salah satu alasan terkuat bagi LGBTI untuk enggan masuk hingga berhenti dari sekolah.

Being LGBT in Asia bekerja sama dengan UNESCO menyelenggarakan Asia-Pacific Consultation on School Bullying on the Basis of Sexual Orientation, Gender Identity/Expressions di Bangkok, 15-17 Juni 2015. Pertemuan ini membahas tentang solusi dan strategi pencegahan bullying berbasis SOGIE di sekolah. Salah satu solusi yang dihasilkan adalah memberikan pehamanan SOGIE bagi tenaga pendidik. Karena banyak tenaga pengajar yang menghadapi siswa dengan permasalahan berbasis SOGIE, namun mereka tidak memiliki pemahaman yang cukup untuk menangani masalah tersebut.

Pada tahap berikutnya UNDP dan UNESCO akan mendukung konsultasi nasional di yang tergabung dalam fase kedua BLIA, seperti Cina, Indonesia, Filipina, dan Thailand. Diharapkan dalam konsultasi nasional tersebut, beberapa permasalahan dan solusi bagi setiap negara dapat diidentifikasi. Pada
hasil terakhir pertemuan tersebut pula diluncurkan kampanye #PurpleMySchool. Kampanye online ini mengajak teman-teman, keluarga, guru, dan sekolah-sekolah untuk memberikan ruang aman bagi siswa LGBTI. Bentuk kampanye ini adalah menunjukkan solidaritas dengan menggunakan warna ungu. Misalnya dalam pakaian, gambar-gambar, dan berbagai bentuk kreativitas lainnya.

#PurpleMySchool bisa diakses melalui link http://www.campaign.com/PurpleMySchool. Sobat Bronis bisa bergabung dalam kampanye ini dengan signing, mengunggah foto, dan menuliskan quote. Jangan lupa gunakan Twitter dan Instagram sobat Bronis dengan mencantumkan hashtag #PurpleMySchool. Foto-foto terpilih akan disertakan dalam publikasi UNESCO, UNDP, dan Being LGBT in Asia. Pemenang juga berhak mendapatkan copy dari publikasi ini lho!

So, tunggu apa lagi sobat Bronis? Ayo kita dukung gerakan STOP homophobic dan transphobic bullying di sekolah!!

Sumber:
http://www.asia-pacific.undp.org/content/rbap/en/home/presscenter/pressreleases/2015/06/19/asia-pacific-countries-stand-united-against-homophobic-and-transphobic-bullying-in-schools-.html#


Oleh: Abhipraya Ardiansyah

10 Alasan Gay Adalah Normal


A : "Gay 'kan menular, makanya jangan dekat-dekat Gay, nanti ketularan homonya"
B : ……..

Sobat Bronis masih sering ditanyakan dengan pertanyaan diatas? Lalu bingung mau membalas dengan jawaban seperti apa? Kali ini brondongmanis akan mencoba membantu sobat bronis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memberi stigma negative kepada teman-teman gay.

Disini Brondong manis akan mencoba memberikan jawaban-jawaban logis kalau kamu ditanyakan atau sedang berdebat yang mengarah pada stigma terhadap gay. Pada dasarnya kita akan lebih focus kepada gay dalam arti gay sebagai laki-laki yang tertarik dengan laki-laki biologis dan gender laki-laki.

Brondongmanis akan mencoba membahas juga orientasi seksual bahwa terdapat 4 orientasi seksual yaitu Homoseksual, Heteroseksual, Biseksual, dan yang terakhir adalah panseksual yaitu ketertarikan seseorang pada orang lain bukan karena gender tertentu tapi karena perasaan. Brondongmanis akan mencoba menggunakan pendekatan ilmiah dan pikiran logis, pendekatan ilmiah akan lebih pada teori McKinsey, PPDGJ, dan DSM.

1. Spektrum Kinsey 
McKinsey mencetuskan spectrum orientasi seksual menjadi 7 skala, skala 0-6. Skala 0 menandakan seseorang dengan orientasi ekstrim heteroseksual dan skala 6 untuk ekstrim homoseksual. Namun tidak ada orang yang ekstrim homoseksual atau ekstrim heteroseksual, karena pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan untuk tertarik pada lawan atau sesame jenisnya. Contohnya, tanyakan teman laki-lakimu, apakah ia memiliki idola laki-laki? Hal itu mengindikasikan adanya ketertarikan terhadap sesame jenis.

Dan menurut Sigmund Freud, manusia terlahir sebagai biseksual dan lingkunganlah yang akan membentuk manusia itu menjadi heteroseksual karena mayoritas masyarakat masih hidup dalam heteronormatifitas.

2. PPDGJ III 
Dalam Panduan Penggolongan Diagnosis dan Gangguan Jiwa III Kementerian Kesehatan RI tahun 1993 telah menghapuskan homoseksualitas sebagai gangguan jiwa karena homoseksual tidak menunjukkan gejala apapun terkait dengan gangguan psikologis maupun mental. Lalu juga dalam kitab para psikolog dunia yaitu Diagnostic Statistics Manual ke-5 (DSM V) telah mencabutkan homoseksualitas sebagai penyakit.

Nah, yang tidak normal adalah orang yang takut terhadap homoseksual atau yang biasa disebut homophobic, karena ketakutan yang berlebihan dapat menimbulkan gangguan jiwa bahkan jika perasaan homophobia ini terlalu besar bisa menimbulkan kerugian terhadap teman-teman homoseksual bahkan bisa sampai dengan kasus pembunuhan.

Jadi yang sakit bukanlah homoseksual, tapi yang takut dengan homoseks adalah orang yang sakit.

3. Kalau Kamu Suka Coklat, Aku Suka Vanila
Sebenernya orientasi seksual itu bisa diibaratkan sebagai Ice Cream. Ice cream memiliki banyak rasa, ada stroberi, vanilla, coklat, dan sebagainya. Ketika sobat Bronis ditanya kalau gay adalah kelainan, berikan saja pengisyaratan bahwa kalau orientasi seksual itu seperti rasa ice cream, kalau kamu cenderung suka rasa coklat, aku suka rasa stoberi.

4. Kalau Gay Tidak Normal, Hetero Juga Tidak Normal
Gay tidak normal? Kalau gay tidak normal, maka heteroseksualitas juga tidak normal dong. Karena homoseksualitas juga bagian dari orientasi seksual, seperti yang sudah dijelaskan diatas, juga tentang kecenderungan rasa ice cream, bisa diibaratkan juga Bronis kalau seandainya rasa coklat adalah heteroseksualitas dan rasa Vanilla adalah homoseksualitas. Kalau menyukai rasa vanilla dianggap tidak normal, maka menyukai rasa coklat juga tidak normal dong?

5. Kalau Gay Penyakit Pasti Bisa Disembuhkan
Rasulullah SAW Bersabda: “Masing-masing penyakit pasti ada obatnya. Kalau obat sudah mengenai penyakit, penyakit itu pasti akan sembuh dengan izin Allah SWT.”

Sabda Rasullullah SAW diatas menjelaskan kepada kita bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. Nah kalau Gay adalah penyakit, pernahkah sobat mendengar bahwa ada orang yang sembuh dari ketertarikan sesama jenis dengan menggunakan pengobatan tertentu? Bahkan jika ada yang “sembuh”, orang itu bukan sembuh namun peluangnya adalah:
a. Dia terpaksa untuk tertarik ke lawan jenis,
b. Seksualitasnya bergeser ke arah kiri menurut mcKinsey,
c. Dia membohongi perasaannya,
d. Dia adalah seorang biseksual,
e. dan sebagainya.

Oh iya, dan juga kalau gay adalah penyakit, bisa sebutkan obatnya? Biar saya bisa berobat.

6. Kalau Gay Menular, Kenapa Hetero Tidak Menular
Banyak orang yang berasumsi bahwa gay dapat menular berikut salah satu pengakuan seorang teman.

“Saya punya temen, dia awalnya normal, tapi karena dia punya sahabat homo, dia jadi seorang homo juga.”-teman penulis

Nah pada dasarnya bukanlah Gay yang menular, namun ia pada dasarnya memang sudah memiliki kecenderungan untuk menyukai sesame jenis, hanya saja lingkungannya menekannya untuk menyukai ke-lawan jenis. Ketika ia bertemu dengan seseorang yang ia anggap nyaman, ia akan mendeklarasikan orientasi seksnya. Sama seperti kamu menceritakan orang yang kamu sukai hanya kepada orang yang kamu percaya, karena kamu menemukan kenyamanan bersamanya, merasa aman dan bahwa kamu tidak sendiri.

Kalau seandainya benar homoseksual adalah menular, kenapa heteroseksualitas yang mayoritas justeru tidak menular?

7. Penyebab Gay, Kalau Heteroseksualitas bagaimana?
Banyak orang yang menannyakan tentang penyebab seorang menjadi Gay. Pada dasarnya Gay tidaklah memiliki penyebab, sama seperti heteroseksualitas. Ketika kamu ditanya, “apa penyebab kamu suka sama sesama jenis?”, jawablah dengan, “kenapa kamu suka sama lawan jenis?”

8. Gay Juga Pakai Cinta
Banyak yang bilang bahwa Gay hanya memikirkan hubungan seks semata, namun tidak menggunakan cinta. Kalau gay tidak menggunakan cinta maka kenapa kaum gay memperjuangkan perkawinan sesama jenis?

9. Normal Tidak Normal Karena Jumlah?
Kadang orang-orang melihat normal atau tidak normal dari segi jumlah, karena heteroseksual dianggap mayoritas maka heteroseksual adalah hal yang normal. Logikanya adalah ibarat warna kulit, misalnya kamu berkulit coklat, lalu pergi ke negara yang berkulit putih, apakah kamu dianggap tidak normal? Kamu tetap dianggap normal kan? Padahal setiap orientasi seksual seperti homoseksual, heteroseksual, biseksual, maupun panseksual semuanya adalah hal yang normal. Seperti pengibaratan ice cream dan warna kulit.

10. Homoseksual masuk neraka
“Lo pikir lo Tuhan bisa menentukan orang masuk neraka atau surga?”

Dalam beberapa kajian mengenai Gay, termasuk kajian untuk agama Islam. Dalam Al-Quran menyatakan bahwa kaum yang dikutuk adalah kaum Nabi Luth atau kaum Sodom karena melakukan tindakan anal seks secara paksa. Bahwa yang dikutuk dalam agama Islam adalah: orang yang melakukan seks anal secara paksa (tidak pakai perasaan seperti kaum heteroseksual). Namun, faktanya teman-teman homoseksual melakukan hubungan seks tanpa paksaan dan bukan merupakan tindak perkosaan. Ketika ditanya kalau hubungan sesama jenis adalah dosa, tanyakan balik, “bagaimana dengan perkosaan pada heteroseksual?”.


Oleh: Achmad Mujoko

Pengetahuan SOGIE dan Transgender Muda

Sobat Bronis pernah dengar berita tentang John Jolie Pitt? Anak perempuan Brad Pitt dan Angelina Jolie yang mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki dalam usia 8 tahun. Ada juga Jazz Jennings, transgender muda berusia 14 tahun yang juga merupakan aktivis youth transgender. Jazz yang terlahir laki-laki, mulai mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan pada usia 4 tahun. Sangat muda, bukan? John dan Jazz hanya sebagian kecil dari kisah transgender muda yang berani menujukkan siapa dirinya.

Saat kita berbicara tentang transgender muda, tentunya kita akan berbicara tentang penerimaan. Apalagi di usia anak-anak, segala keputusan yang diambil harus berdasarkan persetujuan orang tua juga. Maka, penerimaan dari orang tua merupakan isu yang sangat krusial. Keluarga yang suportif seperti Brad Pitt dan Angelina Jolie sangat dibutuhkan untuk mendampingi proses transisi seorang transgender muda. Karena proses transisi ini tidak hanya meliputi transisi medis, tetapi juga transisi psikologis dan sosial. Hal-hal inilah yang menjadi vital bagi transgender muda. Karena di usia dini, seorang anak sedang dalam fase pembentukkan kepribadian dan pencarian jatidiri. Belum lagi dengan fakta bahwa tubuh dan gendernya tidak “sesuai”. Dampingan dan dukungan bagi orang-orang terdekat pun menjadi sangat penting.

Sayangnya, tidak semua transgender muda seberuntung John dan Jazz. Masih banyak tindakan correcctional forces yang terjadi pada transgender muda. Mengapa? Agar mereka bisa kembali “normal”. Heteronormativitas dan gender biner sudah sangat mengakar dalam konstruksi masyarakat. Belum lagi dengan pemikiran bahwa “segala sesuatu yang diputuskan orang tua adalah hal yang benar”. Seorang anak yang sejak kecil merasa berbeda, kemudian ingin mengekspresikan gendernya, hanya dianggap sebagai “tindakan anak kecil” dan orang tua kemudian melakukan segala cara agar anaknya kembali “normal”. Ironisnya, segala tindakan tersebut dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi psikologis anak.

Itulah mengapa pengetahuan tentang SOGIE sangat diperlukan. Dengan pemahaman SOGIE yang baik, kita akan memahami bentuk keberagaman lain dari manusia, yaitu keberagaman identitas seksual. Bukan tidak mungkin keberagaman seksualitas dan gender ini tumbuh sejak usia dini. Jangan lupa bahwa anak juga berhak mendapatkan perlindungan, termasuk perlindungan dalam mengekspresikan dirinya! Siapa yang bertanggung jawab atas semua itu? Tentu saja orang tua yang pertama kali bertanggung jawab.

Oleh karena itu, SOGIE harus dipahami oleh semua orang. Mengingat masih maraknya kasus kekerasan terhadap transgender, baik kekerasan fisik maupun psikis. Kekerasan psikis pun bisa datang dari mana saja, termasuk lingkungan terdekat. Correctional forces hanya akan semakin memperburuk keadaan. Dimana seorang transgender dipaksa untuk menjadi orang lain, bukan dirinya sendiri. Apa yang akan terjadi berikutnya? Potensi stress dan depresi yang akan semakin mengganggu kesehatan jiwa.

Apa yang harus dilakukan oleh orang tua? Sebaiknya orang tua tidak langsung mengambil tindakan sepihak kepada anak-anaknya. Seorang anak yang sejak kecil sudah merasa tidak nyaman dengan tubuhnya, bukanlah hal yang bisa dianggap enteng. Pahami dulu konsep SOGIE dan hubungannya dengan tumbuh kembang anak. Tetap hargai anak untuk menjadi dirinya sendiri, misalnya dalam menggunakan gender pronoun. Bagaimana jika anak ingin melakukan transisi? Sebaiknya proses transisi tersebut dikawal dengan baik, karena peran orang tua dalam dukungan masa transisi sangat besar pengaruhnya.

Jika semua orang tua mau belajar SOGIE, tidak akan ada lagi bentuk-bentuk kekerasan verbal pada transgender muda. Tidak ada lagi correctional forces yang membuat transgender muda tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Dengan begitu, anak-anak transgender akan tetap bisa berkarya seperti anak-anak lainnya. Ayo belajar SOGIE untuk generasi yang lebih baik!


Oleh: Abhipraya Ardiansyah
Thursday, June 25, 2015

Kalau Transman Rumpi di "Confessions of a Trans-dodol-ic (COT)"

Mencolok banget sih liat tiga huruf besar “C O T” ada di sampul bukunya. Sok-sok misterius gimana gitu, hahaha. Tapi jadi lebih menarik nih pas ngelirik tulisan yang ada dibawah judul utama, “confessions of a trans-dodol-ic”. Pengakuan “trans-dodol”? Atau lebih tepatnya curhatan trans-dodol kali ya… Atau lebih cucoknya rumpi-an trans-dodol kali ah… Oke, forget it. Whatever the title was, it’s still mysterious. 

Dari judulnya sih emang bikin penasaran buat orang-orang yang pertama kali baca. Pasti ngajak yang baca kepo, terutama karena pengen tau apa sih arti dari “trans-dodol”. Waktu gue iseng ngebalikkin buku ini ke sampul bagian belakang, gue baca sebuah kutipan tulisan yang sangat menarik. Apa yaaa? Coba deh baca sendiri biar nggak penasaran. Tapi, dahsyatnya ini penulis, lagi-lagi pembaca bakal dibikin penasaran tentang isi buku ini. Menurut gue, kita sebagai pembaca bakal ngeliat gimana seorang transman menceritakan metamorfosa kehidupannya, terutama masa lalunya. (cieeee…)

Nah, buku COT ini adalah sebuah mahakarya cucok rumpi penulisnya, Erky. Erky membuang-buang waktunya dengan penuh suka cita buat nulis sendiri kisah hidupnya yang ‘dodol’. Menurut gue, masih sangat bisa dihitung jari sih seorang transgender itu sendiri yang menuliskan kisah hidupnya (bahkan sampai dijadiin buku!) untuk bisa dijadiin bahan inspirasi atau pelajaran buat pembacanya. Erky jago sih merangkai banyak kata yang bikin gue kebawa mesin waktu ke cerita masa lampaunya doi (cie elaaah). Gue sebagai orang awam sadar banget kalau hidup dengan orientasi dan ekspresi yang anti-mainstream bukanlah hal yang mudah. Tapi, every cloud has its silver lining, kan? Sebagai pembaca, gue bisa melihat bagaimana penulis bener-bener nikmatin hidupnya sebagai “lesbian” sampai gimana doi merasa bahwa dia adalah laki-laki, seorang “transboy”.

Karena novel ini ringan banget semacam teenlit yang bisa lo temuin di toko-toko buku, gue menyarankan kalian baca novel ini di waktu santai. Pas lo galau, lo baca novel ini bisa nangis Bombay. Pas lo hepi, lo baca novel ini bisa ketawa kaya pasien RSJ. Pas lo lagi jatuh cinta, lo baca novel ini bisa dapet inspirasi gimana caranya jadi playboy kelas paus (nah loh!). Pokoke pas dan lengkap. Tapi, jangan kaget kalo pas lo baca buku ini lo menemukan si penulis asik banget mengumpat dan mencaci maki orang. Bukan berarti jelek kok, ungkapan yang santai bahkan nyeleneh ini jadi kaya bentuk cetak dari diary kehidupan si penulis. Mungkin ini cara Erky buat melakukan branding terhadap novelnya. Di satu sisi gue melihat Erky seakan menggambarkan bahwa “hidup ini rese dan gue bisa melalui semua”. Bahasa nyeleneh khas anak muda lebih mudah menjangkau pembaca di kelompok umur muda juga. Yang terpenting dari novel ini adalah, penulis menikmati banget setiap kata atau ungkapan yang diketik buat nyeritain lika-liku kehidupannya.

Nah, makin penasaran nggak sih sama novel ini? Udahlah mending sekarang samperin si Erky buat minta (eh beli :p) novel yang tersedia dalam bentuk soft dan hard copy ini. Nggak ada salahnya kan kita meluangkan sedikit waktu kita buat nikmatin hasil karya teman kita yang berani dan berjuang banget buat mencetak hasil karyanya agar dinikmati oleh orang-orang disekitarnya. Seperti ungkapan penulis soal kehidupannya, “…for me, life is like a puzzle…masih ngacak, nggak ada framenya, dan nggak tau bakalan jadi gambar segede apa. Kalo mau tau, ya lo harus sabar nyusun kepingan-kepingan itu.” Erky merasa bangga dengan identitasnya.


Oleh: Fira
Wednesday, June 10, 2015

Seberapa Pentingkah Kepercayaan?

“I know it hurts so much but it’s best for us. Somewhere along this windy road we lost the trust.” (Usher – Separated)

Sobat Bronis tahu kutipan lagu di atas? Lagu ini menceritakan tentang pasangan yang harus berpisah karena tidak adanya kecocokan dan keharmonisan dalam hubungannya lagi. Kutipan di atas menyebutkan salah satu bentuk ketidakcocokan yang menjadi faktor pemicu berakhirnya sebuah hubungan. Trust (kepercayaan).

Sebuah relasi terdiri dari dua orang. Maka, idealnya segala sesuatu harus diputuskan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Memulai hubungan saja sudah merupakan bentuk kesepakatan. Apalagi kalau pasangan tersebut berkomitmen untuk menjalin hubungan yang serius. Tentunya kita akan menemukan berbagai guncangan dalam relasi, tidak memandang apapun orientasi seksual kita. Oleh karena itu, kepercayaan menjadi pondasi yang dapat menentukan seberapa kuat sebuah relasi.

Membangun kepercayaan terhadap pasangan tidaklah mudah. Lagi-lagi, ini membutuhkan effort dari kedua belah pihak, bukan dari satu pihak semata. Hal pertama yang harus kita ketahui adalah hubungan seperti apa yang kita dan pasangan kita butuhkan. Buat apa menjalani relasi kalau kita merasa tidak nyaman di dalamnya? Jujur dan saling terbuka pada pasangan tentang berbagai hal yang menyangkut relasi sangat penting, sobat Bronis. Karena dari situ kita dapat menciptakan batasan-batasan yang harus disepakati dalam hubungan. Misalnya, sampai sejauh apa pasangan dapat mempengaruhi keputusan pribadi kita. Atau sejauh apa kita boleh berhubungan personal dengan orang selain pasangan kita. Kita juga harus sadar bahwa masing-masing individu dalam relasi memiliki hak untuk mengembangkan dirinya.

Kemudian, tahap berikutnya adalah membangun kepercayaan. Kita harus yakin bahwa kita dan pasangan telah sama-sama memilih orang yang tepat. Maka, syukuri keadaan itu dengan cara saling mematuhi batasan-batasan yang disepakati. Kesepakatan tersebut secara langsung kita buat untuk saling menjaga kenyamanan kita dan pasangan. Kenyamanan dan kebahagiaan dalam sebuah relasi pun bukanlah hal yang mudah dicari. Apakah kita akan menyia-nyiakannya setelah susah payah mendapatkannya? Pikir lagi, sobat Bronis!

Tahap yang cukup sulit dilakukan adalah menjaga kepercayaan. Berbagai godaan, halangan, dan masalah pasti akan menimpa sebuah hubungan, sekecil apapun itu. Namun, kita harus kembali lagi pada komitmen yang sudah dibangun bersama pasangan sejak awal. Kita juga harus meyakinkan diri bahwa pasangan kita juga sedang berjuang untuk menjaga kepercayaan kita. Maka, refleksi dibutuhkan. Bagaimana perasaan kita jika pasangan kita mengkhianati kepercayaan yang telah dibangun? Tentu menyakitkan. Jika itu menyakitkan bagi diri kita, apakah hal itu juga menyakitkan bagi pasangan kita? Berpikirlah dari dua sisi.

Karena pentingnya trust, maka ia menjadi sangat sulit dikembalikan ketika sudah hancur. Ibarat kaca yang sudah pecah, setelah kepingannya disatukan belum tentu dapat sesempurna seperti sediakala. Saat pasangan sobat Bronis ketahuan selingkuh, mungkin awalnya sobat Bronis dapat memaafkannya. Tetapi, akan datang perasaan insecure yang dapat menyebabkan efek domino. Misalnya, menjadi posesif atau malah menjadi kurang percaya diri karena ada sosok lain yang menyaingi.

Kepercayaan adalah bentuk kedewasaan dalam menjalani komitmen, dan hal itu mencakup segala aspek dalam kehidupan. Jika sobat Bronis memang mencintai pasangan, apakah sobat Bronis akan tega menyakiti hatinya? Begitu juga sebaliknya. Because, there’s no relationship without trust.


Oleh: Abhipraya Ardiansyah
Friday, June 5, 2015

Malu Berbulu

Masa-masa puberitas merupakan waktu yang tidak akan pernah terlupakan. Eksperimentasi seksual, mimpi basah, masturbasi pertama, rasanya baru saja terjadi kemarin. Keingintahuan terhadap apapun berbau seksualitas mulai mencetus niat berpetualangan dan periode ini mengingatkan saya pada sesuatu yang lucu, dan pastinya memalukan. Bulu.    

Pada tahun 2000an, internet masih belum semaju sekarang dan internet merupakan sebuah wacana ‘terkini’ untuk mendapatkan informasi seksual. (Ketara dong bagaimana edukasi seksual Indonesia, sampai-sampai kebanyakan dari kita harus beralih ke internet!). Saya ingat akan sebuah kata kunci, atau kata jorok yang sering digunakan oleh teman-teman sekolah; jembut. Kata yang digunakan untuk memanggil rambut di sekitaran alat kelamin menjadi sesuatu yang berharga karena tidak hanya ia mulai bertumbuhan, tetapi juga menjadi ajang prestasi kedewasaan. Kuriositas saya pun membuat jari-jari mencoba untuk mengetik kata-kata tersebut dalam search engine Yahoo. Tetapi ketika saya ingin mengetahui lebih lagi, ternyata saya tidak paham atas terjemahan kata tersebut ke bahasa Inggris. Beralihlah petualangan online tersebut ke mIRC dan dalam proses mencoba mencari jawaban, saya terus bertanya kepada beberapa orang dibalik layar komputer mereka, how do you call the feathers around your penis?    

Sampai saat ini, bulu menjadi sebuah kata yang membuat saya tersenyum malu. Selebihnya, saya juga dibesarkan dikalangan orang-orang yang tidak membicarakan bulu atau rambut tubuh. Bahkan ketika F4, boyband Taiwan yang sangat hits dengan serial mereka Meteor Garden pada tahun 2001, tampil di salah satu music video mereka, saya sempat mendengar ejekan penonton atas bulu ketiak yang terlihat karena baju rompi tanpa lengan yang mereka pakai. Oleh sebab itu, bulu bukanlah sebuah kata positif sampai-sampai terdengar menjijikan. Namun ketika saya beranjak dewasa, atau setidaknya lebih tua, saya mengetahui bahwa semua orang memiliki rambut yang tumbuh pada badan mereka, terlebih lagi laki-laki. Bahkan memiliki rambut di dada, misalnya, merupakan salah satu simbol kejantanan. Sayapun sempat tersihir dengan eksistensi hairy men yang mendominasi gay porn dan Hollywood scene pada pertengahan dekade pertama abad ke 21.    

Namun setelah kita beranjak ke dekade kedua tahun 2000, banyak yang mulai mengamati ketiadaan bulu pada tubuh-tubuh maskulin ideal. Aktor pornografi mulai terlihat mulus yang hanya ditemani dengan jembut yang digunting rapih yang terlihat jelas misalnya pada aktor Bel Ami, Sean Cody, atau Corbin Fisher (bahkan pubic hair merekapun terhapus rapi). Pemain film laga menggantikan pertumbuhan rambut mereka dengan otot besar yang dilapisi minyak sehingga mengkilap. Laki-laki berbulu malah menjadi bahan ejekan, seperti yang Alex Bilmes contohkan pada film berjudul The 40-Year Old Virgin, dibintangi Steve Carrell. Adegan ketika si karakter pergi ke salon untuk menghilangkan bulu dadanya menjadi sebuah adengan komik. Selebihnya, menurut Bilmes, ini menjadi sebuah contoh perilaku laki-laki dalam merepresentasikan tubuh mereka untuk menjadi figur idaman.    

Manscaping, atau proses memperindah tubuh (salah satunya dengan penghilangan bulu badan) menjadi salah satu rumus spornoseksual, sebuah metroseksual tingat dewa dimana laki-laki mengambil inspirasi tubuh dari olah ragawan (sportsmen) dan aktor pornografi. Berbagai nama model terkenal berasal dari pemain sepak bola dan model-model Abercombie&Fitch yang bertelanjang dada (tanpa bulu tentunya) yang dipamerkan di retail mereka seakan sesuatu yang dapat dibeli. Tidak secara langsung dengan uang tetapi tercuci otaknya para konsumen untuk terlihat seperti mereka. Seakan-akan otot dan six packs tidak berteman baik dengan bulu dada.    

Mempercantik diri bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi jika dilakukan secara terpaksa untuk mencapai hegemonis sosial, itu menjadi masalah. Di artikel pendeknya, Noah Brand melihat trend dimana bentuk tubuh maskulin yang di seksualisasikan dalam blockbuster Hollywood memiliki satu kesamaan. Tanpa bulu. Chris Evans misalnya, aktor dibelakang karakter favorit Captain America tampil putih pucat seperti bayi dibandingkan dengan bentuk tubuh biasanya yang berbulu dada. Gerald Butler sebagai raja Leonidas dan seluruh pejuang Spartanya di film 300 memastikan kepada kita para konsumen kultur popular bahwa laki-laki macho tidak berbulu. Berbeda sekali dengan pertengah 1990s, misalnya pada film 007 berjudul From Russia with Love tahun 1963. Dibintangi Sean Connery sebagai James Bond, sang aktor tampil gagah berbulu dada lebat sedangkan pada Casino Royale di tahun 2006, Daniel Craig tampil mulus di salah satu adegan seksual dimana sang maskulin dengan slow motion muncul dari bawah ombak pantai.    

Pencukuran bulu tubuh merupakan aksi yang disengaja dan para aktorpun sadar atas proses ini. Dalam beberapa dokumentasi pembuatan film pornografi gay, adegan pencukuran jembut sering ditontonkan sebagai proses penting dalam perfilman biru. Rambut disekitar daerah pubik tidak hanya dicukur tetapi terkadang ditata rapi dan di-style secara cantik. Ada pergeseran image dimana pertumbuhan natural dianggap tidak diinginkan dan patut diganti oleh sesuatu yang bersifat sementara. Hal ini juga sering dikaitkan dengan konsep ageism, yaitu sikap diskriminatif dalam basis umur. Lelaki tidak berbulu dianggap muda dan sehat sehingga menimbulkan sikap repulsive terhadap yang sebaliknya, yakni laki-laki berumur, atau tua.    

Di sisi lainnya, laki-laki berbulu, seperti halnya Steve Carrell di The 40-Year Old Virgin, sering menjadi bahan lelucon. Brand mengambil contoh Borat, film komedi tahun 2006 yang dibintangi Sacha Baron Cohen. Lelaki dengan bulu badan menjadi sangat tidak menarik, dipotretkan sebagai menjijikkan bahkan menjadi gambaran status sosial rendah, seperti Jason Momoa di serial Game of Throne yang memainkan peran orang liar atau budak. Masih banyak lagi contoh-contoh dimana laki-laki berbulu diasosiasikan dengan berat badan, obesitas, kemiskinan dan badut cerita.    

Kita sebagai orang Indonesia, ataupun juga di sekitaran Asia dan Asia Tenggara, memang secara biologis tidak memiliki banyak rambut yang tumbuh di badan. Namun begitu, trend mencukur badan (apalagi daerah pubik) sudah menjadi sebuah keharusan untuk tampil lebih menarik dan idaman. Jika alasan kita mencukur terlebih dari higenis atau alasan kesehatan lainnya, mungkin saatnya kita melihat kembali seberapa tulus kita menginginkan tubuh mulus, atau hanya sekedar mengikuti gaya hidup populer sejenak.    

Selebihnya dari preferensi individu, mengikuti saran Bilmes dan Brand, scenario ini juga dapat menyimpulkan bahawa tubuh maskulin sudah diseksualisasikan mirip dengan tubuh feminin selama ini. Menurut saya, ini tidak sepenuhnya hal yang buruk. Para feminist sudah bertahun-tahun memperjuangkan perlakuan yang sama terhadap tubuh maskulin yang sudah dialami tubuh perempuan. Memang bukan solusi yang tepat, tetapi dengan konteks seksual yang mulai cenderung kuat dalam potret dada datar dan bahu lebar, ini dapat membuat para laki-laki mempertanyakan kembali konteks gender mereka pada masa kontemporer ini. Sehingga, mungkin mereka bisa meretrospeksi perilaku dan persepsi, sengaja ataupun tidak, atas para wanita. Ini bisa dijadikan sebagai solusi diskriminatif gender dan juga pemahaman orientasi dan preferensi seksual dalam jangka panjang.    

Kultur populer memang sudah menebar bibit mereka secara mendalam dan meluas di benak masyarakat sekarang sehingga naïf jika kita mengharapkan perubahan ekstrim. Namun, kita bisa menyaring konteks-konteks gender dan seksualitas yang terdengar lebih sehat ataupun lebih relevan dan berguna dalam mencoba untuk memenuhi hidup yang jujur, setidaknya pada diri sendiri. Jika kita bisa mencuci mata ketika menonton film Avengers atau Magic Mike, kenapa tidak? Jika kita bisa mengaggumi dan terinspirasi secara positif ketika melewati poster raksasa Armani Xchange atau Calvin Klein, kenapa tidak? Mungkin kita bisa menyaring informasi yang kita serap dari gambar-gambar komersil tersebut agar kata bulu tidak menggelitik malu di hati.            

Sumber:  
Sexualization of the Male Body on Film, Noah Brand, Good Men Project, 2013  When Did Male Body Hair Become A Bad Thing?, Alex Bilmes, The Guardian, 2014


Oleh: Kelvin Atmadibrata
Wednesday, June 3, 2015

Mengupas Seksualitas Anak Muda Dalam “Youth Talkshow 2015”

Masih dalam rangkaian agenda Kompetisi Nasional Dialog Muda, GWL-Muda, Hivos, dan Pamflet menyelenggarakan Youth Talkshow 2015. Bertempat di Artotel Thamrin, Jakarta pada Sabtu, 30 Mei 2015. Acara ini dihadiri oleh sekitar 50 anak muda yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, komunitas, dan identitas seksual.

Sasaran dari kegiatan ini adalah anak muda berusia 15-24 tahun, terutama mereka yang masih kurang paham dengan isu seksualitas. Kita sendiri tahu kalau isu ini masih dianggap tabu untuk diperbincangkan. Untuk itu, Youth Talkshow mengundang pembicara-pembicara ahli dengan perspektif keberagaman yang dikemas dalam 2 sesi utama. Peserta pun bebas bertanya mengenai hal-hal yang belum jelas terkait dengan tema diskusinya.

Kegiatan diawali oleh sambutan Tazia dari Hivos, selaku Koordinator Nasional Dialog Muda. Dalam sambutan ini dijelaskan tentang latar belakang diselenggarakannya acara Youth Talkshow sebagai rangkaian dari kegiatan Kompetisi Nasional Dialog Muda 2015. Selanjutnya adalah sambutan dari staf Kemenpora selaku stakeholder yang diundang untuk mendengarkan suara anak muda dalam diskusi tersebut. Kegitan pun dilanjutkan dengan pemutaran film “Silent” garapan Sidi Saleh, yaitu film yang diadaptasi dari karya terpilih pada Kompetisi Dialog Muda Tahun 2014.

Sesi diskusi pertama pun dimulai. Sesi ini bertemakan Sexual Rights and Diversity. Sesi ini dimoderatori oleh Tunggal Pawestri dari Hivos. Narasumber untuk sesi ini adalah Ayu Regina Yolandasari, Steven Suleeman, dan Guntur Romli. Dalam sesi ini, narasumber membawakan paparan singkat tentang SOGIEB dan perpektif agama Islam dan Katholik. Peserta sangat antusias dalam sesi ini, terutama mereka-mereka yang masih belum memiliki pemahaman tentang homoseksual. Sesi ini diakhiri dengan break makan siang.

Setelah break selama 45 menit, peserta kembali masuk ke dalam ruangan untuk mengikuti sesi berikutnya. Acara dilanjutkan dengan pemutaran film pendek “Selamat Menempuh Hidup Baru” karya Dinda Kanya Dewi. Film ini menjadi pengantar untuk sesi berikutnya, yaitu Sexual Risk Behavior. Moderator di sesi ini adalah Dyana Savina Hutadjulu, dengan narasumber Kartika Jahja, Ayu Oktarina, dan KH. Maman Imanul Haq. Sesi ini berbicara tentang kekerasan seksual dan beberapa perilaku seksual berisiko. Isu HIV pun kembali muncul. Peserta juga masih seantusias sesi sebelumnya. Karena moderator dan narasumber dapat mengemas diskusi secara santai dan mengupas dengan gamblang hal-hal yang masih dianggap tabu.

20 besar pemenang Kompetisi Kreatif Dialog Muda 2015

Sesi dilanjutkan dengan testimoni dari beberapa juri Dialog Muda yang hadir. Dari 28 juri, hanya 3 orang yang hadir pada Youth Talkshow, yaitu Adhitya Dwi Prananta, Andi Gunawan, dan Dyana Savina Hutadjulu. Menurut mereka, perlu ada wadah seperti Dialog Muda agar anak muda mampu menyuarakan perspektif mereka. Selanjutnya adalah acara yang paling ditunggu-tunggu, yaitu penyerahan sertifikat bagi 20 besar pemenang dan hadiah bagi 1 pemenang karya adaptasi film dan 3 pemenang utama. Acara ditutup dengan penampilan dari Classmate Journal yang menghibur seluruh peserta.


Oleh: Abhipraya Ardiansyah

- Copyright © BrondongManis -