Sabtu, 25 Mei 2013

MENGETAHUI ORIENTASI SEKSUAL DARI REMAJA


Saya ini gay atau bukan? Suatu saat, bisa berubah kan? Kalau sudah pernah berhubungan seks dengan sesaama jenis, berarti saya homoseksual? Saya rasa saya biseksual karena saya pacaran sama cewek, tapi saya juga suka sama cowok. Sepertinya, banyak sobat bronis yang punya pertanyaan dan pernyataan seperti itu. Fase remaja memang fase dimana kita mempertanyakan dan penasaran akan banyak hal. Maka, remaja itu sering mengeksplorasi dan bereksperimen dengan berbagai hal. Untuk itu, saat sedang mencari tahu tentang orientasi seksual sobat bronis, ketahuilah hal berikut.

Canadian Pediatric Society menjelaskan bahwa orientasi seksual itu bukan diagnosis, melainkan ketertarikan fisik dan psikis kepada seseorang yang bisa jadi sama atau berbeda jenis kelamin. Namun, melakukan kegiatan yang mengarah pada keintiman, seperti berpegangan tangan, hingga kegiatan seksual tidak menjadi ukuran dalam menilai orientasi seksual. Jadi, yang ditekankan adalah ketertarikannya.  Seseorang bisa tertarik dengan orang yang berjenis kelamin sama, tapi melakukan kegiatan yang intim dengan orang yang berjenis kelamin berbeda.

Gunakan waktu sobat bronis untuk mengenali ketertarikan sobat bronis, tapi jangan gunakan waktu tersebut untuk menghakimi siapa pun, terutama diri sendiri, atas dasar orientasi seksualnya. Kalau sobat bronis menemukan diri sobat bronis atau teman-teman sobat bronis memiliki ketertarikan kepada orang yang berjenis kelamin sama, ingatlah bahwa homoseksual bukan merupakan kelainan atau gangguan jiwa. American Psychiatric Association telah menghapusnya sejak lama.

Selamat bereksplorasi dan hati-hati!


(Ditulis oleh Satrio Nindyo Istiko. Mau ngobrol tentang film-film LGBT? Silakan mampir ke The Outsider di www.outsideroutsider.com)

Jumat, 24 Mei 2013

Having Sex, Jangan Malas Lakukan Ini!



Bronis, bagi kamu yang aktif secara seksual pasti terbiasa dong melakukan hubungan seksual. Hubungan seksual  bisa dilakukan di mana dan kapan aja, asalkan kamu dan pasangan sama-sama menyepakatinya. Meskipun begitu, seringkali banyak pasangan yang melupakan hal-hal sepele sebelum dan sesudah having sex. Hal-hal sepele itu dilupakan karena kamu atau pasangan malas melakukannya. Tapi, jangan salah kira, berawal dari malas melakukannya, bisa jadi hal tersebut justru berisiko bagi kamu sendiri dan pasangan! Berikut hal-hal sepele yang dimaksud:

1.    Menyediakan kondom
Having sex memang tidak selalu direncanakan. Bisa jadi kamu atau pasangan tiba-tiba turn on dan tergoda buat having sex secara spontan. Tapi, di saat-saat dadakan seperti itu, biasanya kamu atau pasangan malas untuk menyediakan kondom. Apalagi jika situasi tidak memungkinkan untuk mencari kondom, seperti cuaca di luar hujan atau sulitnya mencari toko yang menjual kondom. Dalam kondisi itu, kamu dan pasangan akan tergoda buat segera ML tanpa harus menggunakan kondom.
Itulah hal sepele yang berisiko besar. Hubungan seksual tanpa kondom menyumbang risiko terbesar dalam penularan infeksi menular seksual (IMS). Maka dari itu, kamu dan pasangan harus memiliki kesadaran untuk tidak berhubungan seksual tanpa kondom. Jika sama sekali tidak dapat menyediakan kondom, ajak pasangan untuk tetap have fun tanpa harus ada kontak alat kelamin, seperti petting atau masturbasi bersama. Sebaiknya, selalu sediakan kondom untuk mengantisipasi jika kamu dan pasangan punya keinginan untuk melakukan hubungan badan. Tapi hati-hati, simpanlah kondom di tempat aman yang biasa kamu gunakan untuk menaruh barang pribadi.

2.    Menyediakan pelumas
Hal sepele lainnya adalah malasnya kamu atau pasangan untuk menyediakan pelumas untuk seks anal. Banyak pasangan yang menyepelekan penggunaan pelumas karena merasa malu untuk membeli atau sulit mencari toko yang menjual pelumas. Mereka merasa cukup menggunakan air liur (ludah) sebagai pelumas saat melakukan seks anal. Padahal mulut adalah tempat berkumpulnya bakteri dan kuman, termasuk dalam saliva (air liur) yang dihasilkan. Apalagi, jika mulut dalam kondisi tidak sehat, seperti sariawan atau luka, risiko penggunaan air liur sebagai pelumas pun lebih besar. Mikroorganisme yang terdapat dalam air liur pada mulut yang sehat memang cenderung normal. Akan tetapi, lebih baik jika kamu dan pasangan memiliki kesadaran untuk lebih memilih pelumas khusus untuk hubungan seksual saat melakukan seks anal.

3.    Membersihkan diri sebelum dan sesudah berhubungan
Hubungan seksual adalah aktivitas yang menyenangkan. Jangan sampai kamu atau pasangan tidak dapat menikmatinya karena malas membersihkan diri sebelum melakukannya. Perhatikan kebersihan diri, terutama pada organ vital. Sebaiknya, mandi terlebih dahulu agar badan terasa harum dan segar. Jika pasangan malas, kamu bisa menggodanya untuk mau menemani kamu bermain-main air dan sabun bersama. Asyik, kan?
 Kemudian, banyak pasangan yang malas melakukan apa-apa setelah hubungan seksual. Apalagi jika dilakukan di malam hari, banyak orang lebih memilih tidur langsung tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Ini juga merupakan hal sepele yang biasa dilupakan. Padahal, saat berhubungan seksual, kamu dan pasangan melakukan kontak fisik, baik dari alat kelamin, dubur, hingga mulut. Itu artinya, telah terjadi transfer bakteri dari satu tubuh ke tubuh lain. Apalagi selepas berhubungan seksual, mungkin ada sisa-sisa sperma yang menempel di tubuh sehingga harus segera dibersihkan. Maka dari itu, jangan malas membersihkan diri setelah ML. Jika kondisi tubuh bersih, kamu dan pasangan pun dapat melakukan hal lain dengan nyaman.

4.    Membersihkan tempat

Yang tidak kalah penting saat melakukan hubungan seksual adalah kebersihan tempat yang kamu gunakan. Jika dilakukan di kamar, sebaiknya selalu bersihkan kamar sebelum dan sesudah having sex. Kamar dan tempat tidur yang bersih akan membuat kamu dan pasangan nyaman dan dapat menikmati hubungan seksual lebih lama. Begitu juga setelahnya, jangan biarkan tisu bekas berserakan atau masih ada sisa sperma mengering dan noda bekas pelumas di seprai. Kebersihan lingkungan merupakan cerminan dari kebersihan diri, so jangan malas untuk selalu bersih-bersih, ya! 

(by: Fianisme)

Senin, 13 Mei 2013

Seks Bersih dan Sehat, Yuk!



Bronis, aktivitas seksual adalah hal yang menyenangkan. Apalagi jika dilakukan bersama pasangan dalam keadaan yang nyaman dan tanpa paksaan dari salah satu pihak. Tapi, kamu pasti tahu bahwa ada aktivitas seksual yang berisiko. Hal itu disebabkan hubungan seks tersebut dilakukan dengan cara yang tidak sehat atau berbahaya, misalnya anal seks tanpa kondom, rimming tanpa kondom, atau hubungan seks pada saat salah satu pihak dalam kondisi sakit.

Namun, bukan berarti aktivitas seksual dengan cara-cara yang wajar pun tidak berisiko. Hal tersebut dapat berisiko jika kamu dan pasangan tidak memperhatikan faktor kebersihan diri. Oleh karena itu, untuk mencegahnya, kamu dan pasangan harus memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan diri masing-masing. Selain melakukan perawatan dan menjaga agar kondisi tubuh tetap sehat, kamu juga perlu “akrab” dengan benda bernama antiseptik.

Antiseptik merupakan zat kimia yang digunakan untuk menghancurkan mikroorganisme, seperti bakteri dan kuman-kuman penyebab penyakit pada tubuh manusia. Ada berbagai macam bentuk aktiseptik yang biasa digunakan oleh orang, seperti rivanol dan betadine yang biasa digunakan untuk mengobati luka, alkohol, dan beberapa zat lain yang biasa digunakan untuk mengobati penyakit akibat bakteri. Bagi kamu yang aktif melakukan aktivitas seksual, sebaiknya selalu menyediakan antiseptik dalam perlengkapan perawatan tubuh kamu sehari-hari.

Apa saja bentuk antiseptik yang diperlukan dan kegunaannya dalam mencegah risiko akibat hubungan seksual? Berikut bentuk antiseptik yang bisa kamu pergunakan sehari-hari. Minimal, kamu menggunakannya sebelum atau setelah melakukan aktivitas seksual.

1. Sabun antiseptik
Secara umum, sabun yang biasa digunakan sehari-hari dibedakan menjadi sabun kecantikan dan sabun kesehatan. Sabun kesehatan biasanya berupa sabun antiseptik yang dapat membunuh berbagai kuman penyebab penyakit, termasuk bakteri kulit. Kamu perlu menggunakan sabun antiseptik sebelum atau sesudah melakukan aktivitas seksual, baik saat mandi atau setelah buang air. Bagian yang paling penting untuk “dilindungi” oleh sabun antiseptik terutama tangan, alat kelamin dan area di sekelilingnya, serta dubur dan area sekelilingnya. Apabila organ intim kamu bersih dan higienis, maka risiko akibat hubungan seksual pun dapat dikurangi. 

2. Hand-sanitizer
Bentuk antiseptik ini banyak dijual bebas di pasaran. Hand-sanitizer adalah antiseptik yang digunakan khusus untuk tangan. Fungsinya sama dengan antiseptik lain, yaitu membunuh kuman penyebab penyakit yang berada di tangan. Apalagi tangan merupakan organ tubuh yang rentan terkena bakteri akibat banyak menyentuh berbagai benda dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, transfer bakteri juga mudah terjadi karena banyak tangan banyak melakukan interaksi dengan organ tubuh orang lain, seperti bersalaman dan berpegangan.

Antiseptik ini perlu kamu miliki dan gunakan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas seksual. Tangan yang bersih dan higienis akan mengurangi risiko yang timbul saat berhubungan seksual. Misalnya, pada saat berhubungan seksual, baik secara sadar atau tidak, tangan akan menyentuh bagian-bagian sensitif pada pasangan, seperti menyentuh alat kelamin. Bahkan, jari-jari pun akan ikut aktif memberikan stimulus dengan menyentuh lidah atau bahkan lubang dubur.

3. Larutan antiseptik
Bentuk antiseptik lainnya yang perlu kamu gunakan adalah larutan antiseptik. Larutan ini digunakan melalui oral (mulut). Fungsinya, untuk membunuh kuman penyebab penyakit sekitar mulut dan tenggorokan. Antiseptik ini memiliki banyak kegunaan, seperti membersihkan gigi dan gusi, menyegarkan nafas, dan menjaga kebersihan lidah. Dengan menggunakan antiseptik ini, kamu dapat mengurangi risiko yang timbul saat berciuman dan melakukan seks oral.

Demikian beragam macam bentuk antiseptik yang dapat kamu pergunakan untuk mencegah timbulnya risiko akibat berhubungan seksual. Dengan selalu menggunakan antiseptik ini, maka kamu peduli pada kesehatan diri sendiri dan pasangan. So, keep clean and healthy, bronis!

(by: Fianisme)

Kamu Di-Bully? Nih Strategi untuk Menghadapinya!



Tidak ada padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk kata bully. Jika diterjemahkan, bully sendiri artinya menggertak. Namun, tindakan-tindakan yang termasuk dalam bully itu sendiri tidak bisa dideskripsikan dengan kata menggertak.

Dalam bully, selalu ada ketidakseimbangan kekuatan antara dua pihak, keinginan untuk menyakiti secara fisik atau mental, dan pengulangan. Bully ini sendiri bisa berupa kekerasan fisik, ejekan melalui verbal atau media sosial di internet, ancaman, pengucilan, dan lain-lain.

Salah satu korban dari bully tersebut tentu remaja gay, waria, dan lesbian. Data dari National Youth Association menunjukkan bahwa di Amerika Serikat, 9 dari 10 remaja LGBT menjadi korban bully. Mereka di-bully 2-3 kali lebih sering dibanding remaja heteroseksual.

Akibat dari bully ini pun beragam. Di antaranya, banyak remaja LGBBT mengalami stres sampai depresi. Dampaknya adalah remaja LGBT jadi semakin rentan lagi untuk melakukan tindakan-tindakan yang memiliki resiko kesehatan yang tinggi, seperti merokok, meminum alkohol, menyilet lengan, dan lain-lain. Kondisi ini pun banyak berlanjut menjadi percobaan bunuh diri. Semua ini karena terbunuhnya rasa percaya diri secara perlahan-lahan sehingga merasa rendah diri dan berakhir tidak bisa menghargai dirinya seta hidupnya sendiri.

Oleh karena itu, ada baiknya sobat bronis memahami strategi untuk menghadapi bully berikut ini:
  1. Hindari para pelakunya. Kalau bisa tidak berpapasan dengan mereka, itu hal yang bagus. Kalau terpaksa berpapasan, hindari kontak mata. Kalau terpaksa berpapasan dan kontak mata, tetap bersikap biasa sambil menghindari dari mereka. Yang mereka inginkan adalah ekspresi malu dan tidak percaya diri dari kamu. Hindari memberikan itu kepada mereka!
  2. Acuhkan para pelaku ketika mereka masih sebatas mengejek secara verbal atau melalui media sosial. Ketika intensitas sudah mulai meningkat, tidak ada salahnya kamu menggunakan teknologi untuk merekam atau mengambil foto bukti ejekan mereka. Tentu, tanpa menyulut perhatian mereka. Barang bukti ini bisa membantu kamu sewaktu-waktu jika dibutuhkan.
  3. Jaga kepercayaan diri kamu. Ketika bully terhadap diri kamu sudah mulai membuat kamu stres dan merasa rendah diri, ceritalah kepada orang tua, kakak, dan teman. Tidak ada salahnya juga kamu bercerita kepada guru atau dosen yang bisa kamu percaya. Apapun yang mereka katakan kepada kamu, jangan merasa kamu lebih rendah dari mereka.
  4. Jika kamu bisa, ubah ejekannya menjadi lelucon. Apa yang dianggap sebagai kekurangan bisa menjadi sebuah anugerah. Apa yang dianggap kelebihan bisa menjadi sebuah malapetaka. Semua tergantung sudut pandang. Jadi, jangan ragu untuk mengubah apa yang dianggap buruk menjadi sesuatu yang dianggap lucu, bahkan unik.
  5. Laporkan ke orang tua, sekolah, kampus, atau bahkan pihak berwajib jika tindakan bully sudah keterlaluan. Contohnya, jika mulai ada tindakan fisik, seperti mendorong, meludah, memukul, dan lain-lain. Bisa juga berupa tindakan meminta uang secara paksa, mengerjai tempat duduk/tas/makanan, atau bahkan menculik.


Intinya, sobat bronis pasti bisa menghadapi bully ini tanpa melakukan bully lagi. Tunjukkan bahwa orientasi seksual yang mereka rendahkan tidak menghalangi siapa pun untuk bisa bersikap jauh lebih baik dari yang mereka lakukan.

Semoga strategi di atas bisa membantu sobat bronis. Tetap semangat!

(Ditulis oleh Satrio Nindyo Istiko. Mau ngobrol tentang film-film LGBT? Silakan mampir ke The Outsider di www.outsideroutsider.com)